Minggu, 27 November 2016

Maiyahan Lagi

suasana maiyahan di alun-alun Boyolali

Gerimis tipis menyelimuti alun-alun Boyolali. Meski hujan tak kunjung reda, tak ada satu orang pun yang beranjak dari tempat duduknya. 

Bahkan, ada orangtua yang turut membawa anaknya yang masih kecil, tidak segera beranjak meski kondisi masih gerimis tipis. Saya yang sebenarnya membawa jas hujan plastik. Namun, sengaja tidak saya keluarkan karena ingin ikut merasakan gerimis tipis yang semakin malam, semakin dingin itu.

Saya duduk membaur dengan anggota Polri yang turut serta dalam Boyolali mengaji ngangsu tepo sliro bersama Cak Nun dan Kiai Kanjeng. Sebenarnya saya berencana untuk menghadiri pengajian tersebut dengan teman kuliah, yang kini menjadi CEO sebuah online shop @gildansoc. Namun, tiba-tiba ia mengabari bahwa ia tidak bisa hadir karena di daerah tempat tinggalnya hujan deras.

Malam itu adalah kali ketiga saya ngalap berkah dengan menghadiri pengajian dari seseorang yang begitu dikagumi banyak orang karena pemikiran-pemikirannya

Sambil duduk menunggu Cak Nun dan Kiai Kanjeng naik ke atas panggung. Saya ngobrol-ngobrol dengan seorang bapak yang turut serta membawa anaknya ikut serta mendengarkan ilmu-ilmu dari Cak Nun. Seorang warga Musuk, Boyolali yang dengan ramah menceritakan tentang kehidupannya di desa. Hidup dari hasil pertanian dan peternakan untuk mencukupi kehidupannya sehari-hari.

Cak Nun dan Kiai Kanjeng mulai naik ke panggung beserta Wakil Bupati dan jajarannya. Turut hadir juga berbagai tokoh agama dari Islam, Kristen dan Katolik. Hal itu seakan menunjukan bahwa, masih ada toleransi antar umat beragama di Boyolali. Karena perbedaan itu, bisa disatukan dalam satu tiang bernama NKRI.

Acara di awali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dilanjutkan dengan lagu Syukur. Dan semua jamaah pun diminta untuk berdiri. Karena ingin khusyuk ngangsu ilmu, saya masukan handphone ke dalam plastik dan saya simpan dalam tas kecil yang biasa saya bawa ketika bepergian.

Saya tidak akan menceritakan dengan detail tentang apa saja yang di sampaikan dalam Boyolali mengaji malam itu. Karena hasil reportase lengkapnya sudah di posting di website caknun.com. Silakan dibaca dan diresapi sendiri.

Ada banyak alasan kenapa saya merasa harus menghadiri pengajian tersebut. Padahal, sebelumnya saya berencana menghadiri gathering komunitas anak bawang Solo, serta peluncuran buku permainan tradisional-nya Mba Diah. Saya sudah meminta Mba Diah untuk menuliskan keseruan malam itu, agar bisa dipajang di lobimesen.com.  Semoga minggu ini tulisane jadi dan bisa dinikmati. Karena saya harus pamit dan memilih menghadiri kajian di alun-alun Boyolali.

Ada kegelisahan yang saya alami. Dan mengikuti kajian dari Cak Nun setidaknya mampu mengurai sedikit kegelisahan yang saya alami. Karena saya mampu membuka kembali pikiran saya yang sudah diracuni dengan kebencian-kebencian akan sesuatu. 

Kita sekarang mudah menemukan kebencian. Karena kebencian itu hadir dimana-mana, apalagi di media sosial. Ketika ada yang berbeda pendapat atau tidak satu pemahaman, dengan mudah cangkem ini jeplak "sesat", "kafir" dan segala pisuhan yang menurut saya tidak ber-etika. Apalagi segala kebencian dan pisuhan itu ditujukan kepada seorang sesepuh yang secara keilmuan lebih tinggi dari kita. Menyedihkan!

Puncak dari malam itu. Sebelum lagu berjudul "kemesraan" yang dinyanyikan secara bersama-sama untuk mengakhiri acara malam itu. Dan sebelumnya, setiap pemuka agama diberi kesempatan untuk berdoa untuk keutuhan Indonesia. Baik dari pemuka agama Islam, Kristen, serta Katholik.