Minggu, 13 November 2016

Mental "Embuh"

Di grup wasap yang saya ikuti, ada seorang kawan yang melontarkan pertanyaan, "Memberi tips kepada tukang ojek itu baik nggak? Dan apa hal itu mampu membentuk mental yang tidak baik?"

Saya kala itu segera merespon pertanyaan kawan saya tersebut. "Kondisional. Ada saat dimana kita memberikan tips karena kita merasa perlu untuk memberikan bayaran yang lebih" begitu kira-kira balasan dari saya.

Kenapa kondisional? Saya berkaca pada pengalaman seorang teman. Waktu itu ia sedang ingin makan pizza. Berbekal salah satu fitur dari aplikasi gojek di handphone android miliknya, yaitu: go-food. Ia memesan di salah satu kedai pizza di Solo via gojek. Padahal rumah teman saya tersebut di daerah Klaten. Butuh sekitar 45 menit-an pesanan sampai di tempatnya. Padahal awalnya ia juga ragu, bakal ada driver gojek yang mau menerima order tersebut. Namun ternyata, ada driver gojek yang menerima order tersebut, dengan biaya jasa antar sekitar 30rb an. 

Di aplikasi gojek ada gps untuk memantau pesanan kita. Nah, pada waktu itu, terjadi hujan deras banget. Dari aplikasi gps, nampak driver gojek sempat berhenti di suatu tempat. Mungkin berteduh sebentar. Atau bisa jadi menepi sebentar untuk memakai jas hujan terlebih dahulu agar pizza pesanan teman saya diterima dalam kondisi baik.

Tak lama lama berselang, dan di luar masih dalam keadaan hujan deras. Ada telpon masuk di handphone teman saya. Ternyata telpon tersebut dari driver gojek yang sudah berada di depan rumahnya. 

Teman saya sengaja membayar semua, yaitu uang untuk bayar pizza pesanan, serta jasa pengiriman pizza tersebut dengan uang lebih. "Sisanya buat Bapak saja, soalnya uda sampai hujan-hujan"

Menurut cerita teman saya tersebut, sisa pembayarannya mungkin sekitar 10rb an. Dan ia ikhlas memberikan uang sisa itu. "Kalo dia sampai sakit, ke dokter aja 50rb, bro" kata teman saya saat menceritakan hal tersebut.

Dan karena cerita dari kawan saya tersebut. Saya menyimpulkan bahwa ada saatnya kita membayar uang lebih, atau uang tips atas kinerja seseorang.
***

Di lain kesempatan. Saya bertemu dengan seseorang yang sedikit gapleki. Cerita ini baru saja saya alami tempo hari. Saat di kantor tempat saya bekerja mengadakan training outbond di kawasan agrowisata di Salatiga. Karena peserta hampir 100 orang, kami menyewa dua bus. 

Saya yang bertugas mengkoordinir peserta outbond pun, juga dititipi uang untuk pelunasan sewa bus. Uang itu rencananya saya serahkan ketika bus sudah mengantarkan kami semua ke perusahaan tempat saya bekerja, karena di situ lah kami semua berkumpul sebelum berangkat. Jadi, pembayaran baru saya lakukan ketika bus sudah purna tugasnya.

Karena peserta ingin mampir dulu ke kawasan Kopeng untuk beli oleh-oleh. Rekan kerja saya selaku penanggung jawab kegiatan acara outbond tersebut melakukan nego dengan pihak bus. Akhirnya sepakat naik ke Kopeng dengan tambahan biaya sebesar 500rb.

Dan baru ketika sampai di Kopeng, dari pihak bus sudah meminta uang pelunasan bus. Saya pun segera melakukan pelunasan bus, serta biaya tambahannya sekalian. Ketika saya membayar uang sesuai kesepakatan dari pihak bus dengan penanggung jawab kegiatan outbond tersebut, yaitu rekan kerja saya. Ada sopir yang nyeletuk, "berarti kurang uang rokoknya" mendengar hal itu, saya langsung menatap tajam orang yang nyeletuk itu. Bukan! Saya bukan mau ngajak berantem. Cuma memastikan yang nyeletuk tadi manusia atau bukan, hehehe

Kemudian ada temannya yang langsung mendinginkan suasana. "Jangan gitu, begini Mas" ia mulai mengajak berbicara dengan saya. "Uang ini kan untuk keperluan sewa bus, barangkali ada, mungkin bisa ditanyakan lagi aja"

Saya tahu maksud beliau. Dan saya pun menanyakan ke rekan kerja saya, selaku penanggung jawab kegiatan outbond tersebut. Dan ia menyanggupi penambahan biaya tambahan tersebut. Ia memberikan uang 100rb sebagai uang rokok. "Udah mas kasih aja, daripada ribet" kata rekan kerja saya sambil memberikan uang.

Tidak sampai di situ, ada lagi suatu momen di mana saya bertemu dengan manusia gapleki lainnya. Masih di tempat yang sama. Ada petugas parkir yang menagih uang parkir kepada saya. Dua bus, 60rb rupiah. Sebelum membayar, saya meminta karcis retribusi terlebih dahulu. "Ndak ada Mas, jam segini sudah tutup soalnya" mendengar hal itu, saya sedikit menaikan tekanan suara saya "Yo, nggak bisa, kalo ada karcis retribusi saya langsung bayar, Pak. Soalnya nanti biar bisa saya klaim juga"

Anehnya, si petugas parkir tiba-tiba menuju ke suatu tempat dan membawa karcis retribusi parkir, yang sebelumnya berkata sudah tidak ada. Mendengar pembicaraan saya dan tukang parkir, driver kantor yang membawa Factory Manager saya pun ternyata juga membayar parkir tapi belum mendapatkan karcis retribusi buat tanda parkir. Si petugas parkir pun kembali ke tempatnya dan membawakan karcis retribusi parkirnya.

Pernah juga, saat saya berpergian ke tempat wisata di agrowisata Karanganyar. Kala itu kami datang menjelang sore hari, ketika sebagian orang sudah mulai keluar dari kawasan agrowisata. Dan ketika akan memasuki wahana jembatan gantung menuju sebuah rumah pohon. Ada yang menagih uang, katanya tempat retribusi tutup, jadi langsung bayar saja. Dan kala ditagih uang. Saya menjadi sosok manusia yang pelit. Saya tidak mau membayar jika tidak ada retribusinya. Si penjaga nampak sedikit kesal, namun entah kenapa saya tetap diijinkan masuk bersama keponakan saya.

Dari beberapa kejadian tersebut, saya seperti harus merevisi jawaban atas pertanyaan kawan saya yang ia lontarkan di grup wasap yang saya ikuti. Ketakutannya sepertinya terbukti, yaitu memberi tips hanya akan membentuk perilaku yang tidak baik. Dan membuat seseorang bermental "embuh". Bermental "embuh" yang saya maksud adalah, mental yang jelas tidak baik. Silakan terjemahkan sendiri mental embuh yang saya maksud. Karena saya tidak menemukan kata yang lebih halus dari mental pengemis.

Uang tips yang sejatinya, kalo dikasih ya di terima, kalo nggak dikasih yang tidak apa-apa. Atau bahasa jawanya "rapatheken". Bukan karena tidak dikasih uang tips, terus dengan tanpa malu ia justru malah meminta.

Atau malah melakukan pungutan halus dengan tetap menerima uang parkir atau masuk ke tempat wisata tanpa ada karcis retribusi. Karena saya yakin, tanpa ada bukti karcis retribusi bisa dipastikan itu hanya akan menjadi tai. Alias masuk ke kantong pribadi.

Mau jadi apa bangsa ini, dengan mental seperti itu, embuh lah. . . .