Senin, 14 November 2016

Simbah, Adalah Alasan Kenapa Saya Harus Pulang

Setidaknya, hampir setiap akhir pekan saya pulang, meski hanya sekedar untuk menengok Simbah. Di beberapa kesempatan, saya juga menyempatkan diri untuk menginap di rumah Simbah.

Mengunjungi tempat Simbah, adalah salah satu cara saya untuk me-refresh otak, yaitu dengan cara keluar dari rutinitas yang bernama; pekerjaan. Saya suka dengan suasana rumah Simbah. Terutama dalam hal kesederhanaannya. Ketika sedang di rumah Simbah, momen yang paling saya sukai adalah ketika usai bangun pagi. Saya selalu bangun pagi meski hari libur,  kemudian sedikit melakukan aktivitas di pagi hari. Membuat kopi. Menyalakan televisi meski pada kenyataannya tidak saya tonton. Setidaknya hadirnya net.tv membuat saya memiliki alasan kenapa saya sesekali harus menonton televisi. Kemudian sarapan pagi.

Sarapan pagi di tempat Simbah, sederhana tetapi membuat saya merasa bahagia. Dan justru kesederhanaan itulah yang sangat saya sukai. Menu yang disajikan pun benar-benar sederhana. Seperti tempo hari, menu sarapan kami, meski hanya nasi putih, yang berasnya merupakan hasil panen dari sawah sendiri, dan masih dalam keadaan panas, kemudian tempe goreng tanpa tepung, daun singkong dan pepaya, ikan bandeng, serta sambal. Dan semua itu, luar biasa lezatnya bagi saya. Bahkan saya pun sampai nambah.

Meski sekilas nampak tak se lezat ketika makan di warung makan padang. Namun, percayalah, ada sesuatu yang berbeda yang saya rasakan. Terlebih Simbah saya masih mempertahankan cara menanak nasi tempo dulu, meski kini sudah ada magicom. 

Simbah masih memasak menggunakan kayu bakar meski di rumah juga sudah ada kompor gas. Jadi, kompor gas hanya saya gunakan untuk masak air ketika akan menyeduh kopi, atau memasak indomie saat tengah malam.

Kayu bakar didapatkan dari pohon besar yang terletak tak jauh dari rumah. Beberapa bulan sekali, ranting-ranting pohon itu ditebang untuk dijadikan kayu bakar. Meski jauh dari kata kemajuan, namun saya menyukai hal itu.

Masyarakat desa adalah masyarakat yang mandiri. Mereka bisa hidup dari apa yang bisa dihasilkan dari lingkungan sekitar. Di halaman rumah Simbah saya misalnya, ditanami berbagai tanaman. Seperti pohon pisang, yang terkadang karena tidak habis untuk dimakan sendiri, maka harus dijual. Ada pohon pepaya, selain buahnya, daunnya terkadang dijadikan sayur. Pohon singkong, sambil menunggu umbinya besar, daunya bisa digunakan untuk pelengkap makan siang kami, untuk mendampingi sambal. Dan masih banyak lagi tanaman lainnya.

Selain itu, Simbah juga berternak ayam. Namun demikian, sangat jarang Simbah menyembelih ayam-ayamnya untuk dijadikan lauk. Paling hanya telurnya saja yang terkadang diambil sebagian untuk lauk, dan sebagian lagi untuk ditetaskan.

Selalu ada alasan kenapa saya harus pulang. Karena dari kehidupan Simbah lah saya selalu belajar. Bahwa hidup secukupnya itu menyenangkan. Dan seperti kata Jon Jandai dalam sebuah video di youtube, bahwa hidup itu mudah, itu benar adanya. Simbah saya contohnya. 

Namun demikian, simbah seperti tidak percaya bahwa anak cucunya akan bahagia dengan cara hidupnya. Dan ia lebih mempercayakan sekolah untuk masa depan anak-cucunya. Karena itu Simbah sangat peduli dengan pendidikan anak-cucunya. Termasuk dengan pendidikan saya. 

Namun, dari sekolah dan pergaulan lah yang membuat pandangan hidup kita berubah. Hidup bukan lagi tentang kebutuhan. Namun hidup adalah tentang sebarapa banyak materi yang kita dapatkan. Dan di saat seperti itulah hidup akan terasa sulit.

Satu hal yang selalu saya ingat dari simbah saya, beliau pernah berucap "Tugasku hanya membesarkan anak-anakku, setelah itu biarkan mereka bertanggung jawab sendiri dengan kehidupannya". Sepertinya hal itu benar-benar ia tunaikan. Meski kini anak-anaknya bisa dikatakan mapan dan sudah hidup mandiri, Simbah tidak pernah sekalipun bercerita tentang apa yang sudah dicapai oleh anak-anaknya. Simbah tidak pernah mencampuri urusan rumah tangga anak-anaknya. Dan Simbah lebih memilih diam ketika ia tidak sependapat dengan anak-anaknya. Dan simbah selalu risau ketika mendengar anaknya sedang tertimpa kesulitan.

Dan Simbah. Iya, Simbah lah alasan kenapa saya harus selalu pulang di akhir pekan.


Di kamar sunyi, 14 November 2016