Senin, 12 Desember 2016

Meracik Teh Sendiri


Setelah kemarin saya seperti tidak benar-benar menikmati libur. Pagi ini, meski semalam saya baru benar-benar tertidur pulas sekitar jam 2 pagi. Namun entah kenapa saya masih teges untuk bangun pagi, dan tidak klipuk lagi sehabis sholat shubuh.

Bahkan, setelah beberes rumah, saya seperti sedang memecahkan rekor pribadi. Yaitu dengan melakukan ritual mandi pagi, meski hari ini adalah hari libur. Bagi saya, ini adalah sebuah pencapaian. 

Karena bagi saya, pencapaian tidak harus dengan bisa menulis status fesbuk sambil berenang atau salto.

Pagi yang dingin dengan langit yang sedikit mendung ini. Membuat saya ingin membuat teh panas untuk menghangatkan badan yang mulai kedinginan. Dan teh pagi ini saya meraciknya sendiri.

Sebagai orang yang sederhana lagi pas-pasan. Saya bukanlah sejenis manusia yang hobi membeli kemewahan dengan nongkrong di kafe. Kemudian, menikmati secangkir kopi yang harganya tidak masuk kriteria murah bagi kantong saya, yaitu 50rb untuk secangkir kopi. 

Saya hanyalah buruh di balik meja, jadi sudah cukup bagi saya nongkrong di tempat-tempat wedangan. Bagi saya, 50rb itu bisa buat beli kopi kapal api beserta gula, dan itu cukup buat ngopi selama satu bulan.

Meski kini kasta wedangan sedikit terangkat dengan hadirnya kafe-kafe dengan konsep wedangan modern. Namun, ada hal yang berbeda dari tempat-tempat wedangan konvensional. Yang hadir di wedangan konvensional adalah, mereka hadir tanpa sekat. Situasi keakraban bisa terjadi, hanya karena berbagi korek api, kemudian ududan atau rokokan.

Sebagai cah wedangan yang kaffah, saya bahkan sudah memiliki tempat wedangan favorit. Meski tangan dingin Mas hik (sebutan bagi si penjual di angkringan langganan saya) dalam membuat indomie tidak senikmat mamang-mamang burjo, namun dalam hal meracik teh, ia sudah di atas rata-rata. 

Cita rasa teh lah yang membedakan antara tempat wedangan satu dengan tempat wedangan yang lain. Dalam hal ini, tempat wedangan yang asli dari mBayat dan Cawas (keduanya merupakan nama daerah di Klaten, yang konon sebagai tempat asal muasal angkringan) belum ada yang mengalahkan.

Hampir di tempat-tempat wedangan di daerah Cawas, menyajikan teh dengan menggunakan poci yang terbuat dari tanah liat, dengan gula batu sebagai pemanis. Sebagai salah satu pionir wedangan, tempat-tempat wedangan di Cawas seperti tahu betul bagaimana menyajikan teh yang nikmat.

Saya bahkan pernah melakukan research sederhana (halah, nggaya tenan nganggo istilah research, hehehe). Yaitu dengan melakukan perjalanan untuk menikmati teh di setiap tempat-tempat wedangan. Dan hasilnya, setiap tempat wedangan memiliki cita rasa yang khas pada teh yang disajikan. 

Dan tau kah Anda, bahwa dalam menemukan resep teh yang pas, seorang penjual juga melakukan research, yaitu dengan melakukan berbagai percobaan. Seperti halnya seorang barista, di tempat wedangan juga dilakukan percobaan-percobaan dengan mencampur beberapa varian teh dari berbagai merk, hingga menemukan cita rasa yang sesuai. Setelah sesuai menurut penjual, baru ia meminta pelanggan untuk menjajalnya, serta meminta masukan dari pelanggannya.

Menurut Mas hik, setiap varian atau merk teh, memiliki ciri khas masing-masing, ada yang warnanya pekat, tapi rasanya kurang. Ada yang warnanya bening, tapi rasanya kuat. Ada juga yang rasanya ada sepet-sepetnya. Dan ada juga yang menghasilkan aroma yang wangi. Maka dari itu, untuk mendapatkan rasa yang sesuai, maka perlu di-blend dan menghasilkan cita rasa baru yang nikmat.

Dalam sebuah kesempatan, sebagai langganan saya pernah diminta untuk menikmati teh hasil racikan terbaru. "Gimana, Pak bro, masuk nggak rasane?" Begitu kata Mas hik, ketika meminta pendapat mengenai hasil racikan barunya.

Ketika di rumah, saya yang menganut paham, simpel. Biasanya hanya menyediakan teh celup gopek atau tong tji, yang akan saya buat ketika perut saya sudah mulai kembung ketika terlalu banyak ngopi.

Namun, untuk pagi ini. Adalah teh yang saya racik sendiri. Saya mencampur beberapa varian teh, seperti teh gopek, gardu, dan pecut. Dan semua teh tersebut saya campur dengan perbandingan 1:1:1. Atau masing-masing teh saya jimpit kira-kira dengan takaran sama, kemudian saya taruh ke dalam gelas yang sudah saya beri sedikit gula. Kemudian saya seduh dengan air panas yang baru saja mendidih. Hasilnya, saya gagal menciptakan cita rasa ala tempat wedangan. 

Meski tidak senikmat di tempat wedangan langganan saya. Tapi setidaknya rasa random yang dihasilkan teh buatan saya pagi ini. Mampu menyadarkan saya, bahkan membuat teh ternyata juga butuh sentuhan dari tangan seorang feminis. 

Eh tapi kalau kamu ndak bisa bikin teh juga ndak apa-apa. Karena yang saya cari itu pendamping hidup, bukan partner bakul wedang.
Read more ...

Kamis, 08 Desember 2016

Belum Rejeki Saya Untuk Bekerja di Sana

Ruang tunggu BPJS Ketenagakerjaan Klaten

Kalau jodoh pasti bertemu. Kalau bukan jodoh, ya setidaknya masih bisa bertamu. Hal itulah yang kira-kira saya rasakan. Namun, yang saya maksud "bertemu" dan "bertamu" di sini bukan soal seseorang yang saya cintai kemudian luput. Bukan! Namun soal rejeki.

Kemarin siang, bersama rekan kerja saya. Untuk kesekian kalinya saya harus mengunjungi BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Agenda saya ke kantor BPJS Ketenagakerjaan dalam rangka melengkapi kekurangan berkas klaim kecelakaan kerja.

Perlu kalian ketahui, bahwa saya dulu pernah melamar, bahkan sempat mengikuti tahap seleksi atau rekruitmen karyawan untuk bagian SDM di kantor BPJS Ketenagakerjaan. Dan sepertinya memang bukan rejeki saya di sana. Karena dua kali mengikuti tahap seleksi dan dua kali pula saya harus menerima kenyataan, bahwa saya gagal dalam seleksi tahap 2, yaitu tes online.

Ada sesuatu yang lucu ketika saya mengikuti tahap seleksi, tes online. Tes pertama bisa saya kerjakan tanpa gangguan apapun, meski pada akhirnya saya gagal. Di tes online kali kedua. Ketika saya akan meksanakan tes online. Saya kesulitan untuk login. Dan di saat saya sudah sedikit frustrasi, saya baru menyadari bahwa saya melakukan kesalahan dalam memasukan nomer tes. 

Setelah saya sudah mempersiapkan diri untuk mengerjakan. Ada orang gila, yaitu orang yang benar-benar gila dalam arti yang sesungguhnya. Atau bahasa psikologinya, orang dengan gangguan kejiwaan. 

Orang gila tersebut langsung nyelonong masuk rumah. Dan saya kesulitan untuk mengusirnya. Saya pun segera mengusir dengan mengatakan bahwa saya akan pergi. Entah kenapa ia langsung keluar rumah. Dan dengan sigap pintu rumah langsung saya kunci, kemudian sedikit kemrungsung saya mengerjakan tes online tersebut.

Meski pada akhirnya saya tetap gagal untuk kedua kalinya. Saya hanya bisa berpikir positif saja, bahwa itu bukan rejeki saya. Mungkin saya masih diminta untuk terus belajar dan bekerja di tempat kerja saya saat ini.

Meskipun saya gagal dalam seleksi karyawan BPJS Ketenagakerjaan, bukan berarti juga saya harus menolak, jika harus berurusan dengan BPJS Ketenagakerjan. Karena BPJS Ketenagakerjaan itu penjamin sosial, bukan mantan atau seseorang yang telah melukai hati kita karena telah menolak kita. Bukan!

Semenjak saya dilimpahi tugas untuk mengurusi klaim jika terjadi kecelakaan kerja. Saya jadi sering berurusan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Terkadang saya juga diminta oleh atasan saya untuk mengikuti segala kegiatan yang diadakan oleh BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, ketika saya ikut nimbrung dalam acara talk show sinergi antar instansi dalam rangka peningkatan pelayanan BPJS Ketegakerjaan. Meski saya di sana cuma ikut nimbrung dan nunut ngopi.

Terakhir, saya juga diminta untuk mewakili perusahaan dalam acara gathering yang diadakan di Kaliurang, dan juga diprakarsai oleh BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Dan pernah juga saya tulis dalam blog pribadi saya; blogriki.com, dengan judul "Acara "hore" Bareng BPJS TK Klaten"
***

Sesampai di Kantor BPJS Klaten, saya langsung disambut seorang secuirity, kemudian saya menyampaikan maksud kedatangan saya, bahwa saya ingin bertemu dengan pegawai BPJS Ketenagakerjaan yang sebelumnya telah janjian dengan saya untuk bertemu.

Sambil menunggu saya melihat ruangan sekitar sambil celingak-celinguk, saya mbatin, "Belum rejeki saya bekerja di tempat ini"
Read more ...

Senin, 05 Desember 2016

Potong Rambut di Arfa Barbershop

sesaat setelah potong rambut di arfa barbershop
Bukan Sebuah Testimoni. . .


Melalui grup wasap yang saya ikuti, yaitu grup "Hip Hop '09" yang berisi begundal-begundal psikologi UNS angkatan 2009. Saya bertanya kepada mereka, untuk memberikan informasi tentang tukang cukur rambut atau barbershop yang ada paket potong rambut sekaligus keramas. Saya sedang membutuhkan fasilitas tersebut, karena saya baru saja selesai jagong di tempat teman kuliah. Selain itu, saya juga sedang tidak ingin merepotkan orang lain, dengan potong rambut di tempat pangkas rambut madura atau lainnya, itu artinya saya harus numpang mandi, setidaknya keramas di kos teman kuliah saya yang masih di solo.

Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu di salon. Tapi saya bukanlah laki-laki metroseksual yang hobi pergi ke salon. Jadi, salon sudah saya black list.

Ditya, teman kuliah yang sering saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya, yang merupakan CEO sebuah online shop @gildansoc, yang menjual produk impor berupa kaos polos, baik berkerah maupun tanpa kerah. Ia memberikan beberapa alternatif barbershop, salah satu diantaranya di dekat pasar nongko, Solo.

Ketika saya akan pergi ke sana. Saya baru menyadari bahwa di deket kampus psikologi Mesen (Psikologi UNS) juga ada barbershopBarbershop tersebut bernama "Arfa Barbershop" letaknya sebelah barat hotel Asia. Tak jauh dari panggung motor.

Kemudian saya memutuskan untuk potong rambut di sana saja. Karena saya lihat, tidak ada yang ngantri. Dan itu artinya, saya bisa segera di-treatment. Dan karena hal itulah kenapa saya memutuskan untuk potong rambut di sana. Selain itu, juga cepat, karena langsung dilayani, dan bisa langsung dikeramasi tentunya.

Baru datang, tanpa mengambil nomor antrian terlebih dahulu, saya langsung dipersilakan duduk di kursi treatment. Si mas-mas potong rambut langsung bertanya kepada saya, "Mau potong rambut model apa?" Saya yang buta terhadap model-model rambut kekinian hanya menjawab sekenanya saja "Di rapiin aja, Mas"

Ketika sedang mencukur rambut saya, ia nampak mencoba mencairkan suasana dengan mengajak saya ngobrol. Tak lama kemudian, kami justru terlibat salam sebuah obrolan, di saat si mas-mas potong rambut sedang fokus mencukur rambut saya. 

Ia ternyata asli dari Wonogiri. Setelah beberapa bulan bekerja di cabang Jogja, ia meminta untuk dipindahkan di cabang solo. Dalam hati, saya kenapa enggak milih jualan bakso atau mie ayam saja? Kan mie ayam-bakso wonogiri sudah terkenal seantero negeri.

Sebelum rambut saya dikeramasi, ia memastikan bahwa rambut saya sudah dipotong sesuai dengan keinginan saya sebagai pelanggan. Mungkin ini bagian dari SOP. Jadi, ya harus ya harus begitu.

Saya kemudian diminta untuk menuju ruang tempat keramas yang lokasinya tak jauh dari tempat cukur rambut. Dan mungkin ini kali pertama saya dikeramasin orang lain, setelah orangtua saya yang mengeramasi saya waktu masih bocah.

Dan di ruang keramas itulah, si mas-mas potong rambut seperti ngajak ribut. Karena kepala saya diunyel-unyel. Iya, saya tahu itu adalah bagian dari SOP. Tapi mbok ya yang ngeramasi jangan cowok, gitu bisa? Siapa tahu jodoh. *iki uopo meneh:-D

Selesai dikeramas, masih ada satu treatment lagi, yaitu pijat. Dan ini yang membuat saya kecewa dengan pelayanan di sana. Pijatnya cuma bentar banget, jadi jelas kurang lama, mengingat kondisi badan saya sedikit gregesi ini. Tanda-tanda badan saya sedang butuh asupan soto segeer mbok giyem dan jeruk panasnya.

Dan untuk segala treatmen yang dilakukan di arfa barbershop, dari cukur rambut, bonus air mineral, keramas, pijat, meski cuma sebentar, dan ruangan yang nyaman dan ber-ac. Saya kira, 20rb adalah mahar yang wajar atas semua itu.
Read more ...

Sabtu, 03 Desember 2016

Menjadi Silent Reader

Saya seperti seseorang yang terlambat menghidupkan televisi untuk menonton pertandingan sepakbola. Dan ketika televisi saya nyalakan, bukannya pertandingan sepakbola yang saya dapatkan. Justru situasi di stadion yang menunjukan antar supporter sudah saling gaduh. Bahkan pertandingan harus terpaksa dihentikan karena situasi tidak memungkinkan. Keputusan tersebut diambil oleh pihak penyelenggara meski pertandingan belum ada yang menjadi pemenang.

Saya mulai menonton dari layar kaca di saat kedua supporter sudah saling ejek, bahkan saling serang. Hal itu dipicu oleh tindakan salah satu pemain yang menurut tim lawan melakukan diving, namun sebaliknya, bagi pemain tersebut, ia merasa benar-benar dilanggar. Wasit sebagai pengadil di lapangan belum menetukan keputusannya. Namun, semua sudah saling merasa bahwa pemainnya adalah pihak yang dirugikan. Yang satu dituduh melakukan diving, namun yang dituduh diving merasa benar-benar dilanggar. 

Saya mendapatkan beberapa situasi sekaligus. Yaitu, kedua supporter saling klaim bahwa pemain tim kebanggaannya tidak bersalah. Penghakiman pun dimulai. Ada yang menyalahkan pemain kesebelasan yang sedang bertanding dengan tim kebanggaanya. Ada juga yang menyalahkan sikap wasit sebagai pengadil di lapangan, karena dianggap berpihak pada salah satu tim kesebelasan.

Saya yang baru melihat kejadian tersebut, sudah hampir langsung ikut menghakimi, seperti yang dilakukan supporter tim kebanggaan saya. Namun hal itu saya urungkan. Saya lebih baik mematikan televisi dan menunggu ada yang upload di youtube, serta melihat terlebih dahulu, apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kata Pramoedya Ananta Toer, kita harus adil sejak dalam pikiran. Bukan tahu-tahu langsung ikut menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saya belum sempat melihat di youtube mengenai kejadian di lapangan yang memicu debat berkepanjangan tersebut. Sedangkan pemberitaan media  sosial sudah terlalu subyektif untuk dijadikan rujukan.

Situasi sudah terlambat. Penghakiman demi penghakiman pun sudah bertebaran di media sosial. Situasi menjadi semakin gaduh.

Situasi juga sudah sangat terlambat ketika saya melihat dan memahami video tentang pelanggaran tersebut. Namun, situasi diluar sudah terlampau sulit dikendalikan. Orang yang sudah dikatakan sebagai ahli dalam sepak bola, seperti mereka para pengamat sepakbola tidak mampu mencairkan suasana. Ketika mereka berpendapat hal itu adalah tindakan diving, pengamat tersebut langsung dihakimi dengan menyebut telah menerima bayaran dari salah satu klub. Begitu juga sebaliknya, ketika ada yang menganggap bahwa kejadian itu murni pelanggaran, juga langsung di cap pendukung klub yang satunya.

Di saat seperti itu, saya memutuskan untuk menjadi penonton dan menjadi silent reader untuk melihat bagaimana kedua antar suporter saling serang dalam beropini. Lebih kejam lagi, ada yang menyerang dengan cara-cara kotor, seperti dengan melakukan fitnah.

Kemudian, bagaimana cara menetralisir hal itu? Ndak usah bingung, sruput dulu kopinya. Kita tidak bisa membendung arus informasi di media sosial. Cukup kita posting sebagaimana biasanya. Sharing informasi yang benar-benar informasi, jangan cuma asal like, share atau ketik amin untuk masuk surga, emang surgane mbahmu? Yang paling penting budayakan membaca sebelum share dan komentar. 

Menjadi silent reader itu ternyata kudu sabar. Saya memiliki kebiasaan hingga membaca apa yang didiskusikan di kolom komentar. Dan membaca komentar yang ada di bawah artikel atau link, ternyata ada hal lucu sekaligus bikin gontok. Masih ada saja orang yang seperti sedang memproklamirkan kemalasannya dalam membaca. Karena kata "kebodohan" mungkin terlalu tidak sopan. Komentar yang cinderung dipengaruhi oleh komentar sebelumnya, padahal komentar sebelumnya sudah jelas komentar dari orang yang tidak membaca hingga selesai. Bahkan hanya membaca judul saja, sudah langsung merasa tahu kemudian berkomentar yang jauh dari konteks berita. Bahkan langsung menghakimi.

Mungkin ada juga yang menganggap bahwa menjadi silent reader adalah salah satu bentuk orang yang tidak memiliki sikap. Bagi saya tidak apa-apa, karena memilih untuk diam dan menjadi silent reader bagi saya adalah suatu sikap. Menjadi silent reader itu bukan perkara mudah, ia seperti orang yang berpuasa berkomentar, padahal hampir setiap hari ia melihat gawai untuk bermain media sosial. 

Dan mohon maaf, jika ada teman saya di fesbuk yang saya blok, mungkin kalian lebih baik berteman dengan saya di dunia nyata saja, bukan di ruang maya.  Karena saya sedang berusaha agar "puasa" saya tidak batal. 
Read more ...

Kamis, 01 Desember 2016

Setelah Dua Tahun Bekerja

Sebuah catatan pendek setelah dua tahun bekerja

Tepatnya dua tahun yang lalu, yaitu tanggal 1 Desember 2014. Pagi-pagi saya sudah berdandan rapi, dengan memakai pakaian batik yang dipadukan dengan celana jeans warna biru, dan sepatu hitam mengkilat. Saya kala itu cuek saja memakai batik meski hari itu adalah masih hari senin. Jujur, selama masa skripsi hingga lulus kuliah, saya lebih banyak mengkoleksi kaos tanpa kerah daripada kemeja atau pakaian formal lainnya.

Hari itu adalah hari pertama kali saya mulai bekerja. Berangkat pagi-pagi dengan motor yang telah setia menemani perjalanan saya dari SMA, sambil menerka-nerka tentang apa saja yang akan saya kerjakan di hari pertama bekerja. Jujur, saya belum memiliki gambaran tentang dunia kerja, khususnya sebagai staff HR. Pengalaman magang satu bulan ketika masih kuliah, masih jauh dari kata cukup dalam menyambut dunia kerja. Karena kami anak magang hanya dijadikan hiasan meja tanpa dilibatkan dalam kegiatan atau project apapun. 

Ketika pertama kali masuk kerja. Saya sengaja datang agak pagi. Bahkan saya datang ketika karyawan non shift belum pada datang. Saya disambut oleh seorang perempuan yang usianya tak jauh berbeda dengan usia saya. Di sela-sela kesibukannya di meja resepsionis. Ia mempersilakan saya dan meminta saya untuk mengisi data karyawan baru. Dan orang itu adalah salah satu staff administrasi yang sudah sangat tahu betul mengenai seluk-beluk data di HR File. 

Saya menjadi seperti harus belajar lagi. Karena ada banyak hal yang saya dapatkan, dan hal tersebut tidak pernah saya dapatkan selama di bangku kuliah.

Perlahan tapi pasti saya mulai belajar banyak hal. Didampingi dan di-mentori oleh orang-orang yang dengan penuh kesabaran membimbing saya. Membuat saya dengan mudah menyesuaikan diri dengan dunia baru saya, yaitu dunia kerja. Orang-orang tersebut sudah saya anggap sebagai guru saya. Saya banyak belajar darinya, seperti Manager saya, Supervisor sekaligus partner kerja saya, serta rekan kerja yang lain. Sengaja  saya tidak menyebutkan namanya satu persatu. Namun demikian, percayalah, bahwa nama-nama kalian sudah menyita sebagian memori dalam otak saya. 

Dan buat rekan kerja saya yang hari ini ulang tahun, saya tidak akan bertanya hari ini ulang tahun yang ke berapa kok. Saya hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, semoga menjadi pribadi yang lebih baik, dan selalu diberi kesehatan untuknya dan keluarganya. Dan menjadi ibu yang baik bagi kedua putrinya. Amin~

***
Dulu, saya pernah membayangkan, bahwa orang yang bekerja kantoran dan hanya berada di depan komputer itu keren. Namun, ketika awal-awal saya menjalani hari-hari sebagai orang kantoran. Saya sempat berpikir, betapa membosankannya menjadi orang kantoran. Duduk selama 40 jam dalam seminggu dengan hanya melototi layar komputer untuk mengerjakan pekerjaan yang sifatnya rutinitas.

Beruntung pekerjaan saya bisa dikatakan tidak melulu di depan layar komputer. Dan kebanyakan melakukan aktifitas di luar kantor.  Seperti melakukan interview awal. Dan melaksanakan psikotes. Serta terkadang saya harus akting marah-marah ketika ada karyawan yang ndablek dan sering melakukan tindakan indisipliner. Meski terkadang, karena terlalu menjiwai, saya jadi marah-marah beneran. Hehehe

Ketika sedang melakukan interview, saya justru bisa bertemu dan berinteraksi dengan orang-orang berbagai latar belakang. Dan bukan tidak mungkin saya justru belajar dari pengalaman-pengalaman mereka yang saya interview. Meski pertemuan dalam sesi wawancara yang hanya sekitar 5 - 10 menit saja.

Selain itu, saya juga terlibat dalam sebuah pekerjaan yang begitu menguras emosi. Ketika harus mengakhiri hubungan kerja misalnya. Awal-awal ada semacam perasaan bersalah dalam diri saya. Namun, semakin ke sini saya menjadi semakin paham. Bahwa apa yang saya lakukan adalah bagian dari pekerjaan. Dan di situlah saya menjadi paham apa itu "profesional".

Sebenarnya ada banyak hal yang sudah saya lalui selama 2 tahun bekerja ini. Namun, nanti saya malah dikira mau bikin novel. Tapi kalau mau bikin novel, saya sudah menemukan judul yang sangat bagus; "Catatan Hati Seorang HRD". Saya yakin bakal ada yang meliriknya, kemudian dibikin filmnya, habis itu ada sinetronnya. Hahahaha, semakin ngawur. . .

Daripada ini nanti semakin ngawur, saya sudahi saja tulisan ini. Dan bukan novel yang telah saya buat, namun sebuah blog. Blog atau situsweb sederhana itu bernama hrfile.net "Catatan seorang HRD" blog tersebut bukanlah sebuah portal yang akan dijadikan rujukan banyak orang.

Saya membuatnya tanpa ekspektasi tinggi. Sebuah blog yang hanya berisi catatan ringan saya selama berkarir sebagai HR. Blog tersebut berisi sisi lain kehidupan seorang HRD. Tidak mewakili siapa-siapa, atau institusi apapun. Semua konten yang ada di blog tersebut, tak lebih hanya endapan-endapan tentang apa saja yang penting bagi saya, kemudian saya tuangkan dalam tulisan. Jika hal tersebut belum bisa bermanfaat bagi orang lain, setidaknya hal itu bermanfaat bagi diri saya sendiri.

Sepertinya saya akan sangat berdosa jika tidak mengucapkan terima kasih kepada kawan sekaligus sahabat saya Johan Hariyanto. Dia lah yang mentraktir saya domain hrfile.net, kala itu sedang ada promo dari salah satu penyedia domain. Dan atas tangan dingin Johan pula lah tampilan hrfile.net menjadi lebih kece.

Monggo kalau mau mampir ke blog saya, kalau mau menghujat silakan di kolom komentar saja, hehehe

Read more ...

Maiyahan lagi (2)

Suasana maiyahan di IAIN Surakarta

Setelah malam minggu kemarin membatalkan pertemuan kami, untuk bisa ikut belajar "menjadi manusia" bersama Cak Nun di alun-alun Boyolali. Malam tadi, Ditya juga melakukan hal sama. Entah kenapa, tiba-tiba Ditya membatalkan lagi pertemuan kami malam tadi di IAIN Surakarta untuk mendengarkan kajian dari Cak Nun.

Sebagai CEO sebuah online shop @gildansoc bisa jadi ia sedang banyak order hingga kesulitan untuk membagi waktunya. Bagi Ditya costumer adalah raja, ia bukan hanya berhak, tapi wajib untuk diperlakukan secara baik. Seperti tetap bersikap ramah dan fast respon ketika membalas chat dari calon costumer-nya. Walaupun pada akhirnya, cuma nanya doang, tapi waktu ditanya "jadi order atau enggak?" jawabnya "Okey nanti kalo butuh aku kontak lagi", atau malah langsung menghilang dari chat tanpa jejak.

Ditya paham betul bahwa hal tersebut adalah bagian dari lika-liku sebagai pelaku bisnis online

Meski Ditya tidak jadi datang bersama ke IAIN Surakarta. Beberapa hari yang lalu, saya justru baru sadar. Bahwa salah satu rekan kerja saya, ada juga yang merupakan bagian dari jamaah maiyah, sapaan untuk jamaah yang diampu oleh Cak Nun. Dia asli dari Magelang, dan dulu kuliah di Jogja. Dan ia bercerita bahwa semasa kuliah, hampir setiap bulan, yaitu setiap tanggal 17 ia berkunjung ke rumah maiyah di Kasihan mBantul untuk mengikuti kajian Macopat Syafaat. Sebuah kajian yang bukan hanya melulu membahas tentang isu-isu agama, namun segala aspek kehidupan sosial, seperti politik dan isu-isu sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Bahkan, acara tersebut bisa sampai shubuh, karena banyaknya hal yang harus dibahas.

Dalam batin saya ketika mengetahui bahwa ia aktif dalam kegiatan maiyah, "Ternyata, rekan kerja saya ada yang "gentho" juga ya . . . "

Kami berdua duduk sedikit menjauh dari panggung utama. Situasi malam tadi, hampir sama ketika ngaji ngangsu tepo sliro di alun-alun Boyolali. Kondisi malam tadi gerimis tipis. Meski gerimis, tak ada satu pun jamaah yang meninggalkan tempat duduknya. 

Malam tadi bukan hanya dihadiri oleh mahasiswa IAIN Surakarta saja, namun banyak juga dari kalangan masyarakat sekitar. 

Acara diawali dengan performance dari mahasiswa IAIN Surakarta. Seperti penampilan dari ukhti-ukhti yang menampilkan tari saman, serta qiroah.

Cak Nun agak terlambat naik ke panggung utama. Kiak Kanjeng pun memulai lebih dahulu dengan membawakan lagu-lagu serta sholawat yang dibawakan versi Kiai Kanjeng.

Tak lama kemudian, Cak Nun datang bersama Kiai Muzamil, dan kemudian kajian pun dimulai sebagaima kajian dari Cak Nun, sebelum-sebelumnya yang diselingi dengan penampilan dari Kiai Kanjeng bersama para vokalis bersuara merdu itu.

Dan yang dibahas malam tadi, seputar isu global yang terjadi di Indoensia. Dan tentu tentang kondisi saat ini yang dikuasi oleh kaum kapitalis. Dan tentunya juga membahas tentang isu-isu yang masih hangat di media sosial saat ini. Silakan coba cek di website, mungkin reportase semalam sudah diposting di website caknun.com

Karena paginya saya harus dinas pagi, sekitar pukul 12 malam, saya pamit pulang duluan, padahal sesi diskusi sedang asyik-asyiknya untuk disimak. Namun, apa daya ini, saya juga harus realistis bahwa keesok harinya saya juga masih ada tanggung jawab yang harus saya jalani.
Read more ...

Kebo Nyusu Gudel

"m0 nabung aH. . . . bwt Rncana lbran ke jogja. . . . . . JOGJA"

"gara2 td mboloz keSGM ma liat pameran kmputer . . . . mggu ne hrz irit duech. ."

"ne kuliah hr ne oq sepi bgtz. . . . . . yg laen pda kmana?"

Di atas adalah cuplikan status fesbuk seorang mahasiswa semester satu yang dibuat sekitar tujuh tahun yang lalu. Apa yang Anda pikirkan ketika membaca cuplikan status fesbuk tersebut? Alay? Kalau jawaban kalian alay. Dengan penuh kesadaran, saya akan melakukan pengakuan dosa, bahwa saya dulu pernah alay. Karena status fesbuk di atas adalah status fesbuk saya ketika saya masih newbie dalam bermain fesbuk.

Hal ini bisa juga membuktikan tentang teori perkembangan versi Raditya Dika. Dalam video stand up komedi yang di-upload ke akun youtube miliknya, ia menyampaikan bahwa perkembangan manusia ada beberapa fase, yaitu; bayi, anak, remaja, alay, dewasa, dan tua.

Barusan, di dinding fesbuk milik saya, ada teman fesbuk yang membagikan status seseorang yang merupakan salah satu admin grup fesbuk pembongkar berita hoax. Tulisannya bagus dan mudah dipahami. Dan setelah saya kepo ke akun tersebut, ternyata pemilik akun fesbuk tersebut adalah remaja putri yang masih kelas 3 SMA. 

Setelah membaca beberapa tulisannya yang ia posting di fesbuk. Saya sempat meragukan bahwa pemilik akun tersebut masih berusia belia. Mengingat bobot tulisannya levelnya sudah penulis buku-buku best seller. Dan saya merasa salut dan perlu belajar banyak hal darinya, terutama dalam menyikapi media sosial.

Bisa dibilang ia adalah aktifis media sosial. Ia tahu betul bagaimana memanfaat media sosial bukan hanya dengan baik, tapi juga bijak. Di saat banyak berita hoax yang tersebar di media sosial, ia menjadi salah satu bagian dari pembongkar berita hoax.

Di saat saya masih berusia seperti dirinya. Saya mungkin masih asyik bermain Play Station. Tentang bahan bacaan, saya masih menganggap bahwa tidak ada buku yang lebih penting daripada buku-buku mata pelajaran. Saya seperti mengurung sendiri pemikiran saya dengan membatasi bahan bacaan.

Dibandingkan dengan dirinya, ilmu kepenulisan saya masih seperti remukan roti. Tulisannya bagus dalam mengangkat isu-isu kekinian yang sedang ramai di media sosial. Sedangkan tulisan saya, masuk kategori jelek saja, belum. Dan saya tidak sedang merendah, karena hal itu memang begitu adanya.

Kalau kalian penasaran dengan akun fesbuk yang saya maksud, silakan di-kepo sendiri. Nama akun fesbuk-nya adalah Afi Nihaya Faradisa. Seorang remaja yang baru mau beranjak dewasa. Dari tulisan-tulisannya, ia bukan pelajar seperti pelajar SMA pada umumnya. Terutama dalam menggunakan menuangkan gagasannya melalui tulisan yang ia posting di media sosial.

Darinya saya malah belajar banyak hal. Media sosial bisa digunakan sebagai wadah untuk kreatifitasnya, yaitu dalam hal menulis.

Dalam peribahasa jawa, saya seperti "Kebo nyusu gudel", jika diartikan dalam bahasa Indonesia, adalah orang tua yang belajar dari orang yang jauh lebih muda. Dalam hal belajar tidak ada aturannya bahwa yang muda harus belajar pada orang yang lebih tua. 

Di era informasi seperti saat ini, anak muda bisa dibilang lebih cepat dalam menguasai teknologi, dan kecepatan mendapatkan akses informasi. Jadi, tidak ada salahnya jika orangtua mau belajar pada orang yang lebih muda.

Dan jangan merasa malu untuk belajar, meski pada seseorang yang lebih muda dari kita.
Read more ...