Kamis, 01 Desember 2016

Kebo Nyusu Gudel

"m0 nabung aH. . . . bwt Rncana lbran ke jogja. . . . . . JOGJA"

"gara2 td mboloz keSGM ma liat pameran kmputer . . . . mggu ne hrz irit duech. ."

"ne kuliah hr ne oq sepi bgtz. . . . . . yg laen pda kmana?"

Di atas adalah cuplikan status fesbuk seorang mahasiswa semester satu yang dibuat sekitar tujuh tahun yang lalu. Apa yang Anda pikirkan ketika membaca cuplikan status fesbuk tersebut? Alay? Kalau jawaban kalian alay. Dengan penuh kesadaran, saya akan melakukan pengakuan dosa, bahwa saya dulu pernah alay. Karena status fesbuk di atas adalah status fesbuk saya ketika saya masih newbie dalam bermain fesbuk.

Hal ini bisa juga membuktikan tentang teori perkembangan versi Raditya Dika. Dalam video stand up komedi yang di-upload ke akun youtube miliknya, ia menyampaikan bahwa perkembangan manusia ada beberapa fase, yaitu; bayi, anak, remaja, alay, dewasa, dan tua.

Barusan, di dinding fesbuk milik saya, ada teman fesbuk yang membagikan status seseorang yang merupakan salah satu admin grup fesbuk pembongkar berita hoax. Tulisannya bagus dan mudah dipahami. Dan setelah saya kepo ke akun tersebut, ternyata pemilik akun fesbuk tersebut adalah remaja putri yang masih kelas 3 SMA. 

Setelah membaca beberapa tulisannya yang ia posting di fesbuk. Saya sempat meragukan bahwa pemilik akun tersebut masih berusia belia. Mengingat bobot tulisannya levelnya sudah penulis buku-buku best seller. Dan saya merasa salut dan perlu belajar banyak hal darinya, terutama dalam menyikapi media sosial.

Bisa dibilang ia adalah aktifis media sosial. Ia tahu betul bagaimana memanfaat media sosial bukan hanya dengan baik, tapi juga bijak. Di saat banyak berita hoax yang tersebar di media sosial, ia menjadi salah satu bagian dari pembongkar berita hoax.

Di saat saya masih berusia seperti dirinya. Saya mungkin masih asyik bermain Play Station. Tentang bahan bacaan, saya masih menganggap bahwa tidak ada buku yang lebih penting daripada buku-buku mata pelajaran. Saya seperti mengurung sendiri pemikiran saya dengan membatasi bahan bacaan.

Dibandingkan dengan dirinya, ilmu kepenulisan saya masih seperti remukan roti. Tulisannya bagus dalam mengangkat isu-isu kekinian yang sedang ramai di media sosial. Sedangkan tulisan saya, masuk kategori jelek saja, belum. Dan saya tidak sedang merendah, karena hal itu memang begitu adanya.

Kalau kalian penasaran dengan akun fesbuk yang saya maksud, silakan di-kepo sendiri. Nama akun fesbuk-nya adalah Afi Nihaya Faradisa. Seorang remaja yang baru mau beranjak dewasa. Dari tulisan-tulisannya, ia bukan pelajar seperti pelajar SMA pada umumnya. Terutama dalam menggunakan menuangkan gagasannya melalui tulisan yang ia posting di media sosial.

Darinya saya malah belajar banyak hal. Media sosial bisa digunakan sebagai wadah untuk kreatifitasnya, yaitu dalam hal menulis.

Dalam peribahasa jawa, saya seperti "Kebo nyusu gudel", jika diartikan dalam bahasa Indonesia, adalah orang tua yang belajar dari orang yang jauh lebih muda. Dalam hal belajar tidak ada aturannya bahwa yang muda harus belajar pada orang yang lebih tua. 

Di era informasi seperti saat ini, anak muda bisa dibilang lebih cepat dalam menguasai teknologi, dan kecepatan mendapatkan akses informasi. Jadi, tidak ada salahnya jika orangtua mau belajar pada orang yang lebih muda.

Dan jangan merasa malu untuk belajar, meski pada seseorang yang lebih muda dari kita.