Kamis, 01 Desember 2016

Maiyahan lagi (2)

Suasana maiyahan di IAIN Surakarta

Setelah malam minggu kemarin membatalkan pertemuan kami, untuk bisa ikut belajar "menjadi manusia" bersama Cak Nun di alun-alun Boyolali. Malam tadi, Ditya juga melakukan hal sama. Entah kenapa, tiba-tiba Ditya membatalkan lagi pertemuan kami malam tadi di IAIN Surakarta untuk mendengarkan kajian dari Cak Nun.

Sebagai CEO sebuah online shop @gildansoc bisa jadi ia sedang banyak order hingga kesulitan untuk membagi waktunya. Bagi Ditya costumer adalah raja, ia bukan hanya berhak, tapi wajib untuk diperlakukan secara baik. Seperti tetap bersikap ramah dan fast respon ketika membalas chat dari calon costumer-nya. Walaupun pada akhirnya, cuma nanya doang, tapi waktu ditanya "jadi order atau enggak?" jawabnya "Okey nanti kalo butuh aku kontak lagi", atau malah langsung menghilang dari chat tanpa jejak.

Ditya paham betul bahwa hal tersebut adalah bagian dari lika-liku sebagai pelaku bisnis online

Meski Ditya tidak jadi datang bersama ke IAIN Surakarta. Beberapa hari yang lalu, saya justru baru sadar. Bahwa salah satu rekan kerja saya, ada juga yang merupakan bagian dari jamaah maiyah, sapaan untuk jamaah yang diampu oleh Cak Nun. Dia asli dari Magelang, dan dulu kuliah di Jogja. Dan ia bercerita bahwa semasa kuliah, hampir setiap bulan, yaitu setiap tanggal 17 ia berkunjung ke rumah maiyah di Kasihan mBantul untuk mengikuti kajian Macopat Syafaat. Sebuah kajian yang bukan hanya melulu membahas tentang isu-isu agama, namun segala aspek kehidupan sosial, seperti politik dan isu-isu sosial yang sedang berkembang di masyarakat. Bahkan, acara tersebut bisa sampai shubuh, karena banyaknya hal yang harus dibahas.

Dalam batin saya ketika mengetahui bahwa ia aktif dalam kegiatan maiyah, "Ternyata, rekan kerja saya ada yang "gentho" juga ya . . . "

Kami berdua duduk sedikit menjauh dari panggung utama. Situasi malam tadi, hampir sama ketika ngaji ngangsu tepo sliro di alun-alun Boyolali. Kondisi malam tadi gerimis tipis. Meski gerimis, tak ada satu pun jamaah yang meninggalkan tempat duduknya. 

Malam tadi bukan hanya dihadiri oleh mahasiswa IAIN Surakarta saja, namun banyak juga dari kalangan masyarakat sekitar. 

Acara diawali dengan performance dari mahasiswa IAIN Surakarta. Seperti penampilan dari ukhti-ukhti yang menampilkan tari saman, serta qiroah.

Cak Nun agak terlambat naik ke panggung utama. Kiak Kanjeng pun memulai lebih dahulu dengan membawakan lagu-lagu serta sholawat yang dibawakan versi Kiai Kanjeng.

Tak lama kemudian, Cak Nun datang bersama Kiai Muzamil, dan kemudian kajian pun dimulai sebagaima kajian dari Cak Nun, sebelum-sebelumnya yang diselingi dengan penampilan dari Kiai Kanjeng bersama para vokalis bersuara merdu itu.

Dan yang dibahas malam tadi, seputar isu global yang terjadi di Indoensia. Dan tentu tentang kondisi saat ini yang dikuasi oleh kaum kapitalis. Dan tentunya juga membahas tentang isu-isu yang masih hangat di media sosial saat ini. Silakan coba cek di website, mungkin reportase semalam sudah diposting di website caknun.com

Karena paginya saya harus dinas pagi, sekitar pukul 12 malam, saya pamit pulang duluan, padahal sesi diskusi sedang asyik-asyiknya untuk disimak. Namun, apa daya ini, saya juga harus realistis bahwa keesok harinya saya juga masih ada tanggung jawab yang harus saya jalani.