Sabtu, 03 Desember 2016

Menjadi Silent Reader

Saya seperti seseorang yang terlambat menghidupkan televisi untuk menonton pertandingan sepakbola. Dan ketika televisi saya nyalakan, bukannya pertandingan sepakbola yang saya dapatkan. Justru situasi di stadion yang menunjukan antar supporter sudah saling gaduh. Bahkan pertandingan harus terpaksa dihentikan karena situasi tidak memungkinkan. Keputusan tersebut diambil oleh pihak penyelenggara meski pertandingan belum ada yang menjadi pemenang.

Saya mulai menonton dari layar kaca di saat kedua supporter sudah saling ejek, bahkan saling serang. Hal itu dipicu oleh tindakan salah satu pemain yang menurut tim lawan melakukan diving, namun sebaliknya, bagi pemain tersebut, ia merasa benar-benar dilanggar. Wasit sebagai pengadil di lapangan belum menetukan keputusannya. Namun, semua sudah saling merasa bahwa pemainnya adalah pihak yang dirugikan. Yang satu dituduh melakukan diving, namun yang dituduh diving merasa benar-benar dilanggar. 

Saya mendapatkan beberapa situasi sekaligus. Yaitu, kedua supporter saling klaim bahwa pemain tim kebanggaannya tidak bersalah. Penghakiman pun dimulai. Ada yang menyalahkan pemain kesebelasan yang sedang bertanding dengan tim kebanggaanya. Ada juga yang menyalahkan sikap wasit sebagai pengadil di lapangan, karena dianggap berpihak pada salah satu tim kesebelasan.

Saya yang baru melihat kejadian tersebut, sudah hampir langsung ikut menghakimi, seperti yang dilakukan supporter tim kebanggaan saya. Namun hal itu saya urungkan. Saya lebih baik mematikan televisi dan menunggu ada yang upload di youtube, serta melihat terlebih dahulu, apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kata Pramoedya Ananta Toer, kita harus adil sejak dalam pikiran. Bukan tahu-tahu langsung ikut menghakimi tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Saya belum sempat melihat di youtube mengenai kejadian di lapangan yang memicu debat berkepanjangan tersebut. Sedangkan pemberitaan media  sosial sudah terlalu subyektif untuk dijadikan rujukan.

Situasi sudah terlambat. Penghakiman demi penghakiman pun sudah bertebaran di media sosial. Situasi menjadi semakin gaduh.

Situasi juga sudah sangat terlambat ketika saya melihat dan memahami video tentang pelanggaran tersebut. Namun, situasi diluar sudah terlampau sulit dikendalikan. Orang yang sudah dikatakan sebagai ahli dalam sepak bola, seperti mereka para pengamat sepakbola tidak mampu mencairkan suasana. Ketika mereka berpendapat hal itu adalah tindakan diving, pengamat tersebut langsung dihakimi dengan menyebut telah menerima bayaran dari salah satu klub. Begitu juga sebaliknya, ketika ada yang menganggap bahwa kejadian itu murni pelanggaran, juga langsung di cap pendukung klub yang satunya.

Di saat seperti itu, saya memutuskan untuk menjadi penonton dan menjadi silent reader untuk melihat bagaimana kedua antar suporter saling serang dalam beropini. Lebih kejam lagi, ada yang menyerang dengan cara-cara kotor, seperti dengan melakukan fitnah.

Kemudian, bagaimana cara menetralisir hal itu? Ndak usah bingung, sruput dulu kopinya. Kita tidak bisa membendung arus informasi di media sosial. Cukup kita posting sebagaimana biasanya. Sharing informasi yang benar-benar informasi, jangan cuma asal like, share atau ketik amin untuk masuk surga, emang surgane mbahmu? Yang paling penting budayakan membaca sebelum share dan komentar. 

Menjadi silent reader itu ternyata kudu sabar. Saya memiliki kebiasaan hingga membaca apa yang didiskusikan di kolom komentar. Dan membaca komentar yang ada di bawah artikel atau link, ternyata ada hal lucu sekaligus bikin gontok. Masih ada saja orang yang seperti sedang memproklamirkan kemalasannya dalam membaca. Karena kata "kebodohan" mungkin terlalu tidak sopan. Komentar yang cinderung dipengaruhi oleh komentar sebelumnya, padahal komentar sebelumnya sudah jelas komentar dari orang yang tidak membaca hingga selesai. Bahkan hanya membaca judul saja, sudah langsung merasa tahu kemudian berkomentar yang jauh dari konteks berita. Bahkan langsung menghakimi.

Mungkin ada juga yang menganggap bahwa menjadi silent reader adalah salah satu bentuk orang yang tidak memiliki sikap. Bagi saya tidak apa-apa, karena memilih untuk diam dan menjadi silent reader bagi saya adalah suatu sikap. Menjadi silent reader itu bukan perkara mudah, ia seperti orang yang berpuasa berkomentar, padahal hampir setiap hari ia melihat gawai untuk bermain media sosial. 

Dan mohon maaf, jika ada teman saya di fesbuk yang saya blok, mungkin kalian lebih baik berteman dengan saya di dunia nyata saja, bukan di ruang maya.  Karena saya sedang berusaha agar "puasa" saya tidak batal.