Senin, 12 Desember 2016

Meracik Teh Sendiri


Setelah kemarin saya seperti tidak benar-benar menikmati libur. Pagi ini, meski semalam saya baru benar-benar tertidur pulas sekitar jam 2 pagi. Namun entah kenapa saya masih teges untuk bangun pagi, dan tidak klipuk lagi sehabis sholat shubuh.

Bahkan, setelah beberes rumah, saya seperti sedang memecahkan rekor pribadi. Yaitu dengan melakukan ritual mandi pagi, meski hari ini adalah hari libur. Bagi saya, ini adalah sebuah pencapaian. 

Karena bagi saya, pencapaian tidak harus dengan bisa menulis status fesbuk sambil berenang atau salto.

Pagi yang dingin dengan langit yang sedikit mendung ini. Membuat saya ingin membuat teh panas untuk menghangatkan badan yang mulai kedinginan. Dan teh pagi ini saya meraciknya sendiri.

Sebagai orang yang sederhana lagi pas-pasan. Saya bukanlah sejenis manusia yang hobi membeli kemewahan dengan nongkrong di kafe. Kemudian, menikmati secangkir kopi yang harganya tidak masuk kriteria murah bagi kantong saya, yaitu 50rb untuk secangkir kopi. 

Saya hanyalah buruh di balik meja, jadi sudah cukup bagi saya nongkrong di tempat-tempat wedangan. Bagi saya, 50rb itu bisa buat beli kopi kapal api beserta gula, dan itu cukup buat ngopi selama satu bulan.

Meski kini kasta wedangan sedikit terangkat dengan hadirnya kafe-kafe dengan konsep wedangan modern. Namun, ada hal yang berbeda dari tempat-tempat wedangan konvensional. Yang hadir di wedangan konvensional adalah, mereka hadir tanpa sekat. Situasi keakraban bisa terjadi, hanya karena berbagi korek api, kemudian ududan atau rokokan.

Sebagai cah wedangan yang kaffah, saya bahkan sudah memiliki tempat wedangan favorit. Meski tangan dingin Mas hik (sebutan bagi si penjual di angkringan langganan saya) dalam membuat indomie tidak senikmat mamang-mamang burjo, namun dalam hal meracik teh, ia sudah di atas rata-rata. 

Cita rasa teh lah yang membedakan antara tempat wedangan satu dengan tempat wedangan yang lain. Dalam hal ini, tempat wedangan yang asli dari mBayat dan Cawas (keduanya merupakan nama daerah di Klaten, yang konon sebagai tempat asal muasal angkringan) belum ada yang mengalahkan.

Hampir di tempat-tempat wedangan di daerah Cawas, menyajikan teh dengan menggunakan poci yang terbuat dari tanah liat, dengan gula batu sebagai pemanis. Sebagai salah satu pionir wedangan, tempat-tempat wedangan di Cawas seperti tahu betul bagaimana menyajikan teh yang nikmat.

Saya bahkan pernah melakukan research sederhana (halah, nggaya tenan nganggo istilah research, hehehe). Yaitu dengan melakukan perjalanan untuk menikmati teh di setiap tempat-tempat wedangan. Dan hasilnya, setiap tempat wedangan memiliki cita rasa yang khas pada teh yang disajikan. 

Dan tau kah Anda, bahwa dalam menemukan resep teh yang pas, seorang penjual juga melakukan research, yaitu dengan melakukan berbagai percobaan. Seperti halnya seorang barista, di tempat wedangan juga dilakukan percobaan-percobaan dengan mencampur beberapa varian teh dari berbagai merk, hingga menemukan cita rasa yang sesuai. Setelah sesuai menurut penjual, baru ia meminta pelanggan untuk menjajalnya, serta meminta masukan dari pelanggannya.

Menurut Mas hik, setiap varian atau merk teh, memiliki ciri khas masing-masing, ada yang warnanya pekat, tapi rasanya kurang. Ada yang warnanya bening, tapi rasanya kuat. Ada juga yang rasanya ada sepet-sepetnya. Dan ada juga yang menghasilkan aroma yang wangi. Maka dari itu, untuk mendapatkan rasa yang sesuai, maka perlu di-blend dan menghasilkan cita rasa baru yang nikmat.

Dalam sebuah kesempatan, sebagai langganan saya pernah diminta untuk menikmati teh hasil racikan terbaru. "Gimana, Pak bro, masuk nggak rasane?" Begitu kata Mas hik, ketika meminta pendapat mengenai hasil racikan barunya.

Ketika di rumah, saya yang menganut paham, simpel. Biasanya hanya menyediakan teh celup gopek atau tong tji, yang akan saya buat ketika perut saya sudah mulai kembung ketika terlalu banyak ngopi.

Namun, untuk pagi ini. Adalah teh yang saya racik sendiri. Saya mencampur beberapa varian teh, seperti teh gopek, gardu, dan pecut. Dan semua teh tersebut saya campur dengan perbandingan 1:1:1. Atau masing-masing teh saya jimpit kira-kira dengan takaran sama, kemudian saya taruh ke dalam gelas yang sudah saya beri sedikit gula. Kemudian saya seduh dengan air panas yang baru saja mendidih. Hasilnya, saya gagal menciptakan cita rasa ala tempat wedangan. 

Meski tidak senikmat di tempat wedangan langganan saya. Tapi setidaknya rasa random yang dihasilkan teh buatan saya pagi ini. Mampu menyadarkan saya, bahkan membuat teh ternyata juga butuh sentuhan dari tangan seorang feminis. 

Eh tapi kalau kamu ndak bisa bikin teh juga ndak apa-apa. Karena yang saya cari itu pendamping hidup, bukan partner bakul wedang.