Senin, 05 Desember 2016

Potong Rambut di Arfa Barbershop

sesaat setelah potong rambut di arfa barbershop
Bukan Sebuah Testimoni. . .


Melalui grup wasap yang saya ikuti, yaitu grup "Hip Hop '09" yang berisi begundal-begundal psikologi UNS angkatan 2009. Saya bertanya kepada mereka, untuk memberikan informasi tentang tukang cukur rambut atau barbershop yang ada paket potong rambut sekaligus keramas. Saya sedang membutuhkan fasilitas tersebut, karena saya baru saja selesai jagong di tempat teman kuliah. Selain itu, saya juga sedang tidak ingin merepotkan orang lain, dengan potong rambut di tempat pangkas rambut madura atau lainnya, itu artinya saya harus numpang mandi, setidaknya keramas di kos teman kuliah saya yang masih di solo.

Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu di salon. Tapi saya bukanlah laki-laki metroseksual yang hobi pergi ke salon. Jadi, salon sudah saya black list.

Ditya, teman kuliah yang sering saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya, yang merupakan CEO sebuah online shop @gildansoc, yang menjual produk impor berupa kaos polos, baik berkerah maupun tanpa kerah. Ia memberikan beberapa alternatif barbershop, salah satu diantaranya di dekat pasar nongko, Solo.

Ketika saya akan pergi ke sana. Saya baru menyadari bahwa di deket kampus psikologi Mesen (Psikologi UNS) juga ada barbershopBarbershop tersebut bernama "Arfa Barbershop" letaknya sebelah barat hotel Asia. Tak jauh dari panggung motor.

Kemudian saya memutuskan untuk potong rambut di sana saja. Karena saya lihat, tidak ada yang ngantri. Dan itu artinya, saya bisa segera di-treatment. Dan karena hal itulah kenapa saya memutuskan untuk potong rambut di sana. Selain itu, juga cepat, karena langsung dilayani, dan bisa langsung dikeramasi tentunya.

Baru datang, tanpa mengambil nomor antrian terlebih dahulu, saya langsung dipersilakan duduk di kursi treatment. Si mas-mas potong rambut langsung bertanya kepada saya, "Mau potong rambut model apa?" Saya yang buta terhadap model-model rambut kekinian hanya menjawab sekenanya saja "Di rapiin aja, Mas"

Ketika sedang mencukur rambut saya, ia nampak mencoba mencairkan suasana dengan mengajak saya ngobrol. Tak lama kemudian, kami justru terlibat salam sebuah obrolan, di saat si mas-mas potong rambut sedang fokus mencukur rambut saya. 

Ia ternyata asli dari Wonogiri. Setelah beberapa bulan bekerja di cabang Jogja, ia meminta untuk dipindahkan di cabang solo. Dalam hati, saya kenapa enggak milih jualan bakso atau mie ayam saja? Kan mie ayam-bakso wonogiri sudah terkenal seantero negeri.

Sebelum rambut saya dikeramasi, ia memastikan bahwa rambut saya sudah dipotong sesuai dengan keinginan saya sebagai pelanggan. Mungkin ini bagian dari SOP. Jadi, ya harus ya harus begitu.

Saya kemudian diminta untuk menuju ruang tempat keramas yang lokasinya tak jauh dari tempat cukur rambut. Dan mungkin ini kali pertama saya dikeramasin orang lain, setelah orangtua saya yang mengeramasi saya waktu masih bocah.

Dan di ruang keramas itulah, si mas-mas potong rambut seperti ngajak ribut. Karena kepala saya diunyel-unyel. Iya, saya tahu itu adalah bagian dari SOP. Tapi mbok ya yang ngeramasi jangan cowok, gitu bisa? Siapa tahu jodoh. *iki uopo meneh:-D

Selesai dikeramas, masih ada satu treatment lagi, yaitu pijat. Dan ini yang membuat saya kecewa dengan pelayanan di sana. Pijatnya cuma bentar banget, jadi jelas kurang lama, mengingat kondisi badan saya sedikit gregesi ini. Tanda-tanda badan saya sedang butuh asupan soto segeer mbok giyem dan jeruk panasnya.

Dan untuk segala treatmen yang dilakukan di arfa barbershop, dari cukur rambut, bonus air mineral, keramas, pijat, meski cuma sebentar, dan ruangan yang nyaman dan ber-ac. Saya kira, 20rb adalah mahar yang wajar atas semua itu.