Senin, 30 Januari 2017

Denda

Ilustrasi

Ada sesuatu yang menempel di pintu kulkas. Waktu saya amati baik-baik, secarik kertas itu berisi semacam aturan-aturan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan yang tidak asing lagi bagi saya. Tuisan yang ditulis oleh seorang bocah kelas 3 SD. Iya, dia adalah adik keponakan saya.

Saya tidak membaca hingga habis kertas yang berisi aturan-aturan itu. Sekilas saya membaca, ada sebuah aturan yang jika dilanggar maka akan didenda 10rb. Misalnya, jika makan tidak di meja makan, maka akan diberlakukan denda 10rb. Jika sudah bersalah tapi malah protes, maka didenda lagi 20rb.

Aturan denda tersebut justru menjadi semacam alat untuk saling mengingatkan satu sama lain. Karena aturan tersebut dibuat atas dasar kesepakatan bersama, dan berlaku untuk semua anggota yang berada di bawah atap rumah tersebut. ”Hey, nanti kena denda lho” begitulah kira-kira satu sama lain ketika saling mengingatkan.

Dan konon semua harus sportif, karena hasil uang denda ketika sudah berkumpul banyak, bisa digunakan untuk makan-makan di luar, atau piknik mungkin.

Di dalam pertemanan saya, system denda-denda gitu juga pernah saya coba berlakukan ketika sedang bersama teman-teman saya. Misalnya ketika sedang berkumpul di luar, maka kami akan membuat semacam kesepakatan. “Barang siapa yang membahas masalah pekerjaan, hukumnya bayarin makan hari itu”

Alasan teman-teman saya, menyepakati hal itu, karena dalam sehari kita sudah bekerja selama 8 jam. Masak iya, harus kita tambahi lagi untuk membicarakan hal itu. Biasanya panjul akan nyeletuk, “Lebih baik membicarakan masalah wanita daripada membicarakan masalah gawean, 8jam sehari sudah membicarakan masalah target, kapan aku mbahas target nikah?”

Mungkin awal-awalnya akan terasa sulit, namun lama-kelamaan hal itu akan berjalan dengan sendirinya. Apalagi sudah ada yang menjadi korban, meski hanya mbayari di tempat wedangan.

Di lingkungan teman-teman kerja saya, saya kesulitan untuk menerapkan aturan denda jika membahas masalah pekerjaan. Alasan mereka, “Ora gayeng nek nongkrong ora mbahas gawean”

Setiap orang memiliki tipikal sendiri-sendiri. Saya tidak bisa memaksakan untuk menerapkan aturan tersebut. Karena ketika mereka membahas pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan masalahnya sendiri. Di saat seperti itulah, saya merasa aman, karena mereka tahu bagaimana caranya agar tetap dalam kondisi waras, di tengah tuntutan pekerjaan. Caranya ya itu tadi, membicarakan segala masalah pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan segala masalah mereka.

Dan semalam, saya lupa bahwa aturan denda ketika membahas pekerjaan, juga kami berlakukan di dalam segala percakapan di media sosial. Karena saya khilaf dan malah mbahas masalah pekerjaan di percakapan wasap. Dan saya harus menerima dengan legowo, ketika harus di denda. Bahkan saya keceplosan dua kali ketika bertanya atau memancing masalah pekerjaan. Jadi saya punya hutang 20rb, hanya karena masalah sepele. Mbahas masalah pekerjaan.


Dalam hati, “Ini aturan yang buat aku sendiri kok, malah aku yang kena denda”
Read more ...

Minggu, 15 Januari 2017

Kucing Yang Nakal


Pagi-pagi, rumah Mbah sudah kedatangan tamu. Saya yang masih njingkrung di atas kasur, karena malamnya saya pulang jam satu pagi, sehabis sholat shubuh saya memutuskan untuk bersembunyi di belakang selimut lagi.

Tamu tersebut adalah tetangga saya. Dan untuk kesekian kalinya, tetangga saya mengeluhkan kenakalan kucing kampung piaraan Mbah saya. Sebenarnya Mbah memiliki beberapa hewan piaraan. Dan semua piaraan Mbah memiliki sejarah yang berbeda-beda. Sudah sejak saya masih kecil Mbah sudah berternak ayam. Dan sempat tidak berternak lagi karena adanya wabah flu burung. Kemudian beberapa tahun ini mulai Mbah mulai berternak ayam lagi.

Meski kami memiliki banyak ayam kampung, namun Mbah sangat jarang menyembelih ayam-ayamnya hanya sekedar untuk dijadikan lauk. Paling cuma beberapa butir telurnya saja yang diambil, dan sisanya segaja ditetaskan untuk memperbanyak keturunan. Mungkin Mbah adalah orang yang penyayang, meski menurut kebanyakan orang menilainya sebagai pribadi yang galak. Namun, bagi saya Mbah adalah orang memegang teguh sebuah prinsip.

Kenapa saya bisa mengatakan Mbah adalah orang yang penyayang. Tentu hal ini bukan karena saya adalah salah satu cucu kesayangannya. Namun, untuk perkara remeh saja, ia tidak mau melakukannya. Seperti menyembelih ayam-ayam ternaknya. Kebanyakan ayam yang sudah beranjak dewasa ia jual. Kalau pengen makan ayam, mending beli saja yang sudah matang, plus sudah ada sambal mentah plus lalapannya.

Entahlah, karena saking sayangnya dengan hewan-hewan ternaknya, hingga menyembelih dan memakan ayam ternaknya saja ia seakan tidak tega. Karena ayam-ayam itulah yang setiap saat ia beri makan. Dan di beberapa kesempatan saya disuruh membeli bekatul untuk persedian makan ayam-ayamnya.

Selain ayam, masih ada dua burung piaraan, dan kucing tentunya. Untuk dua burung piaraannya, semuanya memiliki sejarahnya masing-masing. Seekor burung kuter yang saya kira Mbah sudah mempercayakan segala perasaannya kepada burung tersebut. Karena pernah suatu hari, ketika burung kuternya tidak mau “manggung” ia pernah berucap kepada saya “Kuter e kok gak manggung, cobo kowe takok kabar podo sehat kabeh opo ora” saya pun hanya mengiyakan perintah dari Mbah saya tersebut.

Burung kuter itu pemberian almarhum Mbah buyut, sengaja diberikan kepada simbah, karena di samping perawatannya mudah, juga bisa digunakan sebagai “rungon-rungon” ketika “manggung”.

Selain burung kuter, ada burung jalak. Burung jalak itu saya beri nama Jali (Jalak Item) karena memang jalak itu berwarna hitam. Jalak itu didapat melalui drama penyelamatan yang heroik. Ketika itu, ada jalak yang terbang rendah, kemudian Ibu saya mampu menangkapnya. Dan oleh Pak Dhe dibelikan kandang dan jadilah sebagai piaraan. Awalnya Jalak itu mengalami luka pada kedua kakinya. Hingga saat ini masih terlihat jelas cacat di salah satu kakinya. Namun tak apa, karena di beberapa kesempatan ia seakan pamer dengan mengeluarkan suara merdunya. Jali sempat ingin dibeli tetangga, namun Mbah langsung menolak penawaran dari tetangga tersebut.

Dan, pernah juga ketika saya masih sibuk kerja, tiba-tiba orang rumah telpon. Karena saya sudah menyarankan agar menelpon saya dalam kondisi penting saja, karena untuk hal yang tidak penting lebih saya sarankan untuk mengirim pesan sms saja. Waktu saya angkat telpon, saya seperti menyiapkan psikologis saya untuk mendengarkan kabar buruk. Tapi ternyata, orang rumah menelpon saya karena makanan si Jali habis. Kemudian saya berpikir, “Sejak kapan urusan makanan si jali menjadi sesuatu yang urgent?”

Dan piaraan yang lain lagi adalah kucing kampung yang pagi-pagi sudah dikomplain oleh tetangga saya. Dulu saya sangat mewanti-wanti agar tidak memlihara kucing. Karena jujur saya agak-gimana- gitu sama kucing. Namun, ketika ada saudara simbah yang kebetulan pindah ke Jambi ikut anak-anaknya, entah kenapa kucing milik saudara simbah itu justru dititipkan dan menjadi bagian dari rumah Mbah. Jadilah rumah Mbah kehadiran anggota baru, yaitu seekor kucing, yang kini sudah kesekian kalinya beranak. Setiap kali beranak, kucing-kucing itu pasti dibuang, kalau tidak itu, tahu-tahu anak-anak kucing itu sudah tidak ada.

Saat ini kucing di rumah Mbah ada dua. Satu kucing sudah tua, yaitu kucing yang dulu dititipkan. Satu kucing merupakan kucing anak yang sudah kesekian kalinya. Dan anak kucing itulah yang menjadi satu-satunya kucing nakal. Kucing itu seakan menjadi seorang anak yang hobi jail dan iseng dengan anak tetangga lain. Karena kucing ini benar-benar suka iseng dengan piaraan tetangga. Seperti memangsa anak ayam tetangga seperti yang dikeluhkan oleh beberapa tetangga saya.

Saya pernah berusaha untuk menangkap dan memasukan ke dalam karung. Namun, kucing itu justru berontak, dan berusaha melawan, dan mempu menyelamatkan diri.

Ketika banyak tetangga yang mengeluhkan kenakalan kucing Mbah saya. Di saat seperti itulah kami juga tidak tahu harus berbuat apa. Karena kami juga turut pasrah ketika kucing nakal itu juga turut memangsa anak ayam milik juragannya sendiri, yaitu Mbah saya.

Dan mbah saya pun juga mengadakan semacam sayembara. Mbah juga jengkel dengan perilaku kucing miliknya. Siapa pun yang jengkel silakan diperkenankan untuk menghakimi kucing tersebut. Meski berkata begitu, siapa yang tahu isi hati Mbah. Tega kah Mbah melakukan penghakiman dengan kucing piaraannya tersebut.

Entah lah, karena yang jelas, hanya menyembelih ayam-ayam piaraannya untuk dijadikan lauk saja, ia seperti tidak tega.
Read more ...

Sabtu, 14 Januari 2017

Sepatu Futsal

Sepatu futsal bekas Inug

Sepatu. Saya adalah orang yang bisa dikatakan tidak melek fesyen. Saya juga tidak fanatik terhadap suatu brand atau merk tertentu. Apa yang menurut saya nyaman, itu sudah lebih dari cukup. Termasuk dalam hal memilih sepatu.

Saat ini saya memiliki 5 pasang sepatu; tiga pasang sepatu kets, satu pasang sepatu pantofel, dan satu pasang sepatu futsal.

Untuk sepatu futsal, sebenernya saya memiliki dua pasang sepatu. Sepasang sepatu saya taruh di kosan, karena waktu kuliah saya aktif bermain futsal. Dan sepasang lagi di rumah, karena terkadang ketika akhir pekan biasanya kawan-kawan di rumah akan merayakan malam minggu di lapangan futsal. Iya, kami jomblo semua, jadi malam minggu kami bukan penuh cinta, tapi penuh keringet. Puas?

Sepasang sepatu futsal saya beli dari inug, teman kuliah saya. Diduga dia menjual sepatu futsalnya dikarenakan dalam beberapa pertandingan dia tidak bisa mencetak pundi-pundi goal. Padahal saya sering memberi umpan cantik pada dirinya. Tapi, goal juga tak tercipta. Bahkan ia kami juluki sebagai torres-nya psikologi. Karena saat itu, torres yang memutuskan hijrah ke chelsea, kesulitan untuk menemukan permainan.

Proses negosiasinya pun terbilang unik. Karena kami saling tawar harga di twitter. Setelah itu, prosesi jual-beli atau bahasa kekiniannya COD-anya kami lakukan di lapangan futsal tempat biasa kami latihan. Dan ketika sepatu sudah sah jadi milik saya. Sepatu itu seperti menemukan juragan yang tepat. Terbukti sudah, beberapa goal saya ciptakan dengan sepatu bekas dari inug itu. Padahal saya bukan seorang pemain depan. Saya lebih menikmati berada di posisi belakang. Karena ketika berada di posisi itu, saya lebih leluasa untuk melihat lebar lapangan. Dan dengan sedikit mengatur tempo sambil mencari celah.

Memandang sepatu futsal yang kini sudah penuh debu itu. Saya jadi teringat ketika jaman masih kuliah. Yaitu jaman ketika lemak-lemak belum menggelambir di seluruh badan, dan sebagian terpusat di wilayah perut. Jauh sebelum berat badan yang hampir 75kg ini begitu susah untuk diajak berlari mengejar bola.

Kalau dulu saya mampu bermain 2 jam penuh tanpa diganti saat latihan. Dan 1 jam penuh saat sparing dengan tim lain. Karena bermain latihan sendiri dan berlatih tanding akan jauh berbeda.

Berlatih tanding dengan tim lain, selain menguras energi, juga sangat menguras emosi. Sedangkan saat latihan bersama, kami bermain lebih rileks.

Dan kalau dulu berolahraga ada salah satu cara untuk menjaga kebugaran tubuh. Bahkan ada semacam doktrin untuk kawan-kawan saya, "Karena PES dan Futsal adalah harga diri, kalah rapopo sik penting sombong"

Kini, semua itu sudah berubah. Olahraga bagi kami, adalah semacam agenda untuk menyiksa diri.
Read more ...

Rabu, 04 Januari 2017

Paket Harbolnas

empat buku paket harbolnas dari mojok store

Bahkan, saya sempat mengira bahwa harbolnas adalah hari bola nasional. Dan baru ngeh, ketika saya sedang berselancar di ruang maya.

Ternyata, harbolnas adalah hari belanja online nasional, yang diperingati setiap tanggal 12 Desember. Betapa kuper-nya saya, hal seremeh ini saja saya tidak up to date.

Harbolnas biasanya dirayakan dengan memberikan diskon besar-besaran pada setiap online shop. Dan melalui laman fesbuk saya, mojok store, salah satu lini bisnis dari EA Media Syndicate, juga turut memeriahkan harbolnas dengan diskon lebih dari 70%. Saya pun tertarik untuk membeli buku paket promo harbolnas dari mojok store itu.

Dalam paket promo tersebut, setidaknya ada 4 buah judul buku yang dijual seharga Rp 96.000. Itu sudah termasuk biaya ongkos kirim ke Boyolali.

Setelah saya memesan via wasap, saya segera mentransfer mahar yang harus saya bayar. Setelah itu, saya tinggal menunggu buku itu datang diantar oleh jasa pengiriman barang ke kantor saya. Karena saya mencantumkan alamat kantor sebagai tujuan pengiriman.

Hampir dua minggu paketan saya tak kunjung datang. Beberapa kali saya menanyakan pada penjaga pos security, untuk menanyakan apakah ada paketan untuk saya atau tidak.

Karena paketan tak kunjung datang, saya segera mengontak pihak mojok store, baik melalui email maupun pesan wasap, untuk meminta nomor resinya. Karena sedang cuti natal dan tahun baru, wasap maupun email saya tidak segera dibalas.

Hari senin kemarin, dari pihak mojok store merespon wasap saya. Dan saya diminta untuk sedikit bersabar lagi, dan dari mojok store juga akan memastikan terlebih dahulu. Jika ada kekeliruan, dari pihak mojok store akan segera menyusulkan lagi paket pesanan saya. Selain itu, pihak mojok store juga meminta maaf karena beberapa hari lalu tidak fast respon terhadap keluhan saya.

Sore tadi, paketan yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kemudian saya buka isinya, untuk sekedar memastikan bahwa isinya sesuai dengan yang saya pesan.

Ada 4 buah buku sesuai pesanan saya. Buku tersebut adalah; "Dari twitwar ke twitwar" karya salah satu penulis tirto.id, yaitu Arman Dhani. "Kesentrum Cinta" karya Sigit Susanto. "Tamasya Bola" karya Darmanto Simapea. Dan "Melawat ke Timur" karya Kardono Setyorakhmadi. Semuanya terbitan dari buku mojok.

Adanya buku-buku tersebut, setidaknya saya yang sedang membangkitkan lagi gairah membaca, sudah tahu apa yang akan saya lakukan ketika libur akhir pekan nanti.
Read more ...

Hujan, Sepatu dan Tentang Kedewasaan

Anak : Ayah, ada plastik?
Ayah: Buat apa, adek?
Anak: Di luar sedang hujan, buat tempat sepatu.
Ayah : Nanti adek dianter pakai mobil saja, enggak usah bawa plastik.
Anak: aku mau bawa plastik, nanti sepatu adek basah! *dengan nada sedikit merengek
Ayah : lha adek kan punya sepatu dua.
Anak : Adek pengennya pakai sepatu yang ini terus
.

Percakapan di pagi hari yang gerimis antara ayah dan anaknya yang masih kelas satu SD. Sebagai anak kecil, tentu ia memiliki benda-benda favorit, termasuk sepatu. Ngomong-ngomong soal sepatu favorit, adik keponakan saya, pernah mogok sekolah karena sepatu kesayangannya masih basah. Dan tidak mau memakai sepatu yang lain. Bagi saya, hal itu masih wajar, namanya juga masih anak-anak.

Tokoh kita, si anak ini, sebelumnya memiliki pengalaman kehujanan ketika dijemput ayahnya menggunakan sepeda motor. Sepertinya ia mampu belajar dari pengalaman. Maka, ketika pagi hari itu hujan, ia meminta plastik pada ayahnya. Karena ia tidak ingin sepatu kesukaannya basah, dan tentu hal itu akan membuatnya tidak bisa ia pakai lagi untuk sekolah.

Dalam situasi yang berbeda. Pagi tadi, hujan masih belum reda dari semalam. Saya selalu meyakini, bahwa hujan tidak pernah salah, ia hanya menjalankan syariatNya. Maka saya berangkat kerja dengan jas hujan serta sepatu saya masukan ke dalam jok motor kesayangan saya, si coopy. Dan saya berangkat kerja dengan sedikit menggigil oleh dinginnya pagi, di bawah rintikan hujan. Karena sekali lagi, hujan tidak pernah salah, apalagi dijadikan alasan untuk menoleransi kemalasan, kemudian mbolos kerja.

Ketika saya sampai di kantor, saya melihat kantor masih sepi. Kemudian satu persatu karyawan mulai berdatangan dengan membawa plastik berisi sepatu. Ada yang pergi ke toilet dulu untuk membasuh kaki, kemudian menggunakan sepatu. Ada juga yang menuju ke kantin untuk melepas jas hujan, sekaligus memakai sepatu yang ia taruh di plastik.

Namun, ada juga spesies lain yang dengan santai masuk ke tempat kerja dengan menggunakan sandal. Sudah menggunakan sandal, datang terlambat seolah tanpa beban. Ketika saya bertanya "Mengapa terlambat dan kenapa juga tidak memakai sepatu?" Jawab mereka, "Karena hujan" dan di saat seperti itu terkadang saya ingin marah. Biasanya saya hanya bertanya "Kamu punya sepatu berapa? Kalau cuma punya satu sepatu, terus biar tidak basah caranya gimana?" Biasanya mereka akan menjawab dengan membawa plastik dan sebagainya. Dan saat seperti saya akan melontarkan kalimat sedikit sinis, "Itulah bedanya orang yang mau berpikir sama yang tidak"

Saya mencoba untuk menghindari yang namanya amarah. Karena saya tahu betul, yang saya hadapi adalah orang yang lebih tua dari saya. Sengaja saya menggunakan istilah "tua" dan bukan "dewasa". Karena "tua" dan "dewasa" adalah dua istilah yang berbeda.

Istilah tua lebih merujuk umur secara harfiah atau fisik. Sedangkan dewasa merujuk pada perkembangan secara mental. Maka dalam psikologi perkembangan ada istilah tumbuh - kembang. Tumbuh itu merujuk pada fisik, namun (per)kembang(an) lebih merujuk ke mental atau kedewasaan. *mohon dikoreksi jika saya keliru.

Kemudian, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SD saja tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan, kemudian ada seseorang yang jauh lebih tua (tua ya, bukan dewasa) tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan. Setiap orang memiliki cara untuk melakukan defence mechanism. Salah satunya dengan cara berargumentasi, meski pada kenyataannya lebih mengarah pada alasan. Kemudian, dengan cara menjadikan hujan sebagai alasan. Padahal hujan akan tetap turun kalau memang sudah saatnya turun, dan ia tidak peduli banyak orang yang tidak menghendakinya.
Tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan umur seseorang. 

Di pertemanan fesbuk, saya berteman dengan seseorang yang jauh lebih muda dengan saya. Masih kelas tiga SMA, namun nampak jauh lebih dewasa dari usianya. Hal tersebut nampak dari tulisan-tulisan yang diposting di laman fesbuk miliknya. Ia juga seorang aktivis media sosial, yang terlibat dalam sebuah grup yang membongkar berita-berita hoax. Sebuah grup yang muncul karena keprihatinan tentang banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial.

Jadi sekali lagi, menjadi tua itu adalah sebuah kepastian, menjadi dewasa itu adalah pilihan.


*Ketika menulis catatan ini, saya berusaha untuk melepas "kaca mata" HRD saya. Hal itu saya lakukan untuk mencoba melihat dari sudut pandang lain. Permasalahan kedisiplinan karyawan adalah tanggung jawab saya, selaku HRD. Jika ditanya siapa yang paling bersalah. Tentu saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap hal itu. Namun, kali ini saya mencoba menulis kejadian tadi pagi dengan sudut pandang yang berbeda. Ya, meskipun saya gagal dan terkesan menghakimi.
Read more ...

Cinta

Cinta. Cinta seperti halnya dengan benih yang baru tumbuh. Ia akan hidup, tumbuh dan berakar kuat karena kita sirami dan rawat dengan baik benih yang baru tumbuh itu. Dan benih yang baru tumbuh itu bisa jadi justru mati, karena kita membiarkan begitu saja, atau bahkan malah mencabutnya hingga mati.

Mungkin, apa yang kebanyakan orang menyebutnya dengan cinta pada pandangan pertama. Itu seperti halnya dengan tanaman yang baru tumbuh itu. 

Ketika kita melihat senyum dan parasnya, kemudian kita merasa jatuh hati kepada seseorang. Kemudian cinta yang seperti benih yang baru tumbuh itu, kita rawat dengan baik hingga tumbuh dan berakar kuat. Jadilah itu cinta yang mengantarkan kepada apa yang kita sebut dengan jodoh.

Kemudian bagaimana merawat cinta yang baru tumbuh itu. Menurut Panjul, teman yang menawarkan dirinya sebagai konsultan asmara saya. Karena dirinya merasa pantas, berbekal pengalaman masa lalunya sebagai play boy, dan kini sudah insyaf, serta sedang menperbaiki diri untuk taaruf-an. Menurut Panjul, cinta bisa kita rawat dengan segala bentuk perhatian kita kepada seseorang dengan segala perlakuan romantisme lainnya.

Dan ketika Panjul sudah ngomong soal cinta, saya hanya bisa mangguk-mangguk saja. Maklum, saya masih kalah jam terbang.

Saya percaya bahwa cinta bagian dari emosi. Dan logika lah yang merawatnya hingga tumbuh dan berakar kuat. Ketika kita berjumpa dengan seseorang dan tumbuh benih-benih asmara. Di saat seperti itulah logika kita mulai mengambil alih. 

Apakah kita akan merawat benih-benih cinta itu. Atau justru membiarkan begitu saja, atau justru secara sadar melakukan segala upaya untuk mencabut benih-benih asmara tersebut.

Sebagai manusia kita punya norma dan etika. Kita punya agama, yang di dalamnya juga ada aturan yang mengikat. Kemudian kita bertemu dengan seseorang yang kebetulan sudah menjadi "milik" orang lain. Kemudian tertarik dengan parasnya hingga tumbuh benih-benih asmara. Maka di saat seperti itu, tentu dengan segala upaya kita akan membiarkan atau bahkan mencabut agar tidak menjadi besar benih-benih asmara itu, apalagi hingga terus tumbuh dan berakar kuat.

Singkatnya, mencintai dan dicintai memang sudah menjadi fitrah manusia. Cinta itu bisa tumbuh, karena kita berupaya menjadikan cinta itu semakin tumbuh dan berakar kuat. Dan cinta itu akan mati dengan sendirinya karena kita berupaya untuk membiarkan dan mencabut benih-benih asmara yang baru tumbuh itu.
Selain itu, ada juga yang karena sering melakukan aktifitas bersama baru kemudian tumbuh benih-benih asmara. Istilah jawanya, wit ing tresno jalaran soko kulino. Dalam hal itu, cinta akan dapat dengan mudah tumbuh, karena sudah saling mengerti satu sama lain.

Meskipun terkesan men-dewa-kan logika. Saya juga menyadari, bahwa ada juga tanaman yang ketika dibiarkan saja ia tetap tumbuh subur. Bahkan berkali-kali mencoba untuk mencabut benih-benih yang mulai tumbun itu, namun lagi-lagi benih itu tetap tumbuh lagi dan lagi. 

Berkali-kali logika terus mengelak, namun benih-benih asmara itu tetap tumbuh. Seperti apa yang aku rasakan terhadap kamu. Iya, kamu.  . . .

Dan sepertinya saya sedang overdosis kopi, hingga nulis kaya gini.

Okey abaikan saja.
Read more ...

Kamar Sunyi

Adalah dia yang kini sedang menjalani hidup dalam sunyi. Karena kata sendiri masih terlalu merujuk pada sifat duniawi.

Kini dia sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sebuah pekerjaan yang tak pernah terbayangkan di masa kecilnya. Meski ia mampu untuk menyewa sebuah rumah kecil. Namun, ia enggan melakukan hal itu.

Pernah saya bertanya, kenapa ia tidak menyewa rumah saja, dengan penghasilannya saat ini, saya yakin ia masih bisa menyisikan penghasilannya untuk ditabung setiap bulannya hanya sekedar untuk membayar uang sewa rumah. Alasannya pun sangat sederhana, "aku tidak ingin menghabiskan banyak waktuku hanya sekedar beres-beres rumah, karena rumah akan terus menuntut kehadiranku agar terus terawat dan menghadirkan energi positif"

Ia lebih memilih untuk menyewa kamar kecil. Atau lebih dikenal dengan sebutan kamar kos. Banyak orang yang bertanya-tanya kenapa ia menyewa kamar kos yang sangat sederhana itu. Dengan luas yang tidak begitu besar.

Ketika saya bermain ke tempat kosnya, saya sempat bertanya, kenapa ia justru menyewa kamar kos yang sederhana itu? Tidak kah dia lebih baik menyewa kamar kos yang sedikit lebih luas dan lebih bagus dari kamar itu.

Ia justru menatap saya, kemudian sambil tersenyum ia menjawab pertanyaan saya, "Karena kamar ini, yang saat ini sedang aku butuhkan" jawabnya. "Kamar ini memang kecil, karena itu jelas tidak akan menyita banyak waktuku hanya sekedar untuk membersihkan ruangan yang luasnya tak seberapa ini" lanjutnya

Memang benar, di dalam kamar kosnya itu, hanya terdapat hal-hal yang ia butuhkan saja. Seperti lemari pakaian, meja kecil tempat ia menaruh laptop dan buku-buku bacaannya, serta sebuah dispenser untuk menaruh galon air minum.

Sebelum saya bertanya lebih lanjut, apa yang mendasarinya dalam memilih kamar kos itu. Dia justru menjelaskan pada saya, bahwa sebelumnya ia sudah berkeliling mencari kamar kos. Setelah mengumpulkan beberapa referensi kamar kos. Ia menyerahkan kepada hatinya dalam memilih kamar kos mana yang akan ia gunakan melewati malam. Dan hatinya lah yang memfatwakan pada dirinya untuk memilih kamar kos itu. Baginya, apa yang membuat hatinya nyaman, di situlah tempat terbaik bagi dirinya untuk mengistirahatkan badan.

"Apa masjid di seberang tempat kamu menyewa kamar itu juga menjadi pertimbangan kamu?" Tanya saya, mencoba menyela penjelasan darinya. "Iya, karena suara adzan dari masjid itulah yang setiap hari mengingatkanku kepada Sang Pencipta"

Saya semakin paham, kenapa ia melibatkan hatinya ketika ia memilih sebuah kamar kos yang sangat sederhana itu. Artinya, ia menyakini bahwa adanya bangunan masjid tepat di seberang jalan rumah kosnya adalah tanda bahwa dirinya berada di lingkungan yang tepat. Sesederhana itu, katanya.

Saya tahu betul dengan dia. Meski dia adalah seorang muslim. Ia justru pernah mengirim pesan wasap berupa link sebuah artikel. Waktu saya baca, artikel tersebut berisi tentang masyarakat Jepang yang menerapkan gaya hidup minimalis. Sebuah gaya hidup yang berasal dari ajaran estetika Buddhisme Zen. Dan setelah membaca itu, saya langsung membalas pesan wasapnya dengan bertanya, "Jadi, selama ini kamu sedang menjalani gaya hidup minimalis?" Tanyaku.

"May be" jawabnya dengan singkat dengan di akhiri emoticon senyum. Kemudian ia menjelaskan. Bisa jadi dia justru baru menyadari bahwa apa yang sedang ia jalani adalah sebuah gaya hidup minimalis. Namun, dari kaca mata agama yang ia anut, dalam hal ini adalah islam. Islam juga mengajarkan bagaimana kita hidup. Seperti makan lah sebelum lapar dan berhenti  lah makan sebelum kenyang. Menurutnya ajaran itu, bukan hanya bisa diterapkan dalam urusan perut saja. Namun juga dalam hal apapun. Karena menurutnya sudah semestinya untuk hidup itu secukupnya saja. Tidak boleh berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu jelas tidak baik.

"Bagaimana caranya agar merasa cukup?" Tanyaku kepadanya. Kemudian dia menjawabnya bahwa dengan mensyukuri apa yang kita punyai lah kita akan merasa cukup. Hidup sesuai apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena keinginan adalah nafsu yang tak pernah bisa puas untuk dituruti. Dan setelah itu, kita akan tahu apa yang namanya bahagia.

Siapakah "dia" yang saya maksud? Yang jelas bukan panjul, karena panjul masih kesulitan untuk keluar dari lingkaran hedonisme.

Read more ...

Om Toilet Om

Jam kerja saya memang sedikit "wagu" untuk seorang staff HR. Karena harus meng-cover satu shift, jam kerja saya juga harus ikut shift. Meski awalnya ragu, namun saya sangat menikmati bekerja secara shift.

Bekerja secara shift, membuat saya memiliki banyak waktu longgar. Seperti tidur siang misalnya. Karena sangat tidak memungkinkan ada orang kantoran yang masih memiliki waktu luang untuk sekedar tidur siang. Okelah, ada yang bisa memanfaatkan waktu istirahat setelah jam makan siang. Tapi, yakin bisa tidur dengan nyenyak seperti saat saya tidur siang di atas kasur empuk dengan semilir angin dari kipas angin. Saya rasa tidak.

Jadi, bisa dibilang saya merasa beruntung bekerja secara shift.

Ketika masuk shift pagi, ada sebuah momen di saat saya tidak boleh diganggu gugat. Karena berangkat pagi-pagi, biasanya saya sekitar pukul 5 pagi sudah "mancal" si coopy, motor matic kesayangan saya. Jadi, aktivitas sakral, yaitu boker di pagi hari, mau tidak mau, harus saya tunaikan di toilet kantor. Mengingat jam biologis saya sekitar pukul 6 pagi. Dan di saat di toilet itulah, saya akan jadi orang yang paling dicari hanya sekedar meminta tanda tangan.

Saya memiliki kebiasaan berlama-lama di toilet untuk sekedar buang hajat. Hal itu dikarenakan saya terlalu khusyuk dalam melakukan aktifitas boker. Terkadang juga, saya justru membawa handphone untuk melakukan aktivitas lainnya. Aktivitas apa? Yap, baca berita di media sosial.

Bagi saya toilet adalah salah satu ruang sunyi yang menyimpan banyak ketenangan. Saking tenangnya, tetesan air kran yang menetes pun bisa saya rasakan.

Di sebuah video di youtube, ada musisi jazz yang pernah mengatakan, bahwa hal yang paling disuka adalah ketika di dalam toilet. Di toilet ia membawa gitar kecil sambil rokokan, kemudian membuat lagu. Dan ketika di dalam toilet, ia tidak boleh diganggu. Dan fyi aja, beberapa tulisan saya, saya buat ketika saya sedang di dalam toilet sambil boker. Jadi wajar kalau tulisan saya sedikit bau pesing, hahaha

Seperti yang saya katakan tadi, di toilet itu menyimpan ketenangan. Di saat seperti itulah segala endapan-endapan dalam pikiran kita justru muncul ketika sedang khusyuk melakukan aktivitas boker. Bahkan, juga mampu menghasilkan inspirasi. Dan momen-momen tertentu, saya justru merenung ketika berada di dalam toilet. Saya merenungi tentang diri saya. Dan tentang hal-hal yang saya rasakan.

Selain itu, toilet juga bisa kita jadikan dasar dalam menilai sesuatu. Kebersihan, misalnya. Pak Gik, Guru bahasa Indonesia SMP saya pernah berkata, "jika ingin melihat kebersihan suatu rumah, gedung atau sekolahan, yang harus pertama kali dilihat adalah toiletnya. Jika toiletnya bersih, bisa dipastikan gedung, rumah atau bangunan tersebut selalu menjaga kebersihan"

Termasuk dalam memilih kos, saya selalu menyempatkan untuk melihat toiletnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk ngekos di sana.

Namun, segala hal tentang toilet dirusak oleh orang-orang yang tidak manusiawi. Kejadian di pulomas, di mana satu keluarga berjumlah 11 orang di sekap di dalam toilet yang berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter. Dari 11 korban, hanya 5 korban yang selamat, sedangkan yang lainnya meninggal karena lemas kekurangan oksigen. Betapa tidak manusiawinya si pelaku. Toilet yang menjadi ruang-ruang sunyi yang menyimpan ketenangan justru digunakan untuk membunuh manusia. Sungguh biadab! Ketika boker dengan sedikit ngeden saja sudah membuat saya keluar keringat dingin, bagaimana rasanya harus bertahan dalam ruangan sempit yang penuh sesak dengan orang itu. Semoga korban perampokan di pulomas diterima di sisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Serta korban yang selamat segera diberi kesehatan, dan segera pulih kondisi psikologisnya. Karena bagaimana pun juga, kejadian itu akan menimbulkan trauma yang mendalam.

Read more ...

Teman Fesbuk

Semenjak dua tahun lalu, saya memutuskan hanya menggunakan jejaring sosial fesbuk. Semenjak itu pula saya tidak aktif lagi di twitter, path, maupun media sosial yang lagi ngehitz, seperti instagram. Di media sosial youtube saya lebih sebagai penikmat saja. Sedangkan untuk fitur chatting wasap dan bbm masih menjadi pilihan utama.

Saya berusaha untuk berteman dari semua kalangan. Tidak harus kenal satu sama lain.  Bagi saya, berteman itu artinya saya bisa mengikuti status atau postingannya, tanpa perlu dikonfirmasi pertemanannya. Kalau dalam bahasa twitternya, saya tidak butuh folbek, atau sampai ngemis minta di-folbek. Karena saya bisa belajar dari postingan-postingan yang positif dari idola-idola saya.

Di fesbuk, saya berkuasa atas apa saja yang beredar di laman dinding fesbuk saya. Artinya, saya berkuasa atas apa-apa yang ada di fesbuk milik saya. Termasuk dalam memilih teman fesbuk.

Bahkan, saya pernah memblokir teman fesbuk saya karena ia sering membagikan sebuah link dengan umpatan, dan ketika saya baca artikel di link tersebut. Ternyata isi artikel dan umpatannya tidak sesuai dengan isi artikel. Atau dengan kata lain, ia tidak mengendalikan diri, atau bersabar untuk membaca hingga tuntas terlebih dahulu sebelum berkomentar. Dan orang seperti itu, cukup berteman di dunia nyata saja. Hal itu saya lakukan untuk menjaga diri saya sendiri agar tetap dalam kondisi waras. Beberapa lagi saya blokir karena terlalu sering klik "like", "Share" atau ketik "amin" agar masuk surga. *Surgane mbahne po piye.

Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh teman lama saya, gara-garanya adalah teman fesbuk. Hal itu bermula ketika teman saya mengetahui bahwa di fesbuk saya menjalin pertemanan dengan seseorang yang ia anggap "bahaya".

Bahaya karena menurut teman saya, jika dilihat dari postingan di fesbuk, lebih mengarah ke liberal, serta penganut syiah. Selain itu juga, orang tersebut adalah orang yang berada di barisan pro Ahok. Dan baru-baru ini mencetak dan menerbitkan sendiri bukunya, buku tentang Ahok. Karena penerbitnya kemungkinan besar tidak berani mengambil risiko jika harus menerbitkan buku tentang seseorang yang sedang tersandung kasus dugaan penistaan agama.

Meski teman saya tidak bertanya, kenapa saya berteman dengan orang itu. Saya merasa harus menjelaskan kenapa saya berteman dengan orang yang dianggap "bahaya" itu di pertemanan fesbuk.

Padahal, di fesbuk saya berteman dengan dua kubu yang sedang berselisih pendapat. Karena perdebatan di media sosial, akan bermuara pada perdebatan antara dua kubu, baik yang pro dan kontra. Hal tersebut saya lakukan karena saya sedang belajar untuk bersikap adil, yaitu dengan mencoba melihat dari dua sudut pandang yang berbeda.

Melihat hanya dari satu sudut pandang, hanya akan membuat kita lebih mudah untuk menghakimi. Dan menurut saya itu tidak adil. Bukankah kata Mbah Pram kita harus adil sejak dari pikiran?

Mengamati perdebatan di media sosial seperti halnya melihat pertandingan futsal. Cara termudah bagaimana memahami dua kubu saling menyerang dan bertahan, adalah dengan menjadi penonton, dan bukan pemain. Dan saya mencoba menempatkan diri sebagai penonton.

Namun demikian, saya tahu betul dengan teman yang mengingatkan saya itu. Niat dia baik. Dalam hal ilmu agama, saya juga masih seperti "remukan roti". Artinya saya masih perlu belajar banyak. Dan mungkin, itu juga menjadi kekhawatiran teman saya, jika saya belajar pada orang yang salah.

Suwun lho wes dielingke babagan kabecikan. *salim

Read more ...