Rabu, 04 Januari 2017

Cinta

Cinta. Cinta seperti halnya dengan benih yang baru tumbuh. Ia akan hidup, tumbuh dan berakar kuat karena kita sirami dan rawat dengan baik benih yang baru tumbuh itu. Dan benih yang baru tumbuh itu bisa jadi justru mati, karena kita membiarkan begitu saja, atau bahkan malah mencabutnya hingga mati.

Mungkin, apa yang kebanyakan orang menyebutnya dengan cinta pada pandangan pertama. Itu seperti halnya dengan tanaman yang baru tumbuh itu. 

Ketika kita melihat senyum dan parasnya, kemudian kita merasa jatuh hati kepada seseorang. Kemudian cinta yang seperti benih yang baru tumbuh itu, kita rawat dengan baik hingga tumbuh dan berakar kuat. Jadilah itu cinta yang mengantarkan kepada apa yang kita sebut dengan jodoh.

Kemudian bagaimana merawat cinta yang baru tumbuh itu. Menurut Panjul, teman yang menawarkan dirinya sebagai konsultan asmara saya. Karena dirinya merasa pantas, berbekal pengalaman masa lalunya sebagai play boy, dan kini sudah insyaf, serta sedang menperbaiki diri untuk taaruf-an. Menurut Panjul, cinta bisa kita rawat dengan segala bentuk perhatian kita kepada seseorang dengan segala perlakuan romantisme lainnya.

Dan ketika Panjul sudah ngomong soal cinta, saya hanya bisa mangguk-mangguk saja. Maklum, saya masih kalah jam terbang.

Saya percaya bahwa cinta bagian dari emosi. Dan logika lah yang merawatnya hingga tumbuh dan berakar kuat. Ketika kita berjumpa dengan seseorang dan tumbuh benih-benih asmara. Di saat seperti itulah logika kita mulai mengambil alih. 

Apakah kita akan merawat benih-benih cinta itu. Atau justru membiarkan begitu saja, atau justru secara sadar melakukan segala upaya untuk mencabut benih-benih asmara tersebut.

Sebagai manusia kita punya norma dan etika. Kita punya agama, yang di dalamnya juga ada aturan yang mengikat. Kemudian kita bertemu dengan seseorang yang kebetulan sudah menjadi "milik" orang lain. Kemudian tertarik dengan parasnya hingga tumbuh benih-benih asmara. Maka di saat seperti itu, tentu dengan segala upaya kita akan membiarkan atau bahkan mencabut agar tidak menjadi besar benih-benih asmara itu, apalagi hingga terus tumbuh dan berakar kuat.

Singkatnya, mencintai dan dicintai memang sudah menjadi fitrah manusia. Cinta itu bisa tumbuh, karena kita berupaya menjadikan cinta itu semakin tumbuh dan berakar kuat. Dan cinta itu akan mati dengan sendirinya karena kita berupaya untuk membiarkan dan mencabut benih-benih asmara yang baru tumbuh itu.
Selain itu, ada juga yang karena sering melakukan aktifitas bersama baru kemudian tumbuh benih-benih asmara. Istilah jawanya, wit ing tresno jalaran soko kulino. Dalam hal itu, cinta akan dapat dengan mudah tumbuh, karena sudah saling mengerti satu sama lain.

Meskipun terkesan men-dewa-kan logika. Saya juga menyadari, bahwa ada juga tanaman yang ketika dibiarkan saja ia tetap tumbuh subur. Bahkan berkali-kali mencoba untuk mencabut benih-benih yang mulai tumbun itu, namun lagi-lagi benih itu tetap tumbuh lagi dan lagi. 

Berkali-kali logika terus mengelak, namun benih-benih asmara itu tetap tumbuh. Seperti apa yang aku rasakan terhadap kamu. Iya, kamu.  . . .

Dan sepertinya saya sedang overdosis kopi, hingga nulis kaya gini.

Okey abaikan saja.