Senin, 30 Januari 2017

Denda

Ilustrasi

Ada sesuatu yang menempel di pintu kulkas. Waktu saya amati baik-baik, secarik kertas itu berisi semacam aturan-aturan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan yang tidak asing lagi bagi saya. Tuisan yang ditulis oleh seorang bocah kelas 3 SD. Iya, dia adalah adik keponakan saya.

Saya tidak membaca hingga habis kertas yang berisi aturan-aturan itu. Sekilas saya membaca, ada sebuah aturan yang jika dilanggar maka akan didenda 10rb. Misalnya, jika makan tidak di meja makan, maka akan diberlakukan denda 10rb. Jika sudah bersalah tapi malah protes, maka didenda lagi 20rb.

Aturan denda tersebut justru menjadi semacam alat untuk saling mengingatkan satu sama lain. Karena aturan tersebut dibuat atas dasar kesepakatan bersama, dan berlaku untuk semua anggota yang berada di bawah atap rumah tersebut. ”Hey, nanti kena denda lho” begitulah kira-kira satu sama lain ketika saling mengingatkan.

Dan konon semua harus sportif, karena hasil uang denda ketika sudah berkumpul banyak, bisa digunakan untuk makan-makan di luar, atau piknik mungkin.

Di dalam pertemanan saya, system denda-denda gitu juga pernah saya coba berlakukan ketika sedang bersama teman-teman saya. Misalnya ketika sedang berkumpul di luar, maka kami akan membuat semacam kesepakatan. “Barang siapa yang membahas masalah pekerjaan, hukumnya bayarin makan hari itu”

Alasan teman-teman saya, menyepakati hal itu, karena dalam sehari kita sudah bekerja selama 8 jam. Masak iya, harus kita tambahi lagi untuk membicarakan hal itu. Biasanya panjul akan nyeletuk, “Lebih baik membicarakan masalah wanita daripada membicarakan masalah gawean, 8jam sehari sudah membicarakan masalah target, kapan aku mbahas target nikah?”

Mungkin awal-awalnya akan terasa sulit, namun lama-kelamaan hal itu akan berjalan dengan sendirinya. Apalagi sudah ada yang menjadi korban, meski hanya mbayari di tempat wedangan.

Di lingkungan teman-teman kerja saya, saya kesulitan untuk menerapkan aturan denda jika membahas masalah pekerjaan. Alasan mereka, “Ora gayeng nek nongkrong ora mbahas gawean”

Setiap orang memiliki tipikal sendiri-sendiri. Saya tidak bisa memaksakan untuk menerapkan aturan tersebut. Karena ketika mereka membahas pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan masalahnya sendiri. Di saat seperti itulah, saya merasa aman, karena mereka tahu bagaimana caranya agar tetap dalam kondisi waras, di tengah tuntutan pekerjaan. Caranya ya itu tadi, membicarakan segala masalah pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan segala masalah mereka.

Dan semalam, saya lupa bahwa aturan denda ketika membahas pekerjaan, juga kami berlakukan di dalam segala percakapan di media sosial. Karena saya khilaf dan malah mbahas masalah pekerjaan di percakapan wasap. Dan saya harus menerima dengan legowo, ketika harus di denda. Bahkan saya keceplosan dua kali ketika bertanya atau memancing masalah pekerjaan. Jadi saya punya hutang 20rb, hanya karena masalah sepele. Mbahas masalah pekerjaan.


Dalam hati, “Ini aturan yang buat aku sendiri kok, malah aku yang kena denda”