Rabu, 04 Januari 2017

Hujan, Sepatu dan Tentang Kedewasaan

Anak : Ayah, ada plastik?
Ayah: Buat apa, adek?
Anak: Di luar sedang hujan, buat tempat sepatu.
Ayah : Nanti adek dianter pakai mobil saja, enggak usah bawa plastik.
Anak: aku mau bawa plastik, nanti sepatu adek basah! *dengan nada sedikit merengek
Ayah : lha adek kan punya sepatu dua.
Anak : Adek pengennya pakai sepatu yang ini terus
.

Percakapan di pagi hari yang gerimis antara ayah dan anaknya yang masih kelas satu SD. Sebagai anak kecil, tentu ia memiliki benda-benda favorit, termasuk sepatu. Ngomong-ngomong soal sepatu favorit, adik keponakan saya, pernah mogok sekolah karena sepatu kesayangannya masih basah. Dan tidak mau memakai sepatu yang lain. Bagi saya, hal itu masih wajar, namanya juga masih anak-anak.

Tokoh kita, si anak ini, sebelumnya memiliki pengalaman kehujanan ketika dijemput ayahnya menggunakan sepeda motor. Sepertinya ia mampu belajar dari pengalaman. Maka, ketika pagi hari itu hujan, ia meminta plastik pada ayahnya. Karena ia tidak ingin sepatu kesukaannya basah, dan tentu hal itu akan membuatnya tidak bisa ia pakai lagi untuk sekolah.

Dalam situasi yang berbeda. Pagi tadi, hujan masih belum reda dari semalam. Saya selalu meyakini, bahwa hujan tidak pernah salah, ia hanya menjalankan syariatNya. Maka saya berangkat kerja dengan jas hujan serta sepatu saya masukan ke dalam jok motor kesayangan saya, si coopy. Dan saya berangkat kerja dengan sedikit menggigil oleh dinginnya pagi, di bawah rintikan hujan. Karena sekali lagi, hujan tidak pernah salah, apalagi dijadikan alasan untuk menoleransi kemalasan, kemudian mbolos kerja.

Ketika saya sampai di kantor, saya melihat kantor masih sepi. Kemudian satu persatu karyawan mulai berdatangan dengan membawa plastik berisi sepatu. Ada yang pergi ke toilet dulu untuk membasuh kaki, kemudian menggunakan sepatu. Ada juga yang menuju ke kantin untuk melepas jas hujan, sekaligus memakai sepatu yang ia taruh di plastik.

Namun, ada juga spesies lain yang dengan santai masuk ke tempat kerja dengan menggunakan sandal. Sudah menggunakan sandal, datang terlambat seolah tanpa beban. Ketika saya bertanya "Mengapa terlambat dan kenapa juga tidak memakai sepatu?" Jawab mereka, "Karena hujan" dan di saat seperti itu terkadang saya ingin marah. Biasanya saya hanya bertanya "Kamu punya sepatu berapa? Kalau cuma punya satu sepatu, terus biar tidak basah caranya gimana?" Biasanya mereka akan menjawab dengan membawa plastik dan sebagainya. Dan saat seperti saya akan melontarkan kalimat sedikit sinis, "Itulah bedanya orang yang mau berpikir sama yang tidak"

Saya mencoba untuk menghindari yang namanya amarah. Karena saya tahu betul, yang saya hadapi adalah orang yang lebih tua dari saya. Sengaja saya menggunakan istilah "tua" dan bukan "dewasa". Karena "tua" dan "dewasa" adalah dua istilah yang berbeda.

Istilah tua lebih merujuk umur secara harfiah atau fisik. Sedangkan dewasa merujuk pada perkembangan secara mental. Maka dalam psikologi perkembangan ada istilah tumbuh - kembang. Tumbuh itu merujuk pada fisik, namun (per)kembang(an) lebih merujuk ke mental atau kedewasaan. *mohon dikoreksi jika saya keliru.

Kemudian, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SD saja tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan, kemudian ada seseorang yang jauh lebih tua (tua ya, bukan dewasa) tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan. Setiap orang memiliki cara untuk melakukan defence mechanism. Salah satunya dengan cara berargumentasi, meski pada kenyataannya lebih mengarah pada alasan. Kemudian, dengan cara menjadikan hujan sebagai alasan. Padahal hujan akan tetap turun kalau memang sudah saatnya turun, dan ia tidak peduli banyak orang yang tidak menghendakinya.
Tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan umur seseorang. 

Di pertemanan fesbuk, saya berteman dengan seseorang yang jauh lebih muda dengan saya. Masih kelas tiga SMA, namun nampak jauh lebih dewasa dari usianya. Hal tersebut nampak dari tulisan-tulisan yang diposting di laman fesbuk miliknya. Ia juga seorang aktivis media sosial, yang terlibat dalam sebuah grup yang membongkar berita-berita hoax. Sebuah grup yang muncul karena keprihatinan tentang banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial.

Jadi sekali lagi, menjadi tua itu adalah sebuah kepastian, menjadi dewasa itu adalah pilihan.


*Ketika menulis catatan ini, saya berusaha untuk melepas "kaca mata" HRD saya. Hal itu saya lakukan untuk mencoba melihat dari sudut pandang lain. Permasalahan kedisiplinan karyawan adalah tanggung jawab saya, selaku HRD. Jika ditanya siapa yang paling bersalah. Tentu saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap hal itu. Namun, kali ini saya mencoba menulis kejadian tadi pagi dengan sudut pandang yang berbeda. Ya, meskipun saya gagal dan terkesan menghakimi.