Rabu, 04 Januari 2017

Kamar Sunyi

Adalah dia yang kini sedang menjalani hidup dalam sunyi. Karena kata sendiri masih terlalu merujuk pada sifat duniawi.

Kini dia sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sebuah pekerjaan yang tak pernah terbayangkan di masa kecilnya. Meski ia mampu untuk menyewa sebuah rumah kecil. Namun, ia enggan melakukan hal itu.

Pernah saya bertanya, kenapa ia tidak menyewa rumah saja, dengan penghasilannya saat ini, saya yakin ia masih bisa menyisikan penghasilannya untuk ditabung setiap bulannya hanya sekedar untuk membayar uang sewa rumah. Alasannya pun sangat sederhana, "aku tidak ingin menghabiskan banyak waktuku hanya sekedar beres-beres rumah, karena rumah akan terus menuntut kehadiranku agar terus terawat dan menghadirkan energi positif"

Ia lebih memilih untuk menyewa kamar kecil. Atau lebih dikenal dengan sebutan kamar kos. Banyak orang yang bertanya-tanya kenapa ia menyewa kamar kos yang sangat sederhana itu. Dengan luas yang tidak begitu besar.

Ketika saya bermain ke tempat kosnya, saya sempat bertanya, kenapa ia justru menyewa kamar kos yang sederhana itu? Tidak kah dia lebih baik menyewa kamar kos yang sedikit lebih luas dan lebih bagus dari kamar itu.

Ia justru menatap saya, kemudian sambil tersenyum ia menjawab pertanyaan saya, "Karena kamar ini, yang saat ini sedang aku butuhkan" jawabnya. "Kamar ini memang kecil, karena itu jelas tidak akan menyita banyak waktuku hanya sekedar untuk membersihkan ruangan yang luasnya tak seberapa ini" lanjutnya

Memang benar, di dalam kamar kosnya itu, hanya terdapat hal-hal yang ia butuhkan saja. Seperti lemari pakaian, meja kecil tempat ia menaruh laptop dan buku-buku bacaannya, serta sebuah dispenser untuk menaruh galon air minum.

Sebelum saya bertanya lebih lanjut, apa yang mendasarinya dalam memilih kamar kos itu. Dia justru menjelaskan pada saya, bahwa sebelumnya ia sudah berkeliling mencari kamar kos. Setelah mengumpulkan beberapa referensi kamar kos. Ia menyerahkan kepada hatinya dalam memilih kamar kos mana yang akan ia gunakan melewati malam. Dan hatinya lah yang memfatwakan pada dirinya untuk memilih kamar kos itu. Baginya, apa yang membuat hatinya nyaman, di situlah tempat terbaik bagi dirinya untuk mengistirahatkan badan.

"Apa masjid di seberang tempat kamu menyewa kamar itu juga menjadi pertimbangan kamu?" Tanya saya, mencoba menyela penjelasan darinya. "Iya, karena suara adzan dari masjid itulah yang setiap hari mengingatkanku kepada Sang Pencipta"

Saya semakin paham, kenapa ia melibatkan hatinya ketika ia memilih sebuah kamar kos yang sangat sederhana itu. Artinya, ia menyakini bahwa adanya bangunan masjid tepat di seberang jalan rumah kosnya adalah tanda bahwa dirinya berada di lingkungan yang tepat. Sesederhana itu, katanya.

Saya tahu betul dengan dia. Meski dia adalah seorang muslim. Ia justru pernah mengirim pesan wasap berupa link sebuah artikel. Waktu saya baca, artikel tersebut berisi tentang masyarakat Jepang yang menerapkan gaya hidup minimalis. Sebuah gaya hidup yang berasal dari ajaran estetika Buddhisme Zen. Dan setelah membaca itu, saya langsung membalas pesan wasapnya dengan bertanya, "Jadi, selama ini kamu sedang menjalani gaya hidup minimalis?" Tanyaku.

"May be" jawabnya dengan singkat dengan di akhiri emoticon senyum. Kemudian ia menjelaskan. Bisa jadi dia justru baru menyadari bahwa apa yang sedang ia jalani adalah sebuah gaya hidup minimalis. Namun, dari kaca mata agama yang ia anut, dalam hal ini adalah islam. Islam juga mengajarkan bagaimana kita hidup. Seperti makan lah sebelum lapar dan berhenti  lah makan sebelum kenyang. Menurutnya ajaran itu, bukan hanya bisa diterapkan dalam urusan perut saja. Namun juga dalam hal apapun. Karena menurutnya sudah semestinya untuk hidup itu secukupnya saja. Tidak boleh berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu jelas tidak baik.

"Bagaimana caranya agar merasa cukup?" Tanyaku kepadanya. Kemudian dia menjawabnya bahwa dengan mensyukuri apa yang kita punyai lah kita akan merasa cukup. Hidup sesuai apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena keinginan adalah nafsu yang tak pernah bisa puas untuk dituruti. Dan setelah itu, kita akan tahu apa yang namanya bahagia.

Siapakah "dia" yang saya maksud? Yang jelas bukan panjul, karena panjul masih kesulitan untuk keluar dari lingkaran hedonisme.