Minggu, 15 Januari 2017

Kucing Yang Nakal


Pagi-pagi, rumah Mbah sudah kedatangan tamu. Saya yang masih njingkrung di atas kasur, karena malamnya saya pulang jam satu pagi, sehabis sholat shubuh saya memutuskan untuk bersembunyi di belakang selimut lagi.

Tamu tersebut adalah tetangga saya. Dan untuk kesekian kalinya, tetangga saya mengeluhkan kenakalan kucing kampung piaraan Mbah saya. Sebenarnya Mbah memiliki beberapa hewan piaraan. Dan semua piaraan Mbah memiliki sejarah yang berbeda-beda. Sudah sejak saya masih kecil Mbah sudah berternak ayam. Dan sempat tidak berternak lagi karena adanya wabah flu burung. Kemudian beberapa tahun ini mulai Mbah mulai berternak ayam lagi.

Meski kami memiliki banyak ayam kampung, namun Mbah sangat jarang menyembelih ayam-ayamnya hanya sekedar untuk dijadikan lauk. Paling cuma beberapa butir telurnya saja yang diambil, dan sisanya segaja ditetaskan untuk memperbanyak keturunan. Mungkin Mbah adalah orang yang penyayang, meski menurut kebanyakan orang menilainya sebagai pribadi yang galak. Namun, bagi saya Mbah adalah orang memegang teguh sebuah prinsip.

Kenapa saya bisa mengatakan Mbah adalah orang yang penyayang. Tentu hal ini bukan karena saya adalah salah satu cucu kesayangannya. Namun, untuk perkara remeh saja, ia tidak mau melakukannya. Seperti menyembelih ayam-ayam ternaknya. Kebanyakan ayam yang sudah beranjak dewasa ia jual. Kalau pengen makan ayam, mending beli saja yang sudah matang, plus sudah ada sambal mentah plus lalapannya.

Entahlah, karena saking sayangnya dengan hewan-hewan ternaknya, hingga menyembelih dan memakan ayam ternaknya saja ia seakan tidak tega. Karena ayam-ayam itulah yang setiap saat ia beri makan. Dan di beberapa kesempatan saya disuruh membeli bekatul untuk persedian makan ayam-ayamnya.

Selain ayam, masih ada dua burung piaraan, dan kucing tentunya. Untuk dua burung piaraannya, semuanya memiliki sejarahnya masing-masing. Seekor burung kuter yang saya kira Mbah sudah mempercayakan segala perasaannya kepada burung tersebut. Karena pernah suatu hari, ketika burung kuternya tidak mau “manggung” ia pernah berucap kepada saya “Kuter e kok gak manggung, cobo kowe takok kabar podo sehat kabeh opo ora” saya pun hanya mengiyakan perintah dari Mbah saya tersebut.

Burung kuter itu pemberian almarhum Mbah buyut, sengaja diberikan kepada simbah, karena di samping perawatannya mudah, juga bisa digunakan sebagai “rungon-rungon” ketika “manggung”.

Selain burung kuter, ada burung jalak. Burung jalak itu saya beri nama Jali (Jalak Item) karena memang jalak itu berwarna hitam. Jalak itu didapat melalui drama penyelamatan yang heroik. Ketika itu, ada jalak yang terbang rendah, kemudian Ibu saya mampu menangkapnya. Dan oleh Pak Dhe dibelikan kandang dan jadilah sebagai piaraan. Awalnya Jalak itu mengalami luka pada kedua kakinya. Hingga saat ini masih terlihat jelas cacat di salah satu kakinya. Namun tak apa, karena di beberapa kesempatan ia seakan pamer dengan mengeluarkan suara merdunya. Jali sempat ingin dibeli tetangga, namun Mbah langsung menolak penawaran dari tetangga tersebut.

Dan, pernah juga ketika saya masih sibuk kerja, tiba-tiba orang rumah telpon. Karena saya sudah menyarankan agar menelpon saya dalam kondisi penting saja, karena untuk hal yang tidak penting lebih saya sarankan untuk mengirim pesan sms saja. Waktu saya angkat telpon, saya seperti menyiapkan psikologis saya untuk mendengarkan kabar buruk. Tapi ternyata, orang rumah menelpon saya karena makanan si Jali habis. Kemudian saya berpikir, “Sejak kapan urusan makanan si jali menjadi sesuatu yang urgent?”

Dan piaraan yang lain lagi adalah kucing kampung yang pagi-pagi sudah dikomplain oleh tetangga saya. Dulu saya sangat mewanti-wanti agar tidak memlihara kucing. Karena jujur saya agak-gimana- gitu sama kucing. Namun, ketika ada saudara simbah yang kebetulan pindah ke Jambi ikut anak-anaknya, entah kenapa kucing milik saudara simbah itu justru dititipkan dan menjadi bagian dari rumah Mbah. Jadilah rumah Mbah kehadiran anggota baru, yaitu seekor kucing, yang kini sudah kesekian kalinya beranak. Setiap kali beranak, kucing-kucing itu pasti dibuang, kalau tidak itu, tahu-tahu anak-anak kucing itu sudah tidak ada.

Saat ini kucing di rumah Mbah ada dua. Satu kucing sudah tua, yaitu kucing yang dulu dititipkan. Satu kucing merupakan kucing anak yang sudah kesekian kalinya. Dan anak kucing itulah yang menjadi satu-satunya kucing nakal. Kucing itu seakan menjadi seorang anak yang hobi jail dan iseng dengan anak tetangga lain. Karena kucing ini benar-benar suka iseng dengan piaraan tetangga. Seperti memangsa anak ayam tetangga seperti yang dikeluhkan oleh beberapa tetangga saya.

Saya pernah berusaha untuk menangkap dan memasukan ke dalam karung. Namun, kucing itu justru berontak, dan berusaha melawan, dan mempu menyelamatkan diri.

Ketika banyak tetangga yang mengeluhkan kenakalan kucing Mbah saya. Di saat seperti itulah kami juga tidak tahu harus berbuat apa. Karena kami juga turut pasrah ketika kucing nakal itu juga turut memangsa anak ayam milik juragannya sendiri, yaitu Mbah saya.

Dan mbah saya pun juga mengadakan semacam sayembara. Mbah juga jengkel dengan perilaku kucing miliknya. Siapa pun yang jengkel silakan diperkenankan untuk menghakimi kucing tersebut. Meski berkata begitu, siapa yang tahu isi hati Mbah. Tega kah Mbah melakukan penghakiman dengan kucing piaraannya tersebut.

Entah lah, karena yang jelas, hanya menyembelih ayam-ayam piaraannya untuk dijadikan lauk saja, ia seperti tidak tega.