Rabu, 04 Januari 2017

Om Toilet Om

Jam kerja saya memang sedikit "wagu" untuk seorang staff HR. Karena harus meng-cover satu shift, jam kerja saya juga harus ikut shift. Meski awalnya ragu, namun saya sangat menikmati bekerja secara shift.

Bekerja secara shift, membuat saya memiliki banyak waktu longgar. Seperti tidur siang misalnya. Karena sangat tidak memungkinkan ada orang kantoran yang masih memiliki waktu luang untuk sekedar tidur siang. Okelah, ada yang bisa memanfaatkan waktu istirahat setelah jam makan siang. Tapi, yakin bisa tidur dengan nyenyak seperti saat saya tidur siang di atas kasur empuk dengan semilir angin dari kipas angin. Saya rasa tidak.

Jadi, bisa dibilang saya merasa beruntung bekerja secara shift.

Ketika masuk shift pagi, ada sebuah momen di saat saya tidak boleh diganggu gugat. Karena berangkat pagi-pagi, biasanya saya sekitar pukul 5 pagi sudah "mancal" si coopy, motor matic kesayangan saya. Jadi, aktivitas sakral, yaitu boker di pagi hari, mau tidak mau, harus saya tunaikan di toilet kantor. Mengingat jam biologis saya sekitar pukul 6 pagi. Dan di saat di toilet itulah, saya akan jadi orang yang paling dicari hanya sekedar meminta tanda tangan.

Saya memiliki kebiasaan berlama-lama di toilet untuk sekedar buang hajat. Hal itu dikarenakan saya terlalu khusyuk dalam melakukan aktifitas boker. Terkadang juga, saya justru membawa handphone untuk melakukan aktivitas lainnya. Aktivitas apa? Yap, baca berita di media sosial.

Bagi saya toilet adalah salah satu ruang sunyi yang menyimpan banyak ketenangan. Saking tenangnya, tetesan air kran yang menetes pun bisa saya rasakan.

Di sebuah video di youtube, ada musisi jazz yang pernah mengatakan, bahwa hal yang paling disuka adalah ketika di dalam toilet. Di toilet ia membawa gitar kecil sambil rokokan, kemudian membuat lagu. Dan ketika di dalam toilet, ia tidak boleh diganggu. Dan fyi aja, beberapa tulisan saya, saya buat ketika saya sedang di dalam toilet sambil boker. Jadi wajar kalau tulisan saya sedikit bau pesing, hahaha

Seperti yang saya katakan tadi, di toilet itu menyimpan ketenangan. Di saat seperti itulah segala endapan-endapan dalam pikiran kita justru muncul ketika sedang khusyuk melakukan aktivitas boker. Bahkan, juga mampu menghasilkan inspirasi. Dan momen-momen tertentu, saya justru merenung ketika berada di dalam toilet. Saya merenungi tentang diri saya. Dan tentang hal-hal yang saya rasakan.

Selain itu, toilet juga bisa kita jadikan dasar dalam menilai sesuatu. Kebersihan, misalnya. Pak Gik, Guru bahasa Indonesia SMP saya pernah berkata, "jika ingin melihat kebersihan suatu rumah, gedung atau sekolahan, yang harus pertama kali dilihat adalah toiletnya. Jika toiletnya bersih, bisa dipastikan gedung, rumah atau bangunan tersebut selalu menjaga kebersihan"

Termasuk dalam memilih kos, saya selalu menyempatkan untuk melihat toiletnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk ngekos di sana.

Namun, segala hal tentang toilet dirusak oleh orang-orang yang tidak manusiawi. Kejadian di pulomas, di mana satu keluarga berjumlah 11 orang di sekap di dalam toilet yang berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter. Dari 11 korban, hanya 5 korban yang selamat, sedangkan yang lainnya meninggal karena lemas kekurangan oksigen. Betapa tidak manusiawinya si pelaku. Toilet yang menjadi ruang-ruang sunyi yang menyimpan ketenangan justru digunakan untuk membunuh manusia. Sungguh biadab! Ketika boker dengan sedikit ngeden saja sudah membuat saya keluar keringat dingin, bagaimana rasanya harus bertahan dalam ruangan sempit yang penuh sesak dengan orang itu. Semoga korban perampokan di pulomas diterima di sisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Serta korban yang selamat segera diberi kesehatan, dan segera pulih kondisi psikologisnya. Karena bagaimana pun juga, kejadian itu akan menimbulkan trauma yang mendalam.