Sabtu, 14 Januari 2017

Sepatu Futsal

Sepatu futsal bekas Inug

Sepatu. Saya adalah orang yang bisa dikatakan tidak melek fesyen. Saya juga tidak fanatik terhadap suatu brand atau merk tertentu. Apa yang menurut saya nyaman, itu sudah lebih dari cukup. Termasuk dalam hal memilih sepatu.

Saat ini saya memiliki 5 pasang sepatu; tiga pasang sepatu kets, satu pasang sepatu pantofel, dan satu pasang sepatu futsal.

Untuk sepatu futsal, sebenernya saya memiliki dua pasang sepatu. Sepasang sepatu saya taruh di kosan, karena waktu kuliah saya aktif bermain futsal. Dan sepasang lagi di rumah, karena terkadang ketika akhir pekan biasanya kawan-kawan di rumah akan merayakan malam minggu di lapangan futsal. Iya, kami jomblo semua, jadi malam minggu kami bukan penuh cinta, tapi penuh keringet. Puas?

Sepasang sepatu futsal saya beli dari inug, teman kuliah saya. Diduga dia menjual sepatu futsalnya dikarenakan dalam beberapa pertandingan dia tidak bisa mencetak pundi-pundi goal. Padahal saya sering memberi umpan cantik pada dirinya. Tapi, goal juga tak tercipta. Bahkan ia kami juluki sebagai torres-nya psikologi. Karena saat itu, torres yang memutuskan hijrah ke chelsea, kesulitan untuk menemukan permainan.

Proses negosiasinya pun terbilang unik. Karena kami saling tawar harga di twitter. Setelah itu, prosesi jual-beli atau bahasa kekiniannya COD-anya kami lakukan di lapangan futsal tempat biasa kami latihan. Dan ketika sepatu sudah sah jadi milik saya. Sepatu itu seperti menemukan juragan yang tepat. Terbukti sudah, beberapa goal saya ciptakan dengan sepatu bekas dari inug itu. Padahal saya bukan seorang pemain depan. Saya lebih menikmati berada di posisi belakang. Karena ketika berada di posisi itu, saya lebih leluasa untuk melihat lebar lapangan. Dan dengan sedikit mengatur tempo sambil mencari celah.

Memandang sepatu futsal yang kini sudah penuh debu itu. Saya jadi teringat ketika jaman masih kuliah. Yaitu jaman ketika lemak-lemak belum menggelambir di seluruh badan, dan sebagian terpusat di wilayah perut. Jauh sebelum berat badan yang hampir 75kg ini begitu susah untuk diajak berlari mengejar bola.

Kalau dulu saya mampu bermain 2 jam penuh tanpa diganti saat latihan. Dan 1 jam penuh saat sparing dengan tim lain. Karena bermain latihan sendiri dan berlatih tanding akan jauh berbeda.

Berlatih tanding dengan tim lain, selain menguras energi, juga sangat menguras emosi. Sedangkan saat latihan bersama, kami bermain lebih rileks.

Dan kalau dulu berolahraga ada salah satu cara untuk menjaga kebugaran tubuh. Bahkan ada semacam doktrin untuk kawan-kawan saya, "Karena PES dan Futsal adalah harga diri, kalah rapopo sik penting sombong"

Kini, semua itu sudah berubah. Olahraga bagi kami, adalah semacam agenda untuk menyiksa diri.