Rabu, 04 Januari 2017

Teman Fesbuk

Semenjak dua tahun lalu, saya memutuskan hanya menggunakan jejaring sosial fesbuk. Semenjak itu pula saya tidak aktif lagi di twitter, path, maupun media sosial yang lagi ngehitz, seperti instagram. Di media sosial youtube saya lebih sebagai penikmat saja. Sedangkan untuk fitur chatting wasap dan bbm masih menjadi pilihan utama.

Saya berusaha untuk berteman dari semua kalangan. Tidak harus kenal satu sama lain.  Bagi saya, berteman itu artinya saya bisa mengikuti status atau postingannya, tanpa perlu dikonfirmasi pertemanannya. Kalau dalam bahasa twitternya, saya tidak butuh folbek, atau sampai ngemis minta di-folbek. Karena saya bisa belajar dari postingan-postingan yang positif dari idola-idola saya.

Di fesbuk, saya berkuasa atas apa saja yang beredar di laman dinding fesbuk saya. Artinya, saya berkuasa atas apa-apa yang ada di fesbuk milik saya. Termasuk dalam memilih teman fesbuk.

Bahkan, saya pernah memblokir teman fesbuk saya karena ia sering membagikan sebuah link dengan umpatan, dan ketika saya baca artikel di link tersebut. Ternyata isi artikel dan umpatannya tidak sesuai dengan isi artikel. Atau dengan kata lain, ia tidak mengendalikan diri, atau bersabar untuk membaca hingga tuntas terlebih dahulu sebelum berkomentar. Dan orang seperti itu, cukup berteman di dunia nyata saja. Hal itu saya lakukan untuk menjaga diri saya sendiri agar tetap dalam kondisi waras. Beberapa lagi saya blokir karena terlalu sering klik "like", "Share" atau ketik "amin" agar masuk surga. *Surgane mbahne po piye.

Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh teman lama saya, gara-garanya adalah teman fesbuk. Hal itu bermula ketika teman saya mengetahui bahwa di fesbuk saya menjalin pertemanan dengan seseorang yang ia anggap "bahaya".

Bahaya karena menurut teman saya, jika dilihat dari postingan di fesbuk, lebih mengarah ke liberal, serta penganut syiah. Selain itu juga, orang tersebut adalah orang yang berada di barisan pro Ahok. Dan baru-baru ini mencetak dan menerbitkan sendiri bukunya, buku tentang Ahok. Karena penerbitnya kemungkinan besar tidak berani mengambil risiko jika harus menerbitkan buku tentang seseorang yang sedang tersandung kasus dugaan penistaan agama.

Meski teman saya tidak bertanya, kenapa saya berteman dengan orang itu. Saya merasa harus menjelaskan kenapa saya berteman dengan orang yang dianggap "bahaya" itu di pertemanan fesbuk.

Padahal, di fesbuk saya berteman dengan dua kubu yang sedang berselisih pendapat. Karena perdebatan di media sosial, akan bermuara pada perdebatan antara dua kubu, baik yang pro dan kontra. Hal tersebut saya lakukan karena saya sedang belajar untuk bersikap adil, yaitu dengan mencoba melihat dari dua sudut pandang yang berbeda.

Melihat hanya dari satu sudut pandang, hanya akan membuat kita lebih mudah untuk menghakimi. Dan menurut saya itu tidak adil. Bukankah kata Mbah Pram kita harus adil sejak dari pikiran?

Mengamati perdebatan di media sosial seperti halnya melihat pertandingan futsal. Cara termudah bagaimana memahami dua kubu saling menyerang dan bertahan, adalah dengan menjadi penonton, dan bukan pemain. Dan saya mencoba menempatkan diri sebagai penonton.

Namun demikian, saya tahu betul dengan teman yang mengingatkan saya itu. Niat dia baik. Dalam hal ilmu agama, saya juga masih seperti "remukan roti". Artinya saya masih perlu belajar banyak. Dan mungkin, itu juga menjadi kekhawatiran teman saya, jika saya belajar pada orang yang salah.

Suwun lho wes dielingke babagan kabecikan. *salim