Sabtu, 22 Juli 2017

Membuka Hati untuk Orang Lain

Sumber Gambar

 Jika patah hati mampu menempa orang menjadi pribadi yang lebih dewasa, jatuh cinta justru sebaliknya, ia tumbuh dalam jiwa-jiwa yang kekanak-kanakan.

Aku hampir saja lupa bagaimana caranya memulai sebuah tulisan. Beberapa teman dekat bahkan sampai bertanya kepadaku, mengapa akhir-akhir ini aku tak pernah lagi menulis. Aku sendiri juga bingung dengan diriku. Kenapa aku seperti tak lagi memiliki sisa energi untuk sekedar membuka laptop, kemudian mulai menulis apapun yang sedang ingin aku tulis.

Laptop mungil yang kubeli dari jerih payahku di sela-sela aku mengerjakan skripsi itu, justru seperti sedang marah kepadaku. Mungkin karena terlalu lama tak kujamah. Karena ada garis-garis kecil di layar laptop mungil itu.  Beruntung aku menyimpan  password akun gmail dan blogger di aplikasi google chrome. Jadi, aku tak perlu khawatir jika aku lupa password masuk akun gmail ataupun blogger.

Tiga blog yang aku kelola, yaitu blog pribadi ini, blogriki.com, blog bersama dengan teman-teman di psikologi, yaitu lobimesen.com, serta blog yang sedang aku rintis namun kini justru aku cuti panjang untuk mengunggah tulisan baru, yaitu hrfile.net.

Beberapa hari ini, ada yang aneh dengan kehidupan yang aku jalani. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin aku sudah terlalu lama meninggalkan segala kebiasaan baik yang pernah aku jalani selama bulan ramadhan kemarin. Seperti selalu mandi pagi, meski malam harinya mata ini baru bisa terpenjam ketika waktu menunjukan pukul satu dini hari. Kemudian baru sebentar tidur, aku harus bangun untuk makan sahur.

Kebiasaan baik, sepertinya memang harus dipertahankan. Bagaimana pun caranya. Karena jika kita meninggalkan sebentar saja, aku tidak yakin dengan mudah kita akan bisa memulai kebiasaan baik itu. Seperti halnya dengan mengerjakan skripsi, ketika semangat sudah mulai kendor, jangankan pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan referensi, membuka folder skripsi saja, butuh niat dan kemauan yang kuat.

Aku seperti sedang mengambil cuti panjang, dengan cara mengasingkan laptop mungilku. Kemudian berusaha memulai sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan. Jujur, aku seperti sedang mengingkari sesuatu yang sudah menjadi prinsip.

Luka hati ini sebenarnya sudah lama sembuh. Karena aku bukan saja telah mampu melupakan segala luka itu, tapi aku sudah mampu memaafkan segala hal yang kini menjadi kenangan. Dan aku juga sudah bahagia dengan diriku yang sekarang.

Hingga sebuah pertanyaan dari seorang teman tiba-tiba ia lontarkan kepadaku. “Kapan kamu akan mulai membuka hati untuk orang lain?”

Dan kala itu, sambil melempar senyum aku berkata, mungkin dalam waktu dekat, mungkin akan ada sosok yang mampu menarik perhatianku. Padahal waktu itu aku masih terus berikhtiar untuk mendapatkan pekerjaan lain. Kebetulan aku mendapatkan tawaran dari seorang teman lamaku. Aku menyanggupi, dan sepertinya ia tertarik untuk mempekerjakanku. Namun nasib berkata lain. Ada kandidat lain yang lebih baik dariku. Dan aku urung untuk pindah ke luar kota.

Aku selalu berprasangka baik, apa yang terjadi pada hidupku itu, adalah sesutau yang harus aku jalani. Tentu aku harus berusaha ikhlas dalam menjalaninya. Dan benar, ketika aku tetap bertahan di tempat pekerjaanku yang sekarang. Justru ada seseorang yang mampu menarik perhatianku.

Awalnya aku menganggap pertemuan dengannya adalah sesuatu yang biasa, dan semuanya hanya terjadi begitu saja, dan tidak akan terjadi apa-apa. Seperti halnya pertemuan sekilas dan tidak pernah akan berulang.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan itu terjadi berulang-ulang. Dan aku mulai menjalin komunikasi dengannya. Dalam hati, aku selalu mengharapkan pertemuan demi pertemuan.

Di jaman media social seperti saat ini, ternyata masih ada juga orang yang tidak tergantung dengan koneksi internet. Dan aku sudah putus asa untuk mengenalnya lewat media sosial miliknya. Karena aku tidak menemukan baik kaun fesbuk maupun instagram miliknya.

Aku justru semakin penasaran dengannya, pesan wasap dariku tak pernah tersampaikan. Awalnya aku mengira bahwa ia sedang tidak mempunyai data internet. Namun, ketika aku mulai mengenalnya, aku baru menyadari bahwa ia bukan orang yang tergantung dengan media social.

Ada kalanya ia lebih memilih mematikan data internet hingga ia tidak bisa dihubungi baik via wasap maupun bbm. Dan ketika aku bertanya kepadanya, ia menjawab seperti orang cuek, “Jika penting pasti mereka juga akan sms kan?”

Dia sendiri baru benar-benar bermain fesbuk dan instagram ketika ia baru saja berganti smartphone, itu pun aku yang membuatkannya. Dan ia juga bukanlah orang yang ingin eksis di dunia maya. Semenjak aku membuatkan akun fesbuk dan instagram, ia tidak pernah memposting apapun, kecuali menggangti gambar profilnya. Itu pun hanya sekali. Hampir sama denganku, ia sangat menikmati perannya sebagai silent reader.


Dan kini, aku tidak tahu, apakah ini yang dinamakan dengan cinta atau apalah itu namanya. Entah lah, yang jelas aku selalu bahagia ketika di sampingnya. Dan benar kata teman saya, jika patah hati mampu menempa orang menjadi pribadi yang lebih dewasa, jatuh cinta justru sebaliknya, ia tumbuh dalam jiwa-jiwa yang kekanak-kanakan.