Senin, 15 Oktober 2018

Coretan Dinding Toilet #1

Beban,

Kenapa aku diam? Aku bukan tidak ingin membagi beban denganmu

Tapi, aku tidak mau, ketika kamu tahu beban dipunggungku, kemudian kamu menjadi ikut terbebani.

Dan kamu tau itu apa artinya? Iya, itu akan menambah bebanku

Read more ...

Minggu, 07 Oktober 2018

Trans Jogja


Entah kenapa, tiba-tiba terbesit pikiran untuk mengunjungi Jogja. Padahal saya tidak memiliki "masa lalu" di kota itu. Tapi libur akhir pekan ini, saya ingin mengunjungi kota Jogja.

Sebenarnya belum lama ini, saya juga ada pelatihan selama dua minggu di Jogja, lebih tepatnya di daerah Condong catur, masih sekitaran kampus UPN. Dua minggu di sana, saya manfaatkan untuk mereview burjo-burjo di sekitaran kampus UPN.
Setelah beberapa kali kehabisan tiket prameks, akhirnya saya memutuskan untuk motoran saja, sekalian uji daya tahan tubuh. Apakah daya tahan tubuh saya, masih sama ketika semasa kuliah yang hobi touring. Dipancal PP Solo-Sarangan masih menteles, malamnya masih begadang di angkringan.

Namun, baru sampai Klaten saya sudah semrepet. Saya belum sarapan, paginya saya hanya minum teh saja. Dan malamnya saya minum obat yang memiliki efek samping bukan cuma ngantuk terus tidur. Tapi lebih dari itu, yaitu pingsan. Iya, pingsan, karena hanya selang beberapa menit setelah minum obat, saya bukan lagi tertidur, tapi pingsan. Bangun-bangun sudah jam 6 pagi. Bahkan saya merasa tidak mendengar alarm yang saya pasang setiap hari jam 04.30. Bangun-bangun saya baru sadar, lampu belum saya matikan, padahal biasanya saya selalu mematikan lampu sebelum tidur. Dan lebih parahnya lagi, pintu rumah lupa saya kunci dan saya biarkan terbuka.

Saya benar-benar sudah awang-awangen. Saya yakin masih bisa sampai Jogja, tapi pulangnya? Saya tidak yakin! Sebenernya saya juga ada kerabat di Jogja. Menginap di tempat kerabat, sempat menjadi alternatif. Namun, saya sedang tidak ingin merepotkan orang lain. Karena perjalanan ke Jogja kali ini bisa dibilang sesuatu yang tidak saya rencana sebelumnya.

Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti di Prambanan, kemudian naik Trans Jogja saja. Motor saya titipkan di penitipan motor yang tak jauh dari halte Prambanan. Beruntung tak perlu menunggu lama, Bus Trans Jogja tujuan ke Malioboro sudah siap. Dengan membayar Rp 3.500, tinggal duduk saja, tahu-tahu sampai Malioboro.

Pertanyaannya, kenapa ke Malioboro? Tidak tahu! yang jelas saya sedang ingin jalan-jalan. Selama masih bisa saya jangkau, saya akan jalan kaki, kalo jauh tinggal order gojek, pikir saya kala itu.
Selama perjalanan dari Prambanan ke Jogja, sebagai orang yang (lagi pura-pura) baik, saya harus berbagi tempat duduk. Saya terkadang harus mengalah karena ada orangtua atau Ibu-ibu yang sedang berdiri menggendong anaknya. Sebenernya saya juga semrepet, tapi kasihan saja melihat mereka berdiri.

Tidak lama kemudian, sampai lah di Malioboro. Malioboro di siang hari, tidak seramai ketika di malam hari. Beruntung Jogja kala itu sedang mendung, jadi udara tidak begitu menyengat. Setelah lelah jalan kaki, akhirnya saya mlipir ke sebuah Mall di daerah malioboro untuk ngadem sambil liat-liat saja. Niatnya. Tapi, karena godaan mba-mba SPG, saya akhir beli satu kemeja. Pas keluar, baru sadar, "Kampret, kenapa malah beli" padahal saya baru saja beli sesuatu via shopee dan statusnya masih dalam pengiriman. Dasar!

Keluar dari mall, saya melihat-melihat tempat jualan souvenir. Berawal dari mendengarkan curhatan seorang pedagang souvenir di sebuah emperan toko di pinggir jalan malioboro. "Ndak tahu kenapa bulan ini kok sepi, kalau kata orang-orang sekitar sih, karena bulan suro" keluhnya kepada saya. "Karena lagi musim UTS mungkin, Bu" jawab saya. "Mungkin juga, karena saya orang asli Kalimantan, nggak begitu paham sama begituan (baca suro, penanggalan jawa).

Dan saya beli satu souvenir, miniatur motor dari kayu. Entah, karena merasa iba, atau karena saya diberi potongan harga dengan embel-embel "peng-laris".

Selesai membeli souvenir, saya bergegas menuju ke halte Trans Jogja di Jl Malioboro. Dan nampaknya salah lagi hoki, baru masuk dan membayar, Bus Trans Jogja rute 1A dengan tujuan prambanan sudah tiba. Dan lagi saya harus menjadi orang (yang pura-pura) baik lagi. Berbagi tempat duduk.

Benar-benar perjalanan yang biasa saja, dan catatan perjalanan ini bener-bener nggak ada faedahnya. Hahahaha

Ehiya, sebenernya saya bikin catatan ini kan akan mereview salah satu moda transportasi Jogja. Iya, apalagi kalo bukan Trans Jogja. Selama perjalanan dari Prambanan ke Malioboro, dan begitu juga sebaliknya. Ya hampir sama dengan angkutan bus pada umumnya. Hanya saja pengaturan tempat duduknya di bikin saling berhadapan dan menyisakan ruang di tengah untuk penumpang yang berdiri. Dari harga, masih sangat murah, hanya Rp 7.000 saja bisa PP Prambanan - Malioboro. 

Kondisi bus bisa dikatakan bukan bus baru lagi. Apalagi skill dibalik pengemudi yang membawa saya, masih sangat terasa ketika melakukan perpindahan transmisi. Saya kira dengan harga segitu, saya juga tidak berharap lebih.

Namun, dengan adanya moda transportasi umum seperti Trans Jogja, bisa jadi salah satu alternatif untuk yang ingin jalan-jalan, mengunjungi setiap sudut kota Jogja, dengan budget yang yang tidak begitu besar, dan tak perlu capek-capek motoran dan panas-panasan.
Read more ...

Minggu, 15 Juli 2018

Nostalgia Tempat Makan Jaman Kuliah

Mie ayam lestari

Selama kurang lebih 5 tahun di Solo. Saya cuma pindah kos sekali saja. Pertama kali kos, di daerah petoran jebres, tepatnya belakang asia motor. Di sana kurang lebih sekitar 2 semester. Lingkungannya menurut saya tidak nyaman untuk istirahat. Kebanyakan yang kos di sana anak SMK Warga. Karena terlalu kemriyek, kemudian saya mulai cari kos lain. Dan kos kedua berada di ngemingan jebres, lebih tepatnya utara stasiun jebres.

Sebenarnya saya pengennya lajo, namun tidak diperbolehkan. Hal itu bukan tanpa alasan. Pertama karena ditakutkan, saya tidak akan menjadi orang yang mandiri. Kedua, lingkungan yang kurang mendukung dikhawatirkan akan membuat saya tidak segera menyelesaikan kuliah saya. Dan saya nderek saja.

Selama menjalani kehidupan sebagai anak kos. Ketika awal-awal menjadi anak kos, dalam seminggu saya bisa dua sampai tiga kali balik ke rumah. Maklum, masih dalam tahap adaptasi. Kemudian perlahan tapi pasti, saya kemudian jarang pulang. Apalagi ketika semester akhir, saya sudah jarang pulang. Kalau pun pulang, minggu pagi sampai rumah, sore nya berangkat lagi. Tentu semua itu karena pertanyaan, kok ndak lulus-lulus begitu risi untuk didengar.

Untuk masalah makan. Saya memiliki kebiasaan. Ketika saya nemu tempat makan yang masakannya enak, maka bisa dipastikan untuk beberapa hari kedepan pasti akan makan di situ lagi. Di situ terus sampai bosan. Kemudian pindah lagi, nemu yang masakannya enak, di situ terus sampai bosan. Begitu seterusnya.

Beberapa tempat makan yang sering saya kunjungi, ada warung ijo, di sana saya sering makan tongseng dan garang asem. Salah satu tempat makan favorit hingga akhir kuliah. Bahkan waktu ada saudara atau teman yang sedang mampir di Solo, saya ajak makan di sana. Kemudian depanya warung ijo juga ada warung, tempatnya Bu nur, di sana selingan kalo saya sudah mulai bosan dengan menu warung ijo.

Untuk angkringan, dulu sering begadang di tempat Pak hasan, kemudian pak hasan tutup, pindah dekat PMI. Setiap selesai futsal bisa dipastikan kami mampir di angkringan itu.

Kalo sarapan juga ada di tempat jualan kalo pagi di gang ngemingan, utara stasiun Jebres. Saya lupa namanya ibu siapa. Dan kalo siang tempat itu dipake jualan semacam angkringan juga. Saya juga sering makan siang di sana, bahkan ibunya sampai hafal, karena saya sering pesan es kopi hitam. Selain itu juga di angkringan Pak dhe, hanya buka di siang hari, kalo malam dipake jualan nasi goreng Pak sabar. Dan untuk mie ayam, mie ayam lestari masih juara di lidah saya.

Kemarin karena libur dan tidak tahu mau kemana. Saya iseng maen ke solo untuk sekedar nostalgia jaman kuliah. Sengaja saya lewat depan kedua kosan lama saya. Kos yang dulu kata teman saya mirip sarang teroris itu kini sudah berganti dengan bangunan kokoh dan megah. Kosan saya dulu sekarang menjadi kost exclusive.
Saya jadi teringat ketika salah satu kawan kos saya membawa teman ceweknya. Ibu kaji langsung nempel tulisan di pintu dengan tulisan gede-gede.

Kemarin saya juga mampir di angkringan gang ngemingan. Saking ramainya, gang itu banyak dipasang polisi tidur, beberapa kali motor saya sampai gasrut.
Saya mengambil dua nasi, satu nasi tempe penyet dan nasi langgi, kemudian gorengan dan beberapa sundukan. Dan minumnya tetap, es kopi hitam. Bodo amat meski paginya uda kopi, dan hasil tes kesehatan disarankan buat ngurangi kopi.

Tak puas disitu, karena mumpung di solo. Saya juga turut mengunjungi mie ayam yang menurut saya mie ayam ter-enak. Namanya mie ayam lestari, letaknya di sebuah ruko kecil sebelah barat asia motor. Dulu masih berjualan di trotoar depan rumah kosong, yang tak jauh juga dari ruko yang sekarang ditempati.

Sudah beberapa kali saya sengaja mampir ke sana dan saya tidak menemukan mie ayam lestari. Saya pikir sudah kukut. Kemudian atas informasi dari teman, yaitu Mas Wildan, anak lobimesen.com juga. Bahwa sekarang menempati di sebuah ruko kecil itu.

Terakhir ke sana, waktu saya mengantar teman ke PGS buat belanja batik, masih jualan di tempat semula. Kemarin sempat ngobrol dengan yang jualan, katanya sudah pindah sekitar satu tahun yang lalu, karena ada proyek trotoar. Dan dia memutuskan untuk pindah tempat. Dan bapaknya ternyata juga masih ingat saya, sekedar menanyakan kabar, dan sekarang saya menetap dimana.

Meski berada di ruko sempit, namun nampak pelanggan bergantian berdatangan. Bahkan saya merasa diusir ketika baru selesai makan mie ayam, nampak ada pelanggan baru datang dan celingak-celinguk mencari tempat. Saya pun segera mengakhiri makan, membayar dan berpamitan.
Read more ...

Rabu, 14 Februari 2018

Mendengarkan Cerita Mak’ e Pasca Stroke

 Sore itu, sengaja saya menginap di rumah simbah, karena senin esok saya masuk siang. Jadi, saya baru balik ke Boyolali senin pagi. Malam itu, tepatnya habis magrib, karena kondisi sedang hujan lumayan deras. Saya lebih memilih memarkirkan motor, dan hanya di rumah berkumpul bersama keluarga yang lain. Ada kedua simbahku, kakak, bulek, dan ada juga mak’e yang sekarang sudah bisa duduk sendiri, tanpa harus didampingi. Iya, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, mak’e sudah lebih dari satu bulan terkena serangan stroke. Dan serangan stroke itulah yang menyebabkan tubuh sebelah kanannya, yaitu kaki dan tangan kanannya tidak bisa digerakkan.

Mak’e kini sudah bisa bicara, meski awalnya masih sulit untuk dipahami, namun sedikit demi sedikit suaranya sudah bisa dimengerti. Meski terkadang juga sulit untuk dipahami ketika mak’ e ingin berbicara cepat. Biasanya ketika ucapannya sudah susah dipahami, saya akan langsung menginterupsi, dan menyuruh berbicara pelan agar mudah saya pahami.

Sebelumnya, sulit bagi mak’e untuk melafalkan kata-kata, namun setelah tiga kali terapi, mulai dari pengenalan huruf vocal, seperti A-I-U-E-O, kemudian sudah bisa merangkai kata, meski untuk kata-kata yang rumit terkadang masih bingung dalam pengucapannya. Dan mengajak mengobrol, adalah bagian dari terapi, maka sore itu sengaja saya ingin mendengarkan cerita mak’e.

Sore itu, saya duduk di sebelah kanan mak’e, hal itu sesuai saran dari terapis mak’e, agar sering diajak berinteraksi di sebelah sisi yang lemah. Hal itu dilakukan agar mak’e masih memiliki kesadaran, bahwa ia masih memiliki sisi tubuh bagian kanan, meski saat ini sisi tersebut masih belum bisa berfungsi normal.

Mak’e sudah bisa duduk di tempat tidur dan mampu mengendalikan keseimbangan, meski untuk bangun masih meminta bantuan orang lain. Ketika ingin duduk, biasanya mak’e meminta bantuan, sambil berucap, “duduk wae, tidur terus juga capek”

Saya duduk tepat di sebelah kanan mak’e, kemudian karena kami semua sedang dalam suasana santai, sambil menikmati cemilan yang ada, kami semua seperti sedang mendengarkan mak’e sedang mendongeng, menceritakan bagaimana awal serangan stroke itu bermula.

Dengan suara yang sedikit lirih, dan terkadang mak’e nampak sedikit kesulitan untuk menyampaikan apa yang ingin diceritakan kepada kami semua. Mak’ e pun mulai bercerita. Kala itu, sesudah bangun tidur di pagi hari, kebetulan saat itu ia sudah merasa capek, dan bangun agak siang. Setelah bangun, seperti biasa, ia menuju dapur dan memasak air. Mak’e juga bercerita, bahwa di sana masih masak menggunakan kompor minyak. Saya juga baru tahu hal itu, mengingat betapa langkanya minyak tanah untuk saat ini.

Ketika sedang memasak air, mak’e mulai merasakan pusing berat, kemudian ketika merasakan pusing berat itu, mak’e masih berinisiatif mematikan kompornya terlebih dahulu, “Kalo kompornya nggak tak matiin, iso kebakaran kabeh iki” ungkapnya. Dan tepat setelah kompor bisa dimatikan, seketika itu ia merasa lemah tubuh bagian kanannya, dan langsung ambruk di dapur.

“Aku langsung mak brek, aku ora iso ngopo-ngopo, arep ngomong nggak iso” tuturnya kepada kami semua. Dan ketika ia dalam kondisi ambruk, kemudian bahkan sempat tertidur di sana sebelum ada orang yang mengetahui dan di bawa ke rumah sakit terdekat. Mak’e bercerita bahwa ia justru memikirkan keadaan kedua orang tuanya, yaitu kedua simbah saya. “Aku malah mikir, nek aku ngasi mati neng kene, trus dikubur neng kene piye, Bapak–simbok , wes tuwo kabeh” mak’e dengan suara lirihnya.

Dan mak’e juga bercerita ingin menghabiskan masa tuanya di rumah orantuanya, yaitu simbah saya. Hal itu sudah mulai ia pikirkan ketika salah satu teman perantauannya meninggal dan dikubur di sana. Dan di saat itulah ia berpikir dengan dirinya, “Aku neng kono gur dewe, terus nek enek opo-opo piye, trus saiki malah kejadian tenan” ucap mak’e.

Mak’e bisa dikatakan tidak berbuat apa-apa kecuali ada orang yang menemukannya dalam kondisi sudah tidak berdaya di dekat kompor. Ia juga bercerita, “Aku ora iso opo-opo, gur meneng wae, ngasi enek cah cilik sik ngonangi aku lagi ambruk” ketika mak’e menceritakan hal itu, dalam hati aku mulai berandai-andai, “Andai tidak ada anak kecil yang entah karena alasan apa berani masuk dan menemukan mak’e dalam kondisi lemas,  mungkin akan lain lagi ceritanya”

Barulah ketika anak kecil itu menemukan mak’e yang sudah berada di lantai dan seperti orang yang tidak sadarkan diri, baru lah ia memberikan kabar kepada orang-orang sekitar, serta kerabatku. Melihat kondisi seperti itu, kerabatku langsung membawa ke rumah sakit milik TNI yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal mak’e di kerinci. Kemudian sambil dilakukan perawatan, keluarga saya yang di rumah langsung mencari jalan keluar atas musibah yang menimpa di keluarga saya. Dan tidak ada solusi yang lebih bagus selain membawanya pulang agar dekat dengan keluarga dan dirujuk rumah sakit pilihan kami.

Saya tidak habis pikir, bagaimana jika tidak ada anak kecil yang menemukan mak’e, kemudian segera meminta bantuan orang sekitar dan kerabatku yang berada di sana. Menurutku pertolongan Allah bisa datang dari mana saja, meski dari seorang anak kecil yang sedang bermain di teras tempat tinggal mak’e, kemudian karena rasa penasaran anak kecil tersebut masuk ke dalam rumah dan menemukan mak’e sudah terbaring lemas di lantai dekat kompor. Allhamdulillah, atas pertolongan Allah, hingga saat ini saya masih bisa bertemu, dan merawat mak’e.

Dan tidak lupa juga, terima kasih untuk kerabat-kerabat yang berada di kerinci yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk merawat mak’e selama beberapa hari di  rumah sakit sebelum akhirnya dibawa pulang ke jawa.

Semoga lekas membaik mak’ e,



Read more ...

Sabtu, 03 Februari 2018

Menyerah oleh Dirinya Sendiri

Setelah pulang dari dinas luar, aku segera menyelesaikan segala pekerjaan kantor siang itu. Aku segera membersihkan meja kerjaku, karena aku berencana untuk ijin pulang lebih awal. Aku baru saja mendapat telpon dari Om, agar aku bisa minta ijin kepada atasanku untuk pulang lebih awal. Dan atasanku mengerti keadanku dengan memberikan ijin untuk pulang lebih awal.

Selesaikan membereskan pekerjaan di meja, aku segera bergegas untk pulang lebih awal. Selama perjalanan pulang, beberapa kali handphoneku bergetar, sepertinya telpon dari om aku yang ingin memastikan posisiku.

Sesampai di rumah, aku segera ganti baju, dan segera ke rumah om yang sudah menunggu dari tadi. Sesampai di rumah om, aku segera memasukan motor ke garasi rumah, kemudian kami berangkat berdua ke sukoharjo. Selama perjalanan, beberapa kali, om nampak menelpon seseorang untuk memastikan keadaan.

Sore itu, kaluargaku masih menunggu dengan sedikit cemas. Iya, Ibuku yang jatuh sakit, sedang dalam perjalanan pulang untuk dipindah di rumah sakit dekat rumah, agar keluarga besar bisa merawatnya.

Sudah sedikit aku tuliskan mengenai keadaan ibuku, dalam tulisan sebelumnya. Bahwa ibuku terjatuh lemas dan dilarikan ke rumah sakit terdekat, oleh kerabat-kerabatku yang berada di kerinci.

Kala itu, aku hanya mendapatkan kabar, bahwa sebagian tubuh sebelah kanan tidak bisa digerakan, dan ibuku juga tidak bisa berbicara. Jangankan untuk makan, membuka mulut saja kesulitan. Dan ketika mendapatkan kabar itu, seketika itu juga aku langsung lemas dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dan yang bisa aku lakukan, hanya menelpon kakakku agar segera menyusul ke kerinci. Kebetulan kakakku sedang berada di Manna, sebuah kota kecil di Bengkulu.

Ketika mendapatkan kabar mengenai kondisi ibuku, yang ada dalam pikiranku saat itu, adalah serangan stroke. Meski aku sendiri masih kurang yakin, apakah benar ibuku terkena serangan stroke. Mengingat ketika masih sehat, ibuku tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya. Dan bisa dibilang, baru kali ini saja ibuku berurusan dengan jarum dan selang infus.

Keluarga besar, termasuk aku sendiri hanya bisa memantau kesehatan serta perkembangan ibuku, via telpon. Dan pernah juga aku melakukan video call dengan kakakku untuk melihat kondisi ibuku. Dan ketika video call, pertahananku sebagai lelaki runtuh seketika. Mataku sudah tak kuat untuk menahan isak tangis. Orang yang paling kuat dan tegar itu, kini menyerah oleh dirinya sendiri.

Hingga akhirnya, kami keluarga besar sepakat, bahwa kami harus segera membawa pulang ibuku.

Ibuku dibawa pulang dengan travel, karena bisa dibilang aku tidak kuat jika harus menyewa mobil ambulance. Dengan menyewa seorang perawat, dan tentu sebelumnya kami sudah meminta saran dan rekomendasi dari dokter yang merawat ibuku sebelumnya. Dan kami sudah siap dengan segala risiko ketika memutuskan untuk membawa pulang ibuku.

Ketika sedang merencanakan kepulangan ibuku. Kami sudah merencanakan rumah sakit mana yang akan kami jadikan pengobatan atau pemulihan pasca stroke ibuku. Dan sebuah rumah sakit islam di daerah Cawas, klaten menjadi rumah sakit pilihan kami.

Ibuku diperkirakan sampai rumah sakit sore hari. Dan sebelum itu aku sudah berada di rumah sakit untuk memesan kamar rawat inap. Namun, pihak rumah sakit tidak mengijinkan kami untuk memesan kamar perawatan. Karena dari pihak rumah sakit mengharuskan pasien sudah berada di sana, untuk menjalani observasi terlebih dahulu, baru meminta kamar rawat inap.

Sore itu hujan deras, aku masih terus memandang jalan, dan setiap ada mobil yang masuk area rumah sakit, aku langsung berdiri untuk memastikan apakah itu mobil yang membawa ibuku atau bukan.

Hingga akhirnya penantian berakhir juga, sebuah mobil datang, dan ketika satu persatu penumpang keluar, ada kakak dan kerabatku dari kerinci yang turut menemani selama perjalanan. Dan ada juga seorang wanita yang merawat ibuku selama perjalanan.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat secara langsung kondisi ibuku.

Aku segera membobong ibuku untuk dipindah ke ruang IGD. Sedang Omku langsung menuju tempat pendaftaran untuk mencarikan ruangan untuk ibuku. Dan aku, aku berada di samping ibuku ketika di IGD untuk dilakukan observasi.

Aku mengamati keadaan ibuku, satu sisi, lebih tepatnya sisi kanan tubuh ibuku sudah lemas tak bisa digerakkan. Selain itu, ibuku seperti kesulitan untuk berbicara. Untuk minum pun, ibuku hanya bisa minum sesendok demi sesendok, itupun masih sering tersendak. Dan aku berusaha menjadi seorang anak lelaki yang kuat, meski dalam hati sedang menahan tangis.

Sore itu aku hanya bisa menemani ibuku hingga tengah malam. Ada tanggung jawab lain yang harus aku kerjakan keesok harinya. Namun, aku berencana untuk mengambil cuti selama dua hari agar bisa menemani ibuku menjalani pengobatan selama di rumah sakit. Aku mengambil dua hari cuti, yaitu hari kamis dan jumat, karena di tempat kerjaku berlaku lima hari kerja, jadi aku bisa menamani ibuku dari kamis hingga minggu.

Selama menunggu di rumah sakit, rasa bosan itu pasti ada. Untuk mengisi kebosanan itu, aku membuka youtube untuk mengetahui lebih jauh mengenai penyakit stroke, posisi tidur orang stroke. Karena ibuku hanya bisa tertidur ketika miring kekanan, yaitu ke arah sisi yang lumpuh. Kemudian juga mengenai terapi yang tepat selama menjalani masa pemulihan pasca stroke.

Selain itu, aku juga membaca salah satu blog kompasiana yang dikelola oleh seorang stroke survivor. Di blog tersebut, ia bercerita ketika awal mula serangan stroke itu terjadi, hingga ia menjalani masa-masa pemulihan. Kini sudah hamper 80% fungsi tubuh sisi yang lumpuh bekerja dengan baik. Dan aku mulai tertarik untuk menerapkan metode pemulihan tersebut pada ibuku. Namun, yang menjadi fokusku kala itu, bagaimana aga kondisi fisik ibuku sudah mulai membaik, terutama bagaimana ibuku bisa untuk menelan dan minum makanan dan minuman tanpa sering tersendak.

Penderita stroke  awal-awalnya akan sedikit emosional, tiba-tiba menjadi gelisah dan menangis, kemudian sering marah ketika keinginannya tidak dituruti, adalah hal yang sering dihadapi ketika  merawat pasien stroke. Dan ibuku pun juga mengalami hal itu, ketika tengah malam, ia masih sering gelisah, menangis, dan terkadang juga teriak-teriak.

Aku menjadi sering mengamati perkembangan sedikit demi sedikit kondisi ibuku. Yang awalnya kesulitan untuk mengunyah makanan, kini ibuku sudah mulai bisa mengunyah makanan. Bahkan kini ibuku sudah mulai bisa untuk makan dan minum sendiri, meski menggunakan tangan kiri, karena tangan dan anggota badan sebelah kanan mengalami lumpuh.

Masalah kemampuan bicara, perlahan ibuku sudah bisa mengucapkan huruf vocal seperti “A I U E O”. Karena dalam proses terapi wicara, pertama kali harus dikenalkan dengan huruf vocal terlebih dahulu. Dan kini ibuku sudah bicara pelan-pelan, namun untuk merangkai kata-kata yang panjang masih mengalami kesulitan.

Masalah sikat gigi, awalnya saya ragu ketika mengajari untuk berkumur, karena bukannya berkumur, tapi malah ditelan. Pertama aku mengajari untuk berkumur dengan menggunakan air aqua, karena ketika air itu tertelan, hal itu masih aman. Dan ketika aku coba pertama kali, yang terjadi adalah, airnya malah tertelan. Aku mengurungkan niat untuk menggosok gigi ibuku.

Di lain waktu aku bertanya lagi kepada ibuku, “bisa berkumur nggak?” tanyaku. Dan ibuku memberi isyarat mengangguk, artinya bisa. Kemudian aku mencoba lagi menggunakan air aqua. Dan bisa! Aku pun berani untuk menggosok gigi ibuku dengan sikat dan pasta gigi dengan yakin.

Kemampuan bicara sudah menunjukan perkembangan, sedang untuk kemampuan gerak, ibuku masih terus menjalani proses terapi fisik. Dan terapi fisik, sebenarnya yang paling berperan adalah keluarga yang merawat pasien pasca stroke. Karena apa? Terapis dalam ini akan lebih berperan sebagai pendamping, sedang yang akan melakukan terapis rutin adalah dari keluarga yang merawat. Dan terapis yang melakukan terapi ibuku, selalu berpesan, hal penting yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan terapi adalah. Semangat dari pasien itu sendiri, yaitu semangat untuk sembuh. Selain itu, kesabaran dari orang yang merawat pasien yang menjalani pemulihan pasca stroke juga turut berpengaruh terhadap keberhasilan terapi.
***
Dan untuk kali ini, aku hanya bisa terus berdoa untuk kesehatan ibuku. Selain juga tetap untuk terus berikhtiar untuk pemulihan kondisi fisiknya. Dan percayalah, ibu kalian adalah orang yang paling sabar di dunia ini. Ibu kalian tetap sabar ketika membesarkan diri Anda. Ketika Anda masih kecil,  ibu kalian tidak sungkan untuk segera mengganti popok anda, meski dia sedang nikmat-nikmatnya menikmati sarapan atau makan siangnya. Sedangkan Anda? Saya tidak yakin Anda tetap bisa bersabar, ketika makan siang Anda diganggu dengan Ibu Anda yang masih dalam keadaan lemah di tempat tidur, kemudian meminta Anda mengganti pampers ibu Anda.

Dan untuk Ibu, mohon maaf, jika sebagai anak, aku masih belum bisa menjadi anak yang berbakti.

Read more ...

Rabu, 31 Januari 2018

Dering Telepon

Kala itu, aku sedikit kemaruk. Setelah libur tahun baru, aku mengajukan cuti tahunan untuk menambah waktu liburku. Meski pada akhirnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Setidaknya aku sudah keluar dari rutinitas yang semakin lama, semakin membosankan ini. Waktuku habis tersita untuk hal-hal yang bersifat rutinitas. Waktu luang begitu berharga bagiku. Dan ketika waktu luang itu ada, aku justru menghabiskan waktu untuk hipernasi. Jika sebagian orang suka menghabiskan waktu liburnya untuk bepergian. Aku justru sering menghabiskan waktu luangku untuk tidur.

Tidur bukan hanya aktifitas yang mampu mengistirahatkan badan yang sudah lelah disiksa dengan rutinitas harian. Lebih dari itu, tidur bagiku seperti halnya dengan me-refresh otak. Setelah bangun dari hipernasi, selain mampu menghilangkan rasa lelah. Tidur juga mampu membuat otak ini mau diajak untuk berpikir.

Mungkin aku adalah orang yang introvert, menghabiskan waktu seorang diri, adalah waktu yang benar-benar aku dambakan. Karena ketika sendiri itulah aku justru seperti sedang mengisi bateraiku yang sudah mulai lobert. Dan dengan tidur salah satunya.

Siang itu, kebetulan aku masuk siang. Jadi aku masih memiliki banyak waktu untuk tidur siang, sebelum aku siap-siap untuk bergegas kembali menjalani rutinitas. Ketika aku sedang tidur siang, tiba-tiba ada dering telpon masuk. Masih dalam keadaan mata tertutup dan menahan kantuk, aku mencoba mencari handphone. Dan ketika aku sudah meraihnya, aku menatap layar handphone dengan pandangan masih kabur karena rasa kantuk. “nomor baru” pikirku kala itu ketika mau mengangkat dering telpon yang masuk. Aku segera mengangkatnya dan mulai mendengarkan suara di seberang sana.

Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dan kabar buruk! Aku yang kala itu masih menahan kantuk tiba-tiba saja aku langsung berdiri tegak, dan kemudian aku seperti orang bingung. Aku berusaha menenangkan diri dan mulai mengabarkan kabar buruk itu kepada semua keluargaku. Dan kala itu aku benar-benar dalam kondisi bingung., dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
 
Mendengar kabar buruk itu, seketika itu ingatanku kembali pada saat-saat dimana aku harus mengambil pilihan dan mengkomunikasikan pilihan itu kepada orang-orang terdekatku agar bisa menerima keputusan itu. Kala itu aku berhadapan dengan sebuah delima. Sebagai anak, tentu aku tidak akan membiarkan Ibuku hidup seorang diri di tanah rantau. Orang yang biasa hidup dengan ibuku, yaitu bulek, memutuskan untuk hidup bersama simbah. Sedangkan ibuku tidak kerasan jika harus hidup bersama simbah. Hal itu karena ia sudah terbiasa hidup di tanah rantau, yaitu di kerinci. Karena dulu terlalu aku kenkang, justru membuat kondisi psikologi ibuku menjadi sedikit goyah. Dan di saat seperti itu, aku mulai mengijinkan ibuku hidup seorang diri di kerinci sana. Tahun pertama dan kedua berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan tidak ada kekhawatiran sedikitpun bagiku, dan keluarga besarku.

Namun, kabar siang itu memupuskan segala prasangka baikku, bahwa ibuku akan baik-baik saja meski seorang diri di kerinci sana. Dan kabar siang itu, aku bukan saja menjadi orang yang merasa bersalah, tapi menjadi orang yang tak berguna.

Semenjak kabar itu, aku seperti menjadi seorang paranoid terhadap dering telpon. Aku sengaja membiarkan handphoneku tetap dalam keadaan aktif meski di malam hari. Padahal, biasanya aku akan mematikan handphone ku ketika menjelang tidur.

Setiap kali ada panggilan masuk, dada ini seperti berdebar-debar, nafas menjadi sedikit sesak. Aku seperti sudah menyiapkan respon dengan kabar paling buruk sekali pun. Jujur saja, aku sudah panic ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terus berdoa, dan menanyakan kabar tentang kondisi kesehatan ibuku.

Dering telpon dan kabar buruk seakan menjadi sebuah pola yang melekat di kepalaku. Setiap kali ada telpon masuk, bunyi dering telpon seakan hanya memberikan berita buruk tentang keadaan ibuku. Ketika mendengar dering telpon, aku mulai gelisah, dada seakan terasa sesak, seakan aku akan menerima kabar buruk. Dan ketika aku lupa membawa handphone, aku juga seperti tidak mau melewatkan tentang kabar tentang keadaan ibuku.

Hingga pada akhirnya, kami semua sepakat. Bahwa kami harus segera mengambil keputusan untuk segera membawa pulang ibuku meski dengan kondisi masih dalam keadan sakit. Berkonsultasi dengan dokter yang merawat ibuku, dan memahami segala risiko yang akan terjadi. Kami semua sepakat, dan semua itu kami lakukan atas niatan yang baik. Yaitu membawa pulang ibu untuk mendapatkan pengobatan.

Dan Allhamdulillah, dengan membawa satu orang yang merawat ibuku, setelah dua hari dalam perjalanan, ibuku tidak langsung dibawa pulang, namun langsung ke rumah sakit agar segera dapat dilakukan perawatan. Dan dengan deering telpon? Ahhh rasanya sekarang taka da lagi yang horror selain panggilan dari si dia. Dia siapa? Embuh, . . . .

Read more ...