Rabu, 31 Januari 2018

Dering Telepon

Kala itu, aku sedikit kemaruk. Setelah libur tahun baru, aku mengajukan cuti tahunan untuk menambah waktu liburku. Meski pada akhirnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Setidaknya aku sudah keluar dari rutinitas yang semakin lama, semakin membosankan ini. Waktuku habis tersita untuk hal-hal yang bersifat rutinitas. Waktu luang begitu berharga bagiku. Dan ketika waktu luang itu ada, aku justru menghabiskan waktu untuk hipernasi. Jika sebagian orang suka menghabiskan waktu liburnya untuk bepergian. Aku justru sering menghabiskan waktu luangku untuk tidur.

Tidur bukan hanya aktifitas yang mampu mengistirahatkan badan yang sudah lelah disiksa dengan rutinitas harian. Lebih dari itu, tidur bagiku seperti halnya dengan me-refresh otak. Setelah bangun dari hipernasi, selain mampu menghilangkan rasa lelah. Tidur juga mampu membuat otak ini mau diajak untuk berpikir.

Mungkin aku adalah orang yang introvert, menghabiskan waktu seorang diri, adalah waktu yang benar-benar aku dambakan. Karena ketika sendiri itulah aku justru seperti sedang mengisi bateraiku yang sudah mulai lobert. Dan dengan tidur salah satunya.

Siang itu, kebetulan aku masuk siang. Jadi aku masih memiliki banyak waktu untuk tidur siang, sebelum aku siap-siap untuk bergegas kembali menjalani rutinitas. Ketika aku sedang tidur siang, tiba-tiba ada dering telpon masuk. Masih dalam keadaan mata tertutup dan menahan kantuk, aku mencoba mencari handphone. Dan ketika aku sudah meraihnya, aku menatap layar handphone dengan pandangan masih kabur karena rasa kantuk. “nomor baru” pikirku kala itu ketika mau mengangkat dering telpon yang masuk. Aku segera mengangkatnya dan mulai mendengarkan suara di seberang sana.

Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dan kabar buruk! Aku yang kala itu masih menahan kantuk tiba-tiba saja aku langsung berdiri tegak, dan kemudian aku seperti orang bingung. Aku berusaha menenangkan diri dan mulai mengabarkan kabar buruk itu kepada semua keluargaku. Dan kala itu aku benar-benar dalam kondisi bingung., dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
 
Mendengar kabar buruk itu, seketika itu ingatanku kembali pada saat-saat dimana aku harus mengambil pilihan dan mengkomunikasikan pilihan itu kepada orang-orang terdekatku agar bisa menerima keputusan itu. Kala itu aku berhadapan dengan sebuah delima. Sebagai anak, tentu aku tidak akan membiarkan Ibuku hidup seorang diri di tanah rantau. Orang yang biasa hidup dengan ibuku, yaitu bulek, memutuskan untuk hidup bersama simbah. Sedangkan ibuku tidak kerasan jika harus hidup bersama simbah. Hal itu karena ia sudah terbiasa hidup di tanah rantau, yaitu di kerinci. Karena dulu terlalu aku kenkang, justru membuat kondisi psikologi ibuku menjadi sedikit goyah. Dan di saat seperti itu, aku mulai mengijinkan ibuku hidup seorang diri di kerinci sana. Tahun pertama dan kedua berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan tidak ada kekhawatiran sedikitpun bagiku, dan keluarga besarku.

Namun, kabar siang itu memupuskan segala prasangka baikku, bahwa ibuku akan baik-baik saja meski seorang diri di kerinci sana. Dan kabar siang itu, aku bukan saja menjadi orang yang merasa bersalah, tapi menjadi orang yang tak berguna.

Semenjak kabar itu, aku seperti menjadi seorang paranoid terhadap dering telpon. Aku sengaja membiarkan handphoneku tetap dalam keadaan aktif meski di malam hari. Padahal, biasanya aku akan mematikan handphone ku ketika menjelang tidur.

Setiap kali ada panggilan masuk, dada ini seperti berdebar-debar, nafas menjadi sedikit sesak. Aku seperti sudah menyiapkan respon dengan kabar paling buruk sekali pun. Jujur saja, aku sudah panic ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terus berdoa, dan menanyakan kabar tentang kondisi kesehatan ibuku.

Dering telpon dan kabar buruk seakan menjadi sebuah pola yang melekat di kepalaku. Setiap kali ada telpon masuk, bunyi dering telpon seakan hanya memberikan berita buruk tentang keadaan ibuku. Ketika mendengar dering telpon, aku mulai gelisah, dada seakan terasa sesak, seakan aku akan menerima kabar buruk. Dan ketika aku lupa membawa handphone, aku juga seperti tidak mau melewatkan tentang kabar tentang keadaan ibuku.

Hingga pada akhirnya, kami semua sepakat. Bahwa kami harus segera mengambil keputusan untuk segera membawa pulang ibuku meski dengan kondisi masih dalam keadan sakit. Berkonsultasi dengan dokter yang merawat ibuku, dan memahami segala risiko yang akan terjadi. Kami semua sepakat, dan semua itu kami lakukan atas niatan yang baik. Yaitu membawa pulang ibu untuk mendapatkan pengobatan.

Dan Allhamdulillah, dengan membawa satu orang yang merawat ibuku, setelah dua hari dalam perjalanan, ibuku tidak langsung dibawa pulang, namun langsung ke rumah sakit agar segera dapat dilakukan perawatan. Dan dengan deering telpon? Ahhh rasanya sekarang taka da lagi yang horror selain panggilan dari si dia. Dia siapa? Embuh, . . . .

Read more ...