Rabu, 14 Februari 2018

Mendengarkan Cerita Mak’ e Pasca Stroke

 Sore itu, sengaja saya menginap di rumah simbah, karena senin esok saya masuk siang. Jadi, saya baru balik ke Boyolali senin pagi. Malam itu, tepatnya habis magrib, karena kondisi sedang hujan lumayan deras. Saya lebih memilih memarkirkan motor, dan hanya di rumah berkumpul bersama keluarga yang lain. Ada kedua simbahku, kakak, bulek, dan ada juga mak’e yang sekarang sudah bisa duduk sendiri, tanpa harus didampingi. Iya, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, mak’e sudah lebih dari satu bulan terkena serangan stroke. Dan serangan stroke itulah yang menyebabkan tubuh sebelah kanannya, yaitu kaki dan tangan kanannya tidak bisa digerakkan.

Mak’e kini sudah bisa bicara, meski awalnya masih sulit untuk dipahami, namun sedikit demi sedikit suaranya sudah bisa dimengerti. Meski terkadang juga sulit untuk dipahami ketika mak’ e ingin berbicara cepat. Biasanya ketika ucapannya sudah susah dipahami, saya akan langsung menginterupsi, dan menyuruh berbicara pelan agar mudah saya pahami.

Sebelumnya, sulit bagi mak’e untuk melafalkan kata-kata, namun setelah tiga kali terapi, mulai dari pengenalan huruf vocal, seperti A-I-U-E-O, kemudian sudah bisa merangkai kata, meski untuk kata-kata yang rumit terkadang masih bingung dalam pengucapannya. Dan mengajak mengobrol, adalah bagian dari terapi, maka sore itu sengaja saya ingin mendengarkan cerita mak’e.

Sore itu, saya duduk di sebelah kanan mak’e, hal itu sesuai saran dari terapis mak’e, agar sering diajak berinteraksi di sebelah sisi yang lemah. Hal itu dilakukan agar mak’e masih memiliki kesadaran, bahwa ia masih memiliki sisi tubuh bagian kanan, meski saat ini sisi tersebut masih belum bisa berfungsi normal.

Mak’e sudah bisa duduk di tempat tidur dan mampu mengendalikan keseimbangan, meski untuk bangun masih meminta bantuan orang lain. Ketika ingin duduk, biasanya mak’e meminta bantuan, sambil berucap, “duduk wae, tidur terus juga capek”

Saya duduk tepat di sebelah kanan mak’e, kemudian karena kami semua sedang dalam suasana santai, sambil menikmati cemilan yang ada, kami semua seperti sedang mendengarkan mak’e sedang mendongeng, menceritakan bagaimana awal serangan stroke itu bermula.

Dengan suara yang sedikit lirih, dan terkadang mak’e nampak sedikit kesulitan untuk menyampaikan apa yang ingin diceritakan kepada kami semua. Mak’ e pun mulai bercerita. Kala itu, sesudah bangun tidur di pagi hari, kebetulan saat itu ia sudah merasa capek, dan bangun agak siang. Setelah bangun, seperti biasa, ia menuju dapur dan memasak air. Mak’e juga bercerita, bahwa di sana masih masak menggunakan kompor minyak. Saya juga baru tahu hal itu, mengingat betapa langkanya minyak tanah untuk saat ini.

Ketika sedang memasak air, mak’e mulai merasakan pusing berat, kemudian ketika merasakan pusing berat itu, mak’e masih berinisiatif mematikan kompornya terlebih dahulu, “Kalo kompornya nggak tak matiin, iso kebakaran kabeh iki” ungkapnya. Dan tepat setelah kompor bisa dimatikan, seketika itu ia merasa lemah tubuh bagian kanannya, dan langsung ambruk di dapur.

“Aku langsung mak brek, aku ora iso ngopo-ngopo, arep ngomong nggak iso” tuturnya kepada kami semua. Dan ketika ia dalam kondisi ambruk, kemudian bahkan sempat tertidur di sana sebelum ada orang yang mengetahui dan di bawa ke rumah sakit terdekat. Mak’e bercerita bahwa ia justru memikirkan keadaan kedua orang tuanya, yaitu kedua simbah saya. “Aku malah mikir, nek aku ngasi mati neng kene, trus dikubur neng kene piye, Bapak–simbok , wes tuwo kabeh” mak’e dengan suara lirihnya.

Dan mak’e juga bercerita ingin menghabiskan masa tuanya di rumah orantuanya, yaitu simbah saya. Hal itu sudah mulai ia pikirkan ketika salah satu teman perantauannya meninggal dan dikubur di sana. Dan di saat itulah ia berpikir dengan dirinya, “Aku neng kono gur dewe, terus nek enek opo-opo piye, trus saiki malah kejadian tenan” ucap mak’e.

Mak’e bisa dikatakan tidak berbuat apa-apa kecuali ada orang yang menemukannya dalam kondisi sudah tidak berdaya di dekat kompor. Ia juga bercerita, “Aku ora iso opo-opo, gur meneng wae, ngasi enek cah cilik sik ngonangi aku lagi ambruk” ketika mak’e menceritakan hal itu, dalam hati aku mulai berandai-andai, “Andai tidak ada anak kecil yang entah karena alasan apa berani masuk dan menemukan mak’e dalam kondisi lemas,  mungkin akan lain lagi ceritanya”

Barulah ketika anak kecil itu menemukan mak’e yang sudah berada di lantai dan seperti orang yang tidak sadarkan diri, baru lah ia memberikan kabar kepada orang-orang sekitar, serta kerabatku. Melihat kondisi seperti itu, kerabatku langsung membawa ke rumah sakit milik TNI yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal mak’e di kerinci. Kemudian sambil dilakukan perawatan, keluarga saya yang di rumah langsung mencari jalan keluar atas musibah yang menimpa di keluarga saya. Dan tidak ada solusi yang lebih bagus selain membawanya pulang agar dekat dengan keluarga dan dirujuk rumah sakit pilihan kami.

Saya tidak habis pikir, bagaimana jika tidak ada anak kecil yang menemukan mak’e, kemudian segera meminta bantuan orang sekitar dan kerabatku yang berada di sana. Menurutku pertolongan Allah bisa datang dari mana saja, meski dari seorang anak kecil yang sedang bermain di teras tempat tinggal mak’e, kemudian karena rasa penasaran anak kecil tersebut masuk ke dalam rumah dan menemukan mak’e sudah terbaring lemas di lantai dekat kompor. Allhamdulillah, atas pertolongan Allah, hingga saat ini saya masih bisa bertemu, dan merawat mak’e.

Dan tidak lupa juga, terima kasih untuk kerabat-kerabat yang berada di kerinci yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk merawat mak’e selama beberapa hari di  rumah sakit sebelum akhirnya dibawa pulang ke jawa.

Semoga lekas membaik mak’ e,