Sabtu, 03 Februari 2018

Menyerah oleh Dirinya Sendiri

Setelah pulang dari dinas luar, aku segera menyelesaikan segala pekerjaan kantor siang itu. Aku segera membersihkan meja kerjaku, karena aku berencana untuk ijin pulang lebih awal. Aku baru saja mendapat telpon dari Om, agar aku bisa minta ijin kepada atasanku untuk pulang lebih awal. Dan atasanku mengerti keadanku dengan memberikan ijin untuk pulang lebih awal.

Selesaikan membereskan pekerjaan di meja, aku segera bergegas untk pulang lebih awal. Selama perjalanan pulang, beberapa kali handphoneku bergetar, sepertinya telpon dari om aku yang ingin memastikan posisiku.

Sesampai di rumah, aku segera ganti baju, dan segera ke rumah om yang sudah menunggu dari tadi. Sesampai di rumah om, aku segera memasukan motor ke garasi rumah, kemudian kami berangkat berdua ke sukoharjo. Selama perjalanan, beberapa kali, om nampak menelpon seseorang untuk memastikan keadaan.

Sore itu, kaluargaku masih menunggu dengan sedikit cemas. Iya, Ibuku yang jatuh sakit, sedang dalam perjalanan pulang untuk dipindah di rumah sakit dekat rumah, agar keluarga besar bisa merawatnya.

Sudah sedikit aku tuliskan mengenai keadaan ibuku, dalam tulisan sebelumnya. Bahwa ibuku terjatuh lemas dan dilarikan ke rumah sakit terdekat, oleh kerabat-kerabatku yang berada di kerinci.

Kala itu, aku hanya mendapatkan kabar, bahwa sebagian tubuh sebelah kanan tidak bisa digerakan, dan ibuku juga tidak bisa berbicara. Jangankan untuk makan, membuka mulut saja kesulitan. Dan ketika mendapatkan kabar itu, seketika itu juga aku langsung lemas dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dan yang bisa aku lakukan, hanya menelpon kakakku agar segera menyusul ke kerinci. Kebetulan kakakku sedang berada di Manna, sebuah kota kecil di Bengkulu.

Ketika mendapatkan kabar mengenai kondisi ibuku, yang ada dalam pikiranku saat itu, adalah serangan stroke. Meski aku sendiri masih kurang yakin, apakah benar ibuku terkena serangan stroke. Mengingat ketika masih sehat, ibuku tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya. Dan bisa dibilang, baru kali ini saja ibuku berurusan dengan jarum dan selang infus.

Keluarga besar, termasuk aku sendiri hanya bisa memantau kesehatan serta perkembangan ibuku, via telpon. Dan pernah juga aku melakukan video call dengan kakakku untuk melihat kondisi ibuku. Dan ketika video call, pertahananku sebagai lelaki runtuh seketika. Mataku sudah tak kuat untuk menahan isak tangis. Orang yang paling kuat dan tegar itu, kini menyerah oleh dirinya sendiri.

Hingga akhirnya, kami keluarga besar sepakat, bahwa kami harus segera membawa pulang ibuku.

Ibuku dibawa pulang dengan travel, karena bisa dibilang aku tidak kuat jika harus menyewa mobil ambulance. Dengan menyewa seorang perawat, dan tentu sebelumnya kami sudah meminta saran dan rekomendasi dari dokter yang merawat ibuku sebelumnya. Dan kami sudah siap dengan segala risiko ketika memutuskan untuk membawa pulang ibuku.

Ketika sedang merencanakan kepulangan ibuku. Kami sudah merencanakan rumah sakit mana yang akan kami jadikan pengobatan atau pemulihan pasca stroke ibuku. Dan sebuah rumah sakit islam di daerah Cawas, klaten menjadi rumah sakit pilihan kami.

Ibuku diperkirakan sampai rumah sakit sore hari. Dan sebelum itu aku sudah berada di rumah sakit untuk memesan kamar rawat inap. Namun, pihak rumah sakit tidak mengijinkan kami untuk memesan kamar perawatan. Karena dari pihak rumah sakit mengharuskan pasien sudah berada di sana, untuk menjalani observasi terlebih dahulu, baru meminta kamar rawat inap.

Sore itu hujan deras, aku masih terus memandang jalan, dan setiap ada mobil yang masuk area rumah sakit, aku langsung berdiri untuk memastikan apakah itu mobil yang membawa ibuku atau bukan.

Hingga akhirnya penantian berakhir juga, sebuah mobil datang, dan ketika satu persatu penumpang keluar, ada kakak dan kerabatku dari kerinci yang turut menemani selama perjalanan. Dan ada juga seorang wanita yang merawat ibuku selama perjalanan.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat secara langsung kondisi ibuku.

Aku segera membobong ibuku untuk dipindah ke ruang IGD. Sedang Omku langsung menuju tempat pendaftaran untuk mencarikan ruangan untuk ibuku. Dan aku, aku berada di samping ibuku ketika di IGD untuk dilakukan observasi.

Aku mengamati keadaan ibuku, satu sisi, lebih tepatnya sisi kanan tubuh ibuku sudah lemas tak bisa digerakkan. Selain itu, ibuku seperti kesulitan untuk berbicara. Untuk minum pun, ibuku hanya bisa minum sesendok demi sesendok, itupun masih sering tersendak. Dan aku berusaha menjadi seorang anak lelaki yang kuat, meski dalam hati sedang menahan tangis.

Sore itu aku hanya bisa menemani ibuku hingga tengah malam. Ada tanggung jawab lain yang harus aku kerjakan keesok harinya. Namun, aku berencana untuk mengambil cuti selama dua hari agar bisa menemani ibuku menjalani pengobatan selama di rumah sakit. Aku mengambil dua hari cuti, yaitu hari kamis dan jumat, karena di tempat kerjaku berlaku lima hari kerja, jadi aku bisa menamani ibuku dari kamis hingga minggu.

Selama menunggu di rumah sakit, rasa bosan itu pasti ada. Untuk mengisi kebosanan itu, aku membuka youtube untuk mengetahui lebih jauh mengenai penyakit stroke, posisi tidur orang stroke. Karena ibuku hanya bisa tertidur ketika miring kekanan, yaitu ke arah sisi yang lumpuh. Kemudian juga mengenai terapi yang tepat selama menjalani masa pemulihan pasca stroke.

Selain itu, aku juga membaca salah satu blog kompasiana yang dikelola oleh seorang stroke survivor. Di blog tersebut, ia bercerita ketika awal mula serangan stroke itu terjadi, hingga ia menjalani masa-masa pemulihan. Kini sudah hamper 80% fungsi tubuh sisi yang lumpuh bekerja dengan baik. Dan aku mulai tertarik untuk menerapkan metode pemulihan tersebut pada ibuku. Namun, yang menjadi fokusku kala itu, bagaimana aga kondisi fisik ibuku sudah mulai membaik, terutama bagaimana ibuku bisa untuk menelan dan minum makanan dan minuman tanpa sering tersendak.

Penderita stroke  awal-awalnya akan sedikit emosional, tiba-tiba menjadi gelisah dan menangis, kemudian sering marah ketika keinginannya tidak dituruti, adalah hal yang sering dihadapi ketika  merawat pasien stroke. Dan ibuku pun juga mengalami hal itu, ketika tengah malam, ia masih sering gelisah, menangis, dan terkadang juga teriak-teriak.

Aku menjadi sering mengamati perkembangan sedikit demi sedikit kondisi ibuku. Yang awalnya kesulitan untuk mengunyah makanan, kini ibuku sudah mulai bisa mengunyah makanan. Bahkan kini ibuku sudah mulai bisa untuk makan dan minum sendiri, meski menggunakan tangan kiri, karena tangan dan anggota badan sebelah kanan mengalami lumpuh.

Masalah kemampuan bicara, perlahan ibuku sudah bisa mengucapkan huruf vocal seperti “A I U E O”. Karena dalam proses terapi wicara, pertama kali harus dikenalkan dengan huruf vocal terlebih dahulu. Dan kini ibuku sudah bicara pelan-pelan, namun untuk merangkai kata-kata yang panjang masih mengalami kesulitan.

Masalah sikat gigi, awalnya saya ragu ketika mengajari untuk berkumur, karena bukannya berkumur, tapi malah ditelan. Pertama aku mengajari untuk berkumur dengan menggunakan air aqua, karena ketika air itu tertelan, hal itu masih aman. Dan ketika aku coba pertama kali, yang terjadi adalah, airnya malah tertelan. Aku mengurungkan niat untuk menggosok gigi ibuku.

Di lain waktu aku bertanya lagi kepada ibuku, “bisa berkumur nggak?” tanyaku. Dan ibuku memberi isyarat mengangguk, artinya bisa. Kemudian aku mencoba lagi menggunakan air aqua. Dan bisa! Aku pun berani untuk menggosok gigi ibuku dengan sikat dan pasta gigi dengan yakin.

Kemampuan bicara sudah menunjukan perkembangan, sedang untuk kemampuan gerak, ibuku masih terus menjalani proses terapi fisik. Dan terapi fisik, sebenarnya yang paling berperan adalah keluarga yang merawat pasien pasca stroke. Karena apa? Terapis dalam ini akan lebih berperan sebagai pendamping, sedang yang akan melakukan terapis rutin adalah dari keluarga yang merawat. Dan terapis yang melakukan terapi ibuku, selalu berpesan, hal penting yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan terapi adalah. Semangat dari pasien itu sendiri, yaitu semangat untuk sembuh. Selain itu, kesabaran dari orang yang merawat pasien yang menjalani pemulihan pasca stroke juga turut berpengaruh terhadap keberhasilan terapi.
***
Dan untuk kali ini, aku hanya bisa terus berdoa untuk kesehatan ibuku. Selain juga tetap untuk terus berikhtiar untuk pemulihan kondisi fisiknya. Dan percayalah, ibu kalian adalah orang yang paling sabar di dunia ini. Ibu kalian tetap sabar ketika membesarkan diri Anda. Ketika Anda masih kecil,  ibu kalian tidak sungkan untuk segera mengganti popok anda, meski dia sedang nikmat-nikmatnya menikmati sarapan atau makan siangnya. Sedangkan Anda? Saya tidak yakin Anda tetap bisa bersabar, ketika makan siang Anda diganggu dengan Ibu Anda yang masih dalam keadaan lemah di tempat tidur, kemudian meminta Anda mengganti pampers ibu Anda.

Dan untuk Ibu, mohon maaf, jika sebagai anak, aku masih belum bisa menjadi anak yang berbakti.