Sabtu, 07 Agustus 2021

Kopet

Pernah tidak, kalian mengeluh bahwa waktu kalian berjalan dengan ritme yang sangat cepat. Rasane seperti baru kemarin aras-arasen menyambut senin, tapi tau-tau sekarang sudah hari jumat. 

Hal itu tidak berlaku bagi kami pejuang satu garis. Iya, kamis kemarin memutuskan untuk melakukan swab antigen. Saya merasa aneh ketika habis mandi, mau berangkat kerja. Saya tidak bisa mencium bau sabun dan bau parfum. Seketika saya menghubungi rekan kerja, yaitu suster klinik di tempat saya bekerja. Saya menceritakan kondisi saya.

Semenjak mengalami demam hari selasa malam, saya selalu update tentang kondisi kesehatan saya. Secara fisik, hari rabunya saya sudah jauh lebih baik. Hanya sedikit flu, sudah tidak pusing, tidak demam juga, bahkan malah seharian saya merasa gerah. Pola makan pun juga masih sama. 

Rabu, saya menceritakan bahwa sepertinya saya mengalami anosmia. Anosmia adalah keadaan berkurangnya kepekaan indera penciuman. Kalau teman-teman saya, menyebutnya "irung e wes dol". Saya sempet browsing apakah anosmia yang saya alami itu hanya karena flu biasa. Karena mulut saya masih bisa membedakan rasa makanan. Kemudian saya menelpon salah satu rekan kerja, kebetulan juga baru saja mendapat gelar Lc, alias lulusan covid. Bahwa bisa jadi itu covid, "Wes, mending antigen wae daripada membahayakan yang lain" katanya 

Akhirnya saya memutuskan untuk antigen sore itu juga. Padahal ada pilihan, saya menyembunyikan anosmia yang saya alami, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Karena secara fisik saya sudah merasa sehat-sehat saja. Namun, pilihan itu saya urungkan. Saya akan merasa berdosa ketika saya malah abai bahkan bebal hingga mencelakan orang lain, bahkan keluarga dan orang-orang terdekat mereka.

Saya menyadari bahwa gejala yang saya alami, merupakan gejala khas kopet (Untuk seterusnya saya akan menyebut covid dengan istilah kopet). Maka saya memutuskan untuk antigen untuk memastikan. Dan benar, hasil antigen saya positif kopet. Dalam hati, "yaudah lah ya mau gimana lagi"

Sebelum pulang, saya mengabari rekan kerja, dan untuk keluarga saya cuma kirim pesan whatsapps, "Bisa telpon?" Karena menjelaskan langsung akan jauh lebih baik karena saya tidak mau membuat orang-orang terdekatku panik.

Sesampai dirumah banyak pesan whatsapps masuk sengaja saya abaikan karena saya sedang menikmati nasi padang. Baru setelah magrib saya merespon satu persatu pesan. Allhamdulillah masih banyak teman yang peduli. Namun, sebenarnya saya justru merasa sungkan. Saya akan menyusahkan orang lain itu pasti. Selama menjalani self quarantine, itu artinya saya akan menjadi tahanan rumah. Mau tidak mau akan sedikit merepotkan

Selang beberapa menit, tetangga, Pak RT tempat singgah saya sudah ke rumah, untuk memastikan kondisi saya. Batin saya "lha kok cepet men pada tau" Ternyata ketika saya bikin laporan hasil antigen positif, itu langsung nge-link ke gugus tugas tingkat kelurahan dan RT setempat. 

Menelpon orang-orang terdekat, untuk mengabari bahwa saya sedang baik-baik saja, sambil mengingat kontak erat, serta memastikan mereka baik-baik saja.

Allhamdulillah bisa dikatakan bahwa saya masih gejala ringan, hanya demam sehari, kemudian kondisi mulai membaik, namun baru memutuskan antigen karena sudah mengalami anosmia.

Kenapa saya bisa terpapar? Ya bisa saja, saya pernah bercerita kepada salah satu rekan kerja "Kalo dilihat kondisi saat ini, kayake kita ini tinggal menunggu giliran aja sih" dan benar habis dia terpapr karena mengeluh batuk yang tak kunjung sembuh. Sekarang malah beneran kejadian pada diri saya. Apes!

Kopet untuk sekarang ini, penyebaran sudah random, artinya bukan tentang darimana virus ini berasal, tapi lebih bagaimana cara kita menjaga diri kita sendiri. Menjaga diri sendiri itu artinya kita sudah turut menjaga orang-orang terdekat kita.

Saya kemungkinan terpapar oleh salah satu rekan kerja, karena sehari sebelum ia dinyatakan positif, dia duduk bersebelahan satu mobil, kemudian ketika makan siang juga berhadapan dengan saya. Tidak bermaksud menyudutkan ia sebagai pembawa virus. Saya hanya ingin mengingatkan saja pentingnya menjaga diri sendiri. Karena dengan peduli dengan keselamatan diri, itu artinya anda sedang peduli dengan keselamatan orang-orang terdekat kalian, dan keluarga mereka tentunya.

Semenjak pandemi, ketika sedang mudik ke Sukoharjo misalkan. Saat itu masih ada alm Simbah dan alm Ibu. Saya berusaha untuk tetap prokes, seperti jaga jarak, jarang menginap. Hal itu semata-mata untuk melindungi mereka. Saya menyadari bahwa saya selama pandemi bisa dikatakan masih memiliki mobilitas tinggi. Bekerja di industri padat karya, bertemu dan interview dengan calon karyawan yang random tidak tahu betul seperti apa kesehariannya.

Dan sebagai penutup, jaga kondisi ya teman-teman, selain menjaga pola makan, olahraga. Mungkin vaksin juga jadi solusi. Fyi, saya sudah vaksin dosis kedua, jadi bener-bener mengalami gejala demam yang lumayan cuma sehari aja, itu pun saya minum tolak angin sudah sembuh. Selebihnya hanya gejala ringan. Ayo manfaatkan program vaksin gratis di sekitar Anda.