Minggu, 15 Juli 2018

Nostalgia Tempat Makan Jaman Kuliah

Mie ayam lestari

Selama kurang lebih 5 tahun di Solo. Saya cuma pindah kos sekali saja. Pertama kali kos, di daerah petoran jebres, tepatnya belakang asia motor. Di sana kurang lebih sekitar 2 semester. Lingkungannya menurut saya tidak nyaman untuk istirahat. Kebanyakan yang kos di sana anak SMK Warga. Karena terlalu kemriyek, kemudian saya mulai cari kos lain. Dan kos kedua berada di ngemingan jebres, lebih tepatnya utara stasiun jebres.

Sebenarnya saya pengennya lajo, namun tidak diperbolehkan. Hal itu bukan tanpa alasan. Pertama karena ditakutkan, saya tidak akan menjadi orang yang mandiri. Kedua, lingkungan yang kurang mendukung dikhawatirkan akan membuat saya tidak segera menyelesaikan kuliah saya. Dan saya nderek saja.

Selama menjalani kehidupan sebagai anak kos. Ketika awal-awal menjadi anak kos, dalam seminggu saya bisa dua sampai tiga kali balik ke rumah. Maklum, masih dalam tahap adaptasi. Kemudian perlahan tapi pasti, saya kemudian jarang pulang. Apalagi ketika semester akhir, saya sudah jarang pulang. Kalau pun pulang, minggu pagi sampai rumah, sore nya berangkat lagi. Tentu semua itu karena pertanyaan, kok ndak lulus-lulus begitu risi untuk didengar.

Untuk masalah makan. Saya memiliki kebiasaan. Ketika saya nemu tempat makan yang masakannya enak, maka bisa dipastikan untuk beberapa hari kedepan pasti akan makan di situ lagi. Di situ terus sampai bosan. Kemudian pindah lagi, nemu yang masakannya enak, di situ terus sampai bosan. Begitu seterusnya.

Beberapa tempat makan yang sering saya kunjungi, ada warung ijo, di sana saya sering makan tongseng dan garang asem. Salah satu tempat makan favorit hingga akhir kuliah. Bahkan waktu ada saudara atau teman yang sedang mampir di Solo, saya ajak makan di sana. Kemudian depanya warung ijo juga ada warung, tempatnya Bu nur, di sana selingan kalo saya sudah mulai bosan dengan menu warung ijo.

Untuk angkringan, dulu sering begadang di tempat Pak hasan, kemudian pak hasan tutup, pindah dekat PMI. Setiap selesai futsal bisa dipastikan kami mampir di angkringan itu.

Kalo sarapan juga ada di tempat jualan kalo pagi di gang ngemingan, utara stasiun Jebres. Saya lupa namanya ibu siapa. Dan kalo siang tempat itu dipake jualan semacam angkringan juga. Saya juga sering makan siang di sana, bahkan ibunya sampai hafal, karena saya sering pesan es kopi hitam. Selain itu juga di angkringan Pak dhe, hanya buka di siang hari, kalo malam dipake jualan nasi goreng Pak sabar. Dan untuk mie ayam, mie ayam lestari masih juara di lidah saya.

Kemarin karena libur dan tidak tahu mau kemana. Saya iseng maen ke solo untuk sekedar nostalgia jaman kuliah. Sengaja saya lewat depan kedua kosan lama saya. Kos yang dulu kata teman saya mirip sarang teroris itu kini sudah berganti dengan bangunan kokoh dan megah. Kosan saya dulu sekarang menjadi kost exclusive.
Saya jadi teringat ketika salah satu kawan kos saya membawa teman ceweknya. Ibu kaji langsung nempel tulisan di pintu dengan tulisan gede-gede.

Kemarin saya juga mampir di angkringan gang ngemingan. Saking ramainya, gang itu banyak dipasang polisi tidur, beberapa kali motor saya sampai gasrut.
Saya mengambil dua nasi, satu nasi tempe penyet dan nasi langgi, kemudian gorengan dan beberapa sundukan. Dan minumnya tetap, es kopi hitam. Bodo amat meski paginya uda kopi, dan hasil tes kesehatan disarankan buat ngurangi kopi.

Tak puas disitu, karena mumpung di solo. Saya juga turut mengunjungi mie ayam yang menurut saya mie ayam ter-enak. Namanya mie ayam lestari, letaknya di sebuah ruko kecil sebelah barat asia motor. Dulu masih berjualan di trotoar depan rumah kosong, yang tak jauh juga dari ruko yang sekarang ditempati.

Sudah beberapa kali saya sengaja mampir ke sana dan saya tidak menemukan mie ayam lestari. Saya pikir sudah kukut. Kemudian atas informasi dari teman, yaitu Mas Wildan, anak lobimesen.com juga. Bahwa sekarang menempati di sebuah ruko kecil itu.

Terakhir ke sana, waktu saya mengantar teman ke PGS buat belanja batik, masih jualan di tempat semula. Kemarin sempat ngobrol dengan yang jualan, katanya sudah pindah sekitar satu tahun yang lalu, karena ada proyek trotoar. Dan dia memutuskan untuk pindah tempat. Dan bapaknya ternyata juga masih ingat saya, sekedar menanyakan kabar, dan sekarang saya menetap dimana.

Meski berada di ruko sempit, namun nampak pelanggan bergantian berdatangan. Bahkan saya merasa diusir ketika baru selesai makan mie ayam, nampak ada pelanggan baru datang dan celingak-celinguk mencari tempat. Saya pun segera mengakhiri makan, membayar dan berpamitan.
Read more ...

Rabu, 14 Februari 2018

Mendengarkan Cerita Mak’ e Pasca Stroke

 Sore itu, sengaja saya menginap di rumah simbah, karena senin esok saya masuk siang. Jadi, saya baru balik ke Boyolali senin pagi. Malam itu, tepatnya habis magrib, karena kondisi sedang hujan lumayan deras. Saya lebih memilih memarkirkan motor, dan hanya di rumah berkumpul bersama keluarga yang lain. Ada kedua simbahku, kakak, bulek, dan ada juga mak’e yang sekarang sudah bisa duduk sendiri, tanpa harus didampingi. Iya, seperti yang sudah saya tuliskan sebelumnya, mak’e sudah lebih dari satu bulan terkena serangan stroke. Dan serangan stroke itulah yang menyebabkan tubuh sebelah kanannya, yaitu kaki dan tangan kanannya tidak bisa digerakkan.

Mak’e kini sudah bisa bicara, meski awalnya masih sulit untuk dipahami, namun sedikit demi sedikit suaranya sudah bisa dimengerti. Meski terkadang juga sulit untuk dipahami ketika mak’ e ingin berbicara cepat. Biasanya ketika ucapannya sudah susah dipahami, saya akan langsung menginterupsi, dan menyuruh berbicara pelan agar mudah saya pahami.

Sebelumnya, sulit bagi mak’e untuk melafalkan kata-kata, namun setelah tiga kali terapi, mulai dari pengenalan huruf vocal, seperti A-I-U-E-O, kemudian sudah bisa merangkai kata, meski untuk kata-kata yang rumit terkadang masih bingung dalam pengucapannya. Dan mengajak mengobrol, adalah bagian dari terapi, maka sore itu sengaja saya ingin mendengarkan cerita mak’e.

Sore itu, saya duduk di sebelah kanan mak’e, hal itu sesuai saran dari terapis mak’e, agar sering diajak berinteraksi di sebelah sisi yang lemah. Hal itu dilakukan agar mak’e masih memiliki kesadaran, bahwa ia masih memiliki sisi tubuh bagian kanan, meski saat ini sisi tersebut masih belum bisa berfungsi normal.

Mak’e sudah bisa duduk di tempat tidur dan mampu mengendalikan keseimbangan, meski untuk bangun masih meminta bantuan orang lain. Ketika ingin duduk, biasanya mak’e meminta bantuan, sambil berucap, “duduk wae, tidur terus juga capek”

Saya duduk tepat di sebelah kanan mak’e, kemudian karena kami semua sedang dalam suasana santai, sambil menikmati cemilan yang ada, kami semua seperti sedang mendengarkan mak’e sedang mendongeng, menceritakan bagaimana awal serangan stroke itu bermula.

Dengan suara yang sedikit lirih, dan terkadang mak’e nampak sedikit kesulitan untuk menyampaikan apa yang ingin diceritakan kepada kami semua. Mak’ e pun mulai bercerita. Kala itu, sesudah bangun tidur di pagi hari, kebetulan saat itu ia sudah merasa capek, dan bangun agak siang. Setelah bangun, seperti biasa, ia menuju dapur dan memasak air. Mak’e juga bercerita, bahwa di sana masih masak menggunakan kompor minyak. Saya juga baru tahu hal itu, mengingat betapa langkanya minyak tanah untuk saat ini.

Ketika sedang memasak air, mak’e mulai merasakan pusing berat, kemudian ketika merasakan pusing berat itu, mak’e masih berinisiatif mematikan kompornya terlebih dahulu, “Kalo kompornya nggak tak matiin, iso kebakaran kabeh iki” ungkapnya. Dan tepat setelah kompor bisa dimatikan, seketika itu ia merasa lemah tubuh bagian kanannya, dan langsung ambruk di dapur.

“Aku langsung mak brek, aku ora iso ngopo-ngopo, arep ngomong nggak iso” tuturnya kepada kami semua. Dan ketika ia dalam kondisi ambruk, kemudian bahkan sempat tertidur di sana sebelum ada orang yang mengetahui dan di bawa ke rumah sakit terdekat. Mak’e bercerita bahwa ia justru memikirkan keadaan kedua orang tuanya, yaitu kedua simbah saya. “Aku malah mikir, nek aku ngasi mati neng kene, trus dikubur neng kene piye, Bapak–simbok , wes tuwo kabeh” mak’e dengan suara lirihnya.

Dan mak’e juga bercerita ingin menghabiskan masa tuanya di rumah orantuanya, yaitu simbah saya. Hal itu sudah mulai ia pikirkan ketika salah satu teman perantauannya meninggal dan dikubur di sana. Dan di saat itulah ia berpikir dengan dirinya, “Aku neng kono gur dewe, terus nek enek opo-opo piye, trus saiki malah kejadian tenan” ucap mak’e.

Mak’e bisa dikatakan tidak berbuat apa-apa kecuali ada orang yang menemukannya dalam kondisi sudah tidak berdaya di dekat kompor. Ia juga bercerita, “Aku ora iso opo-opo, gur meneng wae, ngasi enek cah cilik sik ngonangi aku lagi ambruk” ketika mak’e menceritakan hal itu, dalam hati aku mulai berandai-andai, “Andai tidak ada anak kecil yang entah karena alasan apa berani masuk dan menemukan mak’e dalam kondisi lemas,  mungkin akan lain lagi ceritanya”

Barulah ketika anak kecil itu menemukan mak’e yang sudah berada di lantai dan seperti orang yang tidak sadarkan diri, baru lah ia memberikan kabar kepada orang-orang sekitar, serta kerabatku. Melihat kondisi seperti itu, kerabatku langsung membawa ke rumah sakit milik TNI yang lokasinya tak jauh dari tempat tinggal mak’e di kerinci. Kemudian sambil dilakukan perawatan, keluarga saya yang di rumah langsung mencari jalan keluar atas musibah yang menimpa di keluarga saya. Dan tidak ada solusi yang lebih bagus selain membawanya pulang agar dekat dengan keluarga dan dirujuk rumah sakit pilihan kami.

Saya tidak habis pikir, bagaimana jika tidak ada anak kecil yang menemukan mak’e, kemudian segera meminta bantuan orang sekitar dan kerabatku yang berada di sana. Menurutku pertolongan Allah bisa datang dari mana saja, meski dari seorang anak kecil yang sedang bermain di teras tempat tinggal mak’e, kemudian karena rasa penasaran anak kecil tersebut masuk ke dalam rumah dan menemukan mak’e sudah terbaring lemas di lantai dekat kompor. Allhamdulillah, atas pertolongan Allah, hingga saat ini saya masih bisa bertemu, dan merawat mak’e.

Dan tidak lupa juga, terima kasih untuk kerabat-kerabat yang berada di kerinci yang telah bersedia meluangkan waktu dan tenaganya untuk merawat mak’e selama beberapa hari di  rumah sakit sebelum akhirnya dibawa pulang ke jawa.

Semoga lekas membaik mak’ e,



Read more ...

Sabtu, 03 Februari 2018

Menyerah oleh Dirinya Sendiri

Setelah pulang dari dinas luar, aku segera menyelesaikan segala pekerjaan kantor siang itu. Aku segera membersihkan meja kerjaku, karena aku berencana untuk ijin pulang lebih awal. Aku baru saja mendapat telpon dari Om, agar aku bisa minta ijin kepada atasanku untuk pulang lebih awal. Dan atasanku mengerti keadanku dengan memberikan ijin untuk pulang lebih awal.

Selesaikan membereskan pekerjaan di meja, aku segera bergegas untk pulang lebih awal. Selama perjalanan pulang, beberapa kali handphoneku bergetar, sepertinya telpon dari om aku yang ingin memastikan posisiku.

Sesampai di rumah, aku segera ganti baju, dan segera ke rumah om yang sudah menunggu dari tadi. Sesampai di rumah om, aku segera memasukan motor ke garasi rumah, kemudian kami berangkat berdua ke sukoharjo. Selama perjalanan, beberapa kali, om nampak menelpon seseorang untuk memastikan keadaan.

Sore itu, kaluargaku masih menunggu dengan sedikit cemas. Iya, Ibuku yang jatuh sakit, sedang dalam perjalanan pulang untuk dipindah di rumah sakit dekat rumah, agar keluarga besar bisa merawatnya.

Sudah sedikit aku tuliskan mengenai keadaan ibuku, dalam tulisan sebelumnya. Bahwa ibuku terjatuh lemas dan dilarikan ke rumah sakit terdekat, oleh kerabat-kerabatku yang berada di kerinci.

Kala itu, aku hanya mendapatkan kabar, bahwa sebagian tubuh sebelah kanan tidak bisa digerakan, dan ibuku juga tidak bisa berbicara. Jangankan untuk makan, membuka mulut saja kesulitan. Dan ketika mendapatkan kabar itu, seketika itu juga aku langsung lemas dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Dan yang bisa aku lakukan, hanya menelpon kakakku agar segera menyusul ke kerinci. Kebetulan kakakku sedang berada di Manna, sebuah kota kecil di Bengkulu.

Ketika mendapatkan kabar mengenai kondisi ibuku, yang ada dalam pikiranku saat itu, adalah serangan stroke. Meski aku sendiri masih kurang yakin, apakah benar ibuku terkena serangan stroke. Mengingat ketika masih sehat, ibuku tidak pernah mengeluhkan tentang kesehatannya. Dan bisa dibilang, baru kali ini saja ibuku berurusan dengan jarum dan selang infus.

Keluarga besar, termasuk aku sendiri hanya bisa memantau kesehatan serta perkembangan ibuku, via telpon. Dan pernah juga aku melakukan video call dengan kakakku untuk melihat kondisi ibuku. Dan ketika video call, pertahananku sebagai lelaki runtuh seketika. Mataku sudah tak kuat untuk menahan isak tangis. Orang yang paling kuat dan tegar itu, kini menyerah oleh dirinya sendiri.

Hingga akhirnya, kami keluarga besar sepakat, bahwa kami harus segera membawa pulang ibuku.

Ibuku dibawa pulang dengan travel, karena bisa dibilang aku tidak kuat jika harus menyewa mobil ambulance. Dengan menyewa seorang perawat, dan tentu sebelumnya kami sudah meminta saran dan rekomendasi dari dokter yang merawat ibuku sebelumnya. Dan kami sudah siap dengan segala risiko ketika memutuskan untuk membawa pulang ibuku.

Ketika sedang merencanakan kepulangan ibuku. Kami sudah merencanakan rumah sakit mana yang akan kami jadikan pengobatan atau pemulihan pasca stroke ibuku. Dan sebuah rumah sakit islam di daerah Cawas, klaten menjadi rumah sakit pilihan kami.

Ibuku diperkirakan sampai rumah sakit sore hari. Dan sebelum itu aku sudah berada di rumah sakit untuk memesan kamar rawat inap. Namun, pihak rumah sakit tidak mengijinkan kami untuk memesan kamar perawatan. Karena dari pihak rumah sakit mengharuskan pasien sudah berada di sana, untuk menjalani observasi terlebih dahulu, baru meminta kamar rawat inap.

Sore itu hujan deras, aku masih terus memandang jalan, dan setiap ada mobil yang masuk area rumah sakit, aku langsung berdiri untuk memastikan apakah itu mobil yang membawa ibuku atau bukan.

Hingga akhirnya penantian berakhir juga, sebuah mobil datang, dan ketika satu persatu penumpang keluar, ada kakak dan kerabatku dari kerinci yang turut menemani selama perjalanan. Dan ada juga seorang wanita yang merawat ibuku selama perjalanan.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat secara langsung kondisi ibuku.

Aku segera membobong ibuku untuk dipindah ke ruang IGD. Sedang Omku langsung menuju tempat pendaftaran untuk mencarikan ruangan untuk ibuku. Dan aku, aku berada di samping ibuku ketika di IGD untuk dilakukan observasi.

Aku mengamati keadaan ibuku, satu sisi, lebih tepatnya sisi kanan tubuh ibuku sudah lemas tak bisa digerakkan. Selain itu, ibuku seperti kesulitan untuk berbicara. Untuk minum pun, ibuku hanya bisa minum sesendok demi sesendok, itupun masih sering tersendak. Dan aku berusaha menjadi seorang anak lelaki yang kuat, meski dalam hati sedang menahan tangis.

Sore itu aku hanya bisa menemani ibuku hingga tengah malam. Ada tanggung jawab lain yang harus aku kerjakan keesok harinya. Namun, aku berencana untuk mengambil cuti selama dua hari agar bisa menemani ibuku menjalani pengobatan selama di rumah sakit. Aku mengambil dua hari cuti, yaitu hari kamis dan jumat, karena di tempat kerjaku berlaku lima hari kerja, jadi aku bisa menamani ibuku dari kamis hingga minggu.

Selama menunggu di rumah sakit, rasa bosan itu pasti ada. Untuk mengisi kebosanan itu, aku membuka youtube untuk mengetahui lebih jauh mengenai penyakit stroke, posisi tidur orang stroke. Karena ibuku hanya bisa tertidur ketika miring kekanan, yaitu ke arah sisi yang lumpuh. Kemudian juga mengenai terapi yang tepat selama menjalani masa pemulihan pasca stroke.

Selain itu, aku juga membaca salah satu blog kompasiana yang dikelola oleh seorang stroke survivor. Di blog tersebut, ia bercerita ketika awal mula serangan stroke itu terjadi, hingga ia menjalani masa-masa pemulihan. Kini sudah hamper 80% fungsi tubuh sisi yang lumpuh bekerja dengan baik. Dan aku mulai tertarik untuk menerapkan metode pemulihan tersebut pada ibuku. Namun, yang menjadi fokusku kala itu, bagaimana aga kondisi fisik ibuku sudah mulai membaik, terutama bagaimana ibuku bisa untuk menelan dan minum makanan dan minuman tanpa sering tersendak.

Penderita stroke  awal-awalnya akan sedikit emosional, tiba-tiba menjadi gelisah dan menangis, kemudian sering marah ketika keinginannya tidak dituruti, adalah hal yang sering dihadapi ketika  merawat pasien stroke. Dan ibuku pun juga mengalami hal itu, ketika tengah malam, ia masih sering gelisah, menangis, dan terkadang juga teriak-teriak.

Aku menjadi sering mengamati perkembangan sedikit demi sedikit kondisi ibuku. Yang awalnya kesulitan untuk mengunyah makanan, kini ibuku sudah mulai bisa mengunyah makanan. Bahkan kini ibuku sudah mulai bisa untuk makan dan minum sendiri, meski menggunakan tangan kiri, karena tangan dan anggota badan sebelah kanan mengalami lumpuh.

Masalah kemampuan bicara, perlahan ibuku sudah bisa mengucapkan huruf vocal seperti “A I U E O”. Karena dalam proses terapi wicara, pertama kali harus dikenalkan dengan huruf vocal terlebih dahulu. Dan kini ibuku sudah bicara pelan-pelan, namun untuk merangkai kata-kata yang panjang masih mengalami kesulitan.

Masalah sikat gigi, awalnya saya ragu ketika mengajari untuk berkumur, karena bukannya berkumur, tapi malah ditelan. Pertama aku mengajari untuk berkumur dengan menggunakan air aqua, karena ketika air itu tertelan, hal itu masih aman. Dan ketika aku coba pertama kali, yang terjadi adalah, airnya malah tertelan. Aku mengurungkan niat untuk menggosok gigi ibuku.

Di lain waktu aku bertanya lagi kepada ibuku, “bisa berkumur nggak?” tanyaku. Dan ibuku memberi isyarat mengangguk, artinya bisa. Kemudian aku mencoba lagi menggunakan air aqua. Dan bisa! Aku pun berani untuk menggosok gigi ibuku dengan sikat dan pasta gigi dengan yakin.

Kemampuan bicara sudah menunjukan perkembangan, sedang untuk kemampuan gerak, ibuku masih terus menjalani proses terapi fisik. Dan terapi fisik, sebenarnya yang paling berperan adalah keluarga yang merawat pasien pasca stroke. Karena apa? Terapis dalam ini akan lebih berperan sebagai pendamping, sedang yang akan melakukan terapis rutin adalah dari keluarga yang merawat. Dan terapis yang melakukan terapi ibuku, selalu berpesan, hal penting yang sangat berpengaruh dalam keberhasilan terapi adalah. Semangat dari pasien itu sendiri, yaitu semangat untuk sembuh. Selain itu, kesabaran dari orang yang merawat pasien yang menjalani pemulihan pasca stroke juga turut berpengaruh terhadap keberhasilan terapi.
***
Dan untuk kali ini, aku hanya bisa terus berdoa untuk kesehatan ibuku. Selain juga tetap untuk terus berikhtiar untuk pemulihan kondisi fisiknya. Dan percayalah, ibu kalian adalah orang yang paling sabar di dunia ini. Ibu kalian tetap sabar ketika membesarkan diri Anda. Ketika Anda masih kecil,  ibu kalian tidak sungkan untuk segera mengganti popok anda, meski dia sedang nikmat-nikmatnya menikmati sarapan atau makan siangnya. Sedangkan Anda? Saya tidak yakin Anda tetap bisa bersabar, ketika makan siang Anda diganggu dengan Ibu Anda yang masih dalam keadaan lemah di tempat tidur, kemudian meminta Anda mengganti pampers ibu Anda.

Dan untuk Ibu, mohon maaf, jika sebagai anak, aku masih belum bisa menjadi anak yang berbakti.

Read more ...

Rabu, 31 Januari 2018

Dering Telepon

Kala itu, aku sedikit kemaruk. Setelah libur tahun baru, aku mengajukan cuti tahunan untuk menambah waktu liburku. Meski pada akhirnya aku lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Setidaknya aku sudah keluar dari rutinitas yang semakin lama, semakin membosankan ini. Waktuku habis tersita untuk hal-hal yang bersifat rutinitas. Waktu luang begitu berharga bagiku. Dan ketika waktu luang itu ada, aku justru menghabiskan waktu untuk hipernasi. Jika sebagian orang suka menghabiskan waktu liburnya untuk bepergian. Aku justru sering menghabiskan waktu luangku untuk tidur.

Tidur bukan hanya aktifitas yang mampu mengistirahatkan badan yang sudah lelah disiksa dengan rutinitas harian. Lebih dari itu, tidur bagiku seperti halnya dengan me-refresh otak. Setelah bangun dari hipernasi, selain mampu menghilangkan rasa lelah. Tidur juga mampu membuat otak ini mau diajak untuk berpikir.

Mungkin aku adalah orang yang introvert, menghabiskan waktu seorang diri, adalah waktu yang benar-benar aku dambakan. Karena ketika sendiri itulah aku justru seperti sedang mengisi bateraiku yang sudah mulai lobert. Dan dengan tidur salah satunya.

Siang itu, kebetulan aku masuk siang. Jadi aku masih memiliki banyak waktu untuk tidur siang, sebelum aku siap-siap untuk bergegas kembali menjalani rutinitas. Ketika aku sedang tidur siang, tiba-tiba ada dering telpon masuk. Masih dalam keadaan mata tertutup dan menahan kantuk, aku mencoba mencari handphone. Dan ketika aku sudah meraihnya, aku menatap layar handphone dengan pandangan masih kabur karena rasa kantuk. “nomor baru” pikirku kala itu ketika mau mengangkat dering telpon yang masuk. Aku segera mengangkatnya dan mulai mendengarkan suara di seberang sana.

Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Dan kabar buruk! Aku yang kala itu masih menahan kantuk tiba-tiba saja aku langsung berdiri tegak, dan kemudian aku seperti orang bingung. Aku berusaha menenangkan diri dan mulai mengabarkan kabar buruk itu kepada semua keluargaku. Dan kala itu aku benar-benar dalam kondisi bingung., dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan.
 
Mendengar kabar buruk itu, seketika itu ingatanku kembali pada saat-saat dimana aku harus mengambil pilihan dan mengkomunikasikan pilihan itu kepada orang-orang terdekatku agar bisa menerima keputusan itu. Kala itu aku berhadapan dengan sebuah delima. Sebagai anak, tentu aku tidak akan membiarkan Ibuku hidup seorang diri di tanah rantau. Orang yang biasa hidup dengan ibuku, yaitu bulek, memutuskan untuk hidup bersama simbah. Sedangkan ibuku tidak kerasan jika harus hidup bersama simbah. Hal itu karena ia sudah terbiasa hidup di tanah rantau, yaitu di kerinci. Karena dulu terlalu aku kenkang, justru membuat kondisi psikologi ibuku menjadi sedikit goyah. Dan di saat seperti itu, aku mulai mengijinkan ibuku hidup seorang diri di kerinci sana. Tahun pertama dan kedua berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan tidak ada kekhawatiran sedikitpun bagiku, dan keluarga besarku.

Namun, kabar siang itu memupuskan segala prasangka baikku, bahwa ibuku akan baik-baik saja meski seorang diri di kerinci sana. Dan kabar siang itu, aku bukan saja menjadi orang yang merasa bersalah, tapi menjadi orang yang tak berguna.

Semenjak kabar itu, aku seperti menjadi seorang paranoid terhadap dering telpon. Aku sengaja membiarkan handphoneku tetap dalam keadaan aktif meski di malam hari. Padahal, biasanya aku akan mematikan handphone ku ketika menjelang tidur.

Setiap kali ada panggilan masuk, dada ini seperti berdebar-debar, nafas menjadi sedikit sesak. Aku seperti sudah menyiapkan respon dengan kabar paling buruk sekali pun. Jujur saja, aku sudah panic ketika aku tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya terus berdoa, dan menanyakan kabar tentang kondisi kesehatan ibuku.

Dering telpon dan kabar buruk seakan menjadi sebuah pola yang melekat di kepalaku. Setiap kali ada telpon masuk, bunyi dering telpon seakan hanya memberikan berita buruk tentang keadaan ibuku. Ketika mendengar dering telpon, aku mulai gelisah, dada seakan terasa sesak, seakan aku akan menerima kabar buruk. Dan ketika aku lupa membawa handphone, aku juga seperti tidak mau melewatkan tentang kabar tentang keadaan ibuku.

Hingga pada akhirnya, kami semua sepakat. Bahwa kami harus segera mengambil keputusan untuk segera membawa pulang ibuku meski dengan kondisi masih dalam keadan sakit. Berkonsultasi dengan dokter yang merawat ibuku, dan memahami segala risiko yang akan terjadi. Kami semua sepakat, dan semua itu kami lakukan atas niatan yang baik. Yaitu membawa pulang ibu untuk mendapatkan pengobatan.

Dan Allhamdulillah, dengan membawa satu orang yang merawat ibuku, setelah dua hari dalam perjalanan, ibuku tidak langsung dibawa pulang, namun langsung ke rumah sakit agar segera dapat dilakukan perawatan. Dan dengan deering telpon? Ahhh rasanya sekarang taka da lagi yang horror selain panggilan dari si dia. Dia siapa? Embuh, . . . .

Read more ...

Jumat, 01 Desember 2017

Donor Darah

Semua berawal dari ketidaksengajaan, dan hal-hal tak terduga. Terkadang, sesuatu yang sudah saya rencanakan secara matang, berakhir dengan kegagalan. Dan apesnya, saya tidak pernah menyiapkan plan B ketika rencana A ternyata gagal total.

Pernah saya merencanakan jalan-jalan ke jogja dengan kereta prameks. Prameks yang setahu saya bisa dipesan secara dadakan. Namun ketika sampai di stasiun dan akan membeli tiket, apesnya tiket dengan jam keberangkatan sesuai rencana saya sudah habis. Yang masih tersedia hanya tiket keberangkatan siang. Dan hal itu bisa dipastikan saya akan kehabisan tiket pulang. Saya pun mengurungkan niat ke jogja.

Saya belum tahu ingin kemana saya selanjutnya. Kemudian tiba-tiba saya mengambil keputusan, menggeber motor ke pantai di kawasan gunung kidul. Yang awalnya saya ingin ke pantai sadranan, namun saya kesasar dan tiba di indrayanti. Namun kala itu saya tidak kecewa, dan saya memilih menikmati pantai indrayanti.

Kemarin, perusahaan tempat saya bekerja menggelar bakti sosial donor darah. Kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tiga bulan sekali. Jujur, selama tiga tahun bekerja di sana, saya belum pernah mengikuti kegiatan donor darah. Dan seumur-umur saya juga belum pernah mengikuti donor darah.

Sebenarnya saya juga tidak mendaftarkan diri. Namun, ada informasi bahwa masih ada empat kantong yang tersisa, karena ada pendonor yang tidak bisa ikut karena hasil cek dokter tidak disarankan untuk donor.

Dan tanpa ada rencana serta tanpa pikir panjang, saya memutuskan untuk ikut donor darah. Pikir saya, mungkin ini adalah saatnya menjadi orang yang lebih berguna untuk orang lain.

Bisa dibilang kemarin adalah kali pertama saya menjadi pendonor darah. Dan semoga akan menjadi awal yang baik untuk kegiatan donor darah selanjutnya. Rasa takut itu pasti ada, namun saya tidak terlalu memikirkan hal itu. Rasa takut itu ada untuk dihadapi, bukan dihindari.

Setelah di cek dokter, kemudian cek golongan darah, saya pun dinyatakan bisa untuk donor.

Dan mulailah saya ditusuk lengan kanan saya dengan jarum yang lumayan gede, kemudian perlahan darah saya dialirkan ke sebuah kantong darah. Sambil menunggu penuh hanya membuka hape, kemudian membaca artikel-artikel di website langganan saya.

Tidak terasa darah yang dialirkan ke kantong sudah penuh. Artinya proses donor darah sudah selesai. Awalnya saya mengira setelah donor darah, lengan tempat jarum di tancapkan bakal seperti kesemutan, kemudian setelah donor menjadi lemas dan pusing. Dan ternyata, saya tidak mengalami hal itu.

Bener kata Python teman kuliah saya, habis donor badannya jadi enteng. Meski teman saya itu sedikit blasur hidupnya, dia tidak mentato tubuhnya. Sama seperti C. Ronaldo, karena ia rutin donor darah.

Read more ...

Sabtu, 14 Oktober 2017

Suntik Mati


“Belajar mengenal batas. Untuk waktu yang tidak dapat saya tentukan, saya tidak akan lagi aktif di akun fesbuk ini” Begitulah salah satu potongan status fesbuk milik teman sekaligus sahabat saya semasa kuliah. Saya belum sempat menanyakan apa yang melatarbelakangi hal tersebut, hingga ia memutuskan untuk pamit dan tidak aktif lagi di media sosial fesbuk lagi. Dan tidak menutup kemungkinan ia juga akan “menyuntik mati” akun media social lain miliknya .

Jauh hari sebelumnya, ia juga mengabarkan bahwa ia tak lagi menggunakan media sosial bbm sebagai salah satu alat komunikasi yang ia pakai. Alasannya simpel, wasap sudah jauh dari cukup untuk sekedar alat komunikasi via media sosial. Jika satu media sosial saja cukup, kenapa harus menggunakan akun media social lainnya? Atau bisa jadi ia menghapus aplikasi bbm dari telepon pintarnya karena tidak ada ruang lagi mengingat semakin lama, aplikasi-aplikasi yang dipelihara di telepon pintar terus memakan ruang memori. Tapi nampaknya, itu bukan alasan mendasar, mengingat terakhir kali kami bertemu dengannya, nampak ia menggenggam telepon pintar dengan kapasitas memori yang lebih besar dari telepon pintar milik saya.

Jika teman saya itu mengambil sikap untuk tidak aktif lagi di media sosial fesbuk. Sudah sejak lama saya meninggalkan media sosial instagram. Saya sengaja tidak menggunakan instagram lagi, padahal saya sudah dua kali saya membuat akun instagram. Alasan saya sederhana, saya tidak butuh media sosial yang berisi foto-foto mengenai kegiatan atau apapun yang disebarkan di media sosial instagram.

Tempo hari, saya lupa kapan tepatnya, saya juga sudah memperpanjang lagi satu tahun agar saya tetap menggunakan domain blogriki.com. Saya tetap melakukan perpanjangan domain tersebut meski harus saya akui, sudah sangat lama blog pribadi saya itu tak pernah saya rawat agar tetap hidup dengan postingan-postingan terbaru.

Saya akui, bahwa akhir-akhir ini saya sedang dalam kondisi malas untuk menulis. Entah lah, saya sendiri juga tidak mengetahui mengapa saya seperti kehilangan energy untuk menulis. Dan karena itu pula saya harus mengambil sikap. Saya sebelumnya mengelola 3 blog, blog pribadi saya, yaitu blogriki.com, blog bersama lobimesen.com, dan blog catatan-catatan yang berhubungan dengan pekerjaan saya, hrfile.net. Dan semuanya tidak ada yang saya rawat. Beruntung blog bersama lobimesen.com terkadang ada teman-teman contributor lain yang memposting tulisan baru. Dan untukhrfile.net dengan berat hati saya harus “menyuntik mati” blog tersebut. Lebih tepatnya saya tidak memperpanjang lagi untuk tetap menggunakan domainhrfile.net.

Lantas bagaimana nasib hrfile.net?, sampai saat ini saya sedang memikirkan hal itu, namun sepertinya mengabungkanhrfile.net menjadi satu denganblogriki.com adalah satu-satunya solusi yang paling tetap. Namun, saya belum tahu, kapan saya akan mengeksekusi hal tersebut. Mungkin saya akan membutuhkan bantuan sahabat saya mengenai hal tersebut.

Dan saya sedang mencari charger, untuk apa? Ya untuk menge –charge enegri menulis saya lagi, hehehe
Read more ...

Senin, 04 September 2017

Biar Keliatan Bijak

Pengalaman membuat NPWP

Orang bijak, taat bayar pajak. Itulah alasan mengapa beberapa hari yang lalu saya memutuskan untuk membuat NPWP. Atas saran dari seseorang yang baru saya kenal, saya pun membuat NPWP secara online. Dan ternyata membuat NPWP tidak seribet yang saya bayangkan. Hanya butuh waktu 2 hari saja, kartu NPWP sudah berada di tangan saya.

Yang dibutuhkan hanya file foto KTP, udah itu saja. Dan pastikan besar file foto KTP Anda tidak boleh lebih dari 1MB agar kita mudah meng-upload ketika melakukan pendaftaran secara online.

Ohiya, sebelum mendaftar online, pastikan anda memiliki akun email aktif. Bagi Anda yang sering gonta-ganti alamat email karena alasan klasik, seperti lupa password. Mulai sekarang Anda harus lebih bersikap profesional lagi dengan menggunakan satu alamat email untuk segala hal. Baik dalam aktifasi akun google hape android, aktifasi bbm, fesbuk maupun jejaring sosial lainnya. Meski kini kebanyakan media sosial sekarang lebih simpel dalam melakukan aktifasi, karena alamat email sudah bisa diganti dengan nomor hape. Percayalah alamat email akan ada gunanya di jaman serba internet ini.

Mendaftarkan NPWP cukup dengan membuat akun di ereg.pajak.go.id kemudian Anda bisa mendaftar NPWP secara online. Cukup mengisi apa yang perlu diisi, kemudian jika sudah dirasa lengkap, Anda bisa mengirim token, dan mengajukan permohonan NPWP.

Jika permohonan Anda disetujui, Anda tinggal menunggu kartu NPWP dikirim ke alamat Anda.

Biasanya NPWP akan dibuat oleh KPP sesuai tempat tinggal di KTP. Dan perlu dicatat, KPP kini memberikan pelayanan yang maksimal, yaitu ketika Kartu NPWP sudah jadi, Kartu tersebut akan dikirimkan ke alamat sesui alamat KTP pemohon. Dan karena saya adalah tipe orang yang tidak suka merepotkan, ketika permohonan NPWP sudah disetujui, saya langsung ke KPP Sukoharjo untuk mengambil kartu NPWP saya yang sudah jadi. Selain itu saya juga bukan tipe orang yang suka menunggu tanpa kepastian, halah malah curhat, hehehe

Bagaimana? gampang kan bikin NPWP?

Meski tahun ini adalah tahun ketiga saya bekerja, namun kenapa baru tahun ini saya membuat NPWP? Tentu saja saya bukanlah seorang pengemplang pajak kelas gurem. Karena secara regulasi penghasilan bulanan saya masih dibawah batas minimal penghasilan kena pajak. Penghasilan saya dikit? Bukan! Lebih tepatnya cukup, bahkan masih sisa dengan kebutuhan saya saat ini. Saya menyakini bahwa gaji yang saya peroleh itu adalah sudah menjadi rejeki saya. Tidak ada gunanya mengeluh, kemudian kerja asal-asalan. Dan saya tidak akan merendahkan diri saya dengan melakukan hal itu.

Lantas kenapa saya membuat NPWP? Nggak papa kok, biar keliatan jadi orang bijak aja.

 Udah gitu aja.
Read more ...

Sabtu, 22 Juli 2017

Membuka Hati untuk Orang Lain

Sumber Gambar

 Jika patah hati mampu menempa orang menjadi pribadi yang lebih dewasa, jatuh cinta justru sebaliknya, ia tumbuh dalam jiwa-jiwa yang kekanak-kanakan.

Aku hampir saja lupa bagaimana caranya memulai sebuah tulisan. Beberapa teman dekat bahkan sampai bertanya kepadaku, mengapa akhir-akhir ini aku tak pernah lagi menulis. Aku sendiri juga bingung dengan diriku. Kenapa aku seperti tak lagi memiliki sisa energi untuk sekedar membuka laptop, kemudian mulai menulis apapun yang sedang ingin aku tulis.

Laptop mungil yang kubeli dari jerih payahku di sela-sela aku mengerjakan skripsi itu, justru seperti sedang marah kepadaku. Mungkin karena terlalu lama tak kujamah. Karena ada garis-garis kecil di layar laptop mungil itu.  Beruntung aku menyimpan  password akun gmail dan blogger di aplikasi google chrome. Jadi, aku tak perlu khawatir jika aku lupa password masuk akun gmail ataupun blogger.

Tiga blog yang aku kelola, yaitu blog pribadi ini, blogriki.com, blog bersama dengan teman-teman di psikologi, yaitu lobimesen.com, serta blog yang sedang aku rintis namun kini justru aku cuti panjang untuk mengunggah tulisan baru, yaitu hrfile.net.

Beberapa hari ini, ada yang aneh dengan kehidupan yang aku jalani. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin aku sudah terlalu lama meninggalkan segala kebiasaan baik yang pernah aku jalani selama bulan ramadhan kemarin. Seperti selalu mandi pagi, meski malam harinya mata ini baru bisa terpenjam ketika waktu menunjukan pukul satu dini hari. Kemudian baru sebentar tidur, aku harus bangun untuk makan sahur.

Kebiasaan baik, sepertinya memang harus dipertahankan. Bagaimana pun caranya. Karena jika kita meninggalkan sebentar saja, aku tidak yakin dengan mudah kita akan bisa memulai kebiasaan baik itu. Seperti halnya dengan mengerjakan skripsi, ketika semangat sudah mulai kendor, jangankan pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan referensi, membuka folder skripsi saja, butuh niat dan kemauan yang kuat.

Aku seperti sedang mengambil cuti panjang, dengan cara mengasingkan laptop mungilku. Kemudian berusaha memulai sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan. Jujur, aku seperti sedang mengingkari sesuatu yang sudah menjadi prinsip.

Luka hati ini sebenarnya sudah lama sembuh. Karena aku bukan saja telah mampu melupakan segala luka itu, tapi aku sudah mampu memaafkan segala hal yang kini menjadi kenangan. Dan aku juga sudah bahagia dengan diriku yang sekarang.

Hingga sebuah pertanyaan dari seorang teman tiba-tiba ia lontarkan kepadaku. “Kapan kamu akan mulai membuka hati untuk orang lain?”

Dan kala itu, sambil melempar senyum aku berkata, mungkin dalam waktu dekat, mungkin akan ada sosok yang mampu menarik perhatianku. Padahal waktu itu aku masih terus berikhtiar untuk mendapatkan pekerjaan lain. Kebetulan aku mendapatkan tawaran dari seorang teman lamaku. Aku menyanggupi, dan sepertinya ia tertarik untuk mempekerjakanku. Namun nasib berkata lain. Ada kandidat lain yang lebih baik dariku. Dan aku urung untuk pindah ke luar kota.

Aku selalu berprasangka baik, apa yang terjadi pada hidupku itu, adalah sesutau yang harus aku jalani. Tentu aku harus berusaha ikhlas dalam menjalaninya. Dan benar, ketika aku tetap bertahan di tempat pekerjaanku yang sekarang. Justru ada seseorang yang mampu menarik perhatianku.

Awalnya aku menganggap pertemuan dengannya adalah sesuatu yang biasa, dan semuanya hanya terjadi begitu saja, dan tidak akan terjadi apa-apa. Seperti halnya pertemuan sekilas dan tidak pernah akan berulang.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan itu terjadi berulang-ulang. Dan aku mulai menjalin komunikasi dengannya. Dalam hati, aku selalu mengharapkan pertemuan demi pertemuan.

Di jaman media social seperti saat ini, ternyata masih ada juga orang yang tidak tergantung dengan koneksi internet. Dan aku sudah putus asa untuk mengenalnya lewat media sosial miliknya. Karena aku tidak menemukan baik kaun fesbuk maupun instagram miliknya.

Aku justru semakin penasaran dengannya, pesan wasap dariku tak pernah tersampaikan. Awalnya aku mengira bahwa ia sedang tidak mempunyai data internet. Namun, ketika aku mulai mengenalnya, aku baru menyadari bahwa ia bukan orang yang tergantung dengan media social.

Ada kalanya ia lebih memilih mematikan data internet hingga ia tidak bisa dihubungi baik via wasap maupun bbm. Dan ketika aku bertanya kepadanya, ia menjawab seperti orang cuek, “Jika penting pasti mereka juga akan sms kan?”

Dia sendiri baru benar-benar bermain fesbuk dan instagram ketika ia baru saja berganti smartphone, itu pun aku yang membuatkannya. Dan ia juga bukanlah orang yang ingin eksis di dunia maya. Semenjak aku membuatkan akun fesbuk dan instagram, ia tidak pernah memposting apapun, kecuali menggangti gambar profilnya. Itu pun hanya sekali. Hampir sama denganku, ia sangat menikmati perannya sebagai silent reader.


Dan kini, aku tidak tahu, apakah ini yang dinamakan dengan cinta atau apalah itu namanya. Entah lah, yang jelas aku selalu bahagia ketika di sampingnya. Dan benar kata teman saya, jika patah hati mampu menempa orang menjadi pribadi yang lebih dewasa, jatuh cinta justru sebaliknya, ia tumbuh dalam jiwa-jiwa yang kekanak-kanakan.
Read more ...

Selasa, 21 Februari 2017

Soundtrack Suasana Hati


Seperti halnya sebuah film, akan selalu ada soundtrack yang mengiringi dengan lantunan lagu sepanjang film tersebut diputar.

Dalam kehidupan seseorang, hal itu bisa saja terjadi. Setiap orang seakan memiliki sebuah lagu, baik lagu lawas ataupun lagu baru sebagai soundtrack atas suasana hatinya.

Tidak percaya? Saya akan menceritakan beberapa sahabat saya, yang dalam suasana hati tertentu, ia memiliki lagu favorit yang akan terus diputar berulang-ulang dan dijadikan playlist tunggal di aplikasi pemutar musiknya.

Panjul, teman saya yang sedikit bajingan itu, pernah meminta saya untuk mencari judul lagu dengan mengirim pesan rekaman suara yang ia dengar, kemudian ia rekam di saat ia berada di sebuah kafe dengan konsep wedangan. Lagu yang berjudul mantan terindah yang dinyanyikan oleh Raisa dijadikan soundtrack untuk mengiringi suasana hatinya yang sedang gundah, kala tau mantannya mengirim undangan pernikahannya.

Lain Panjul, lain pula dengan Sahabat saya yang sedikit gapleki itu. Sahabat saya juga pernah dirundung derita karena asmara. Derita asmara bukan hanya mampu menyelesaikan skripsinya, tapi juga mampu melemparkan hatinya pada pelabuhan terakhirnya.

Ketika ia sedang kasmaran dengan seseorang yang kini menjadi istrinya. Sebuah lagu yang abege yang lagi ngehitz pakai "z" pada saat itu, yang dinyanyikan oleh putra Ahmad Dhani, berjudul Kurayu Bidadari. Lagu itu ia dengarkan berulang-ulang sebagai playlist tunggal baik di laptop maupun handphone-nya. Bahkan, menjelang tidur pun, ia sumpal di telinganya dengan headset dan menjadikan lagu tersebut sebagai pengantar tidur.

Ketika melihat sikap sahabat saya itu, saya lega, karena ia sedang dirundung cinta. Artinya dia akan baik-baik saja.

Dan baru-baru ini, sebuah lagu yang berjudul Dia yang dinyanyikan oleh Anji, menjadi sebuah lagu favorit tokoh kita kali ini. Mungkin tokoh kita kali ini sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada siapa? Jatuh cinta pada embuh :-)
Read more ...

Senin, 30 Januari 2017

Denda

Ilustrasi

Ada sesuatu yang menempel di pintu kulkas. Waktu saya amati baik-baik, secarik kertas itu berisi semacam aturan-aturan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan yang tidak asing lagi bagi saya. Tuisan yang ditulis oleh seorang bocah kelas 3 SD. Iya, dia adalah adik keponakan saya.

Saya tidak membaca hingga habis kertas yang berisi aturan-aturan itu. Sekilas saya membaca, ada sebuah aturan yang jika dilanggar maka akan didenda 10rb. Misalnya, jika makan tidak di meja makan, maka akan diberlakukan denda 10rb. Jika sudah bersalah tapi malah protes, maka didenda lagi 20rb.

Aturan denda tersebut justru menjadi semacam alat untuk saling mengingatkan satu sama lain. Karena aturan tersebut dibuat atas dasar kesepakatan bersama, dan berlaku untuk semua anggota yang berada di bawah atap rumah tersebut. ”Hey, nanti kena denda lho” begitulah kira-kira satu sama lain ketika saling mengingatkan.

Dan konon semua harus sportif, karena hasil uang denda ketika sudah berkumpul banyak, bisa digunakan untuk makan-makan di luar, atau piknik mungkin.

Di dalam pertemanan saya, system denda-denda gitu juga pernah saya coba berlakukan ketika sedang bersama teman-teman saya. Misalnya ketika sedang berkumpul di luar, maka kami akan membuat semacam kesepakatan. “Barang siapa yang membahas masalah pekerjaan, hukumnya bayarin makan hari itu”

Alasan teman-teman saya, menyepakati hal itu, karena dalam sehari kita sudah bekerja selama 8 jam. Masak iya, harus kita tambahi lagi untuk membicarakan hal itu. Biasanya panjul akan nyeletuk, “Lebih baik membicarakan masalah wanita daripada membicarakan masalah gawean, 8jam sehari sudah membicarakan masalah target, kapan aku mbahas target nikah?”

Mungkin awal-awalnya akan terasa sulit, namun lama-kelamaan hal itu akan berjalan dengan sendirinya. Apalagi sudah ada yang menjadi korban, meski hanya mbayari di tempat wedangan.

Di lingkungan teman-teman kerja saya, saya kesulitan untuk menerapkan aturan denda jika membahas masalah pekerjaan. Alasan mereka, “Ora gayeng nek nongkrong ora mbahas gawean”

Setiap orang memiliki tipikal sendiri-sendiri. Saya tidak bisa memaksakan untuk menerapkan aturan tersebut. Karena ketika mereka membahas pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan masalahnya sendiri. Di saat seperti itulah, saya merasa aman, karena mereka tahu bagaimana caranya agar tetap dalam kondisi waras, di tengah tuntutan pekerjaan. Caranya ya itu tadi, membicarakan segala masalah pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan segala masalah mereka.

Dan semalam, saya lupa bahwa aturan denda ketika membahas pekerjaan, juga kami berlakukan di dalam segala percakapan di media sosial. Karena saya khilaf dan malah mbahas masalah pekerjaan di percakapan wasap. Dan saya harus menerima dengan legowo, ketika harus di denda. Bahkan saya keceplosan dua kali ketika bertanya atau memancing masalah pekerjaan. Jadi saya punya hutang 20rb, hanya karena masalah sepele. Mbahas masalah pekerjaan.


Dalam hati, “Ini aturan yang buat aku sendiri kok, malah aku yang kena denda”
Read more ...

Minggu, 15 Januari 2017

Kucing Yang Nakal


Pagi-pagi, rumah Mbah sudah kedatangan tamu. Saya yang masih njingkrung di atas kasur, karena malamnya saya pulang jam satu pagi, sehabis sholat shubuh saya memutuskan untuk bersembunyi di belakang selimut lagi.

Tamu tersebut adalah tetangga saya. Dan untuk kesekian kalinya, tetangga saya mengeluhkan kenakalan kucing kampung piaraan Mbah saya. Sebenarnya Mbah memiliki beberapa hewan piaraan. Dan semua piaraan Mbah memiliki sejarah yang berbeda-beda. Sudah sejak saya masih kecil Mbah sudah berternak ayam. Dan sempat tidak berternak lagi karena adanya wabah flu burung. Kemudian beberapa tahun ini mulai Mbah mulai berternak ayam lagi.

Meski kami memiliki banyak ayam kampung, namun Mbah sangat jarang menyembelih ayam-ayamnya hanya sekedar untuk dijadikan lauk. Paling cuma beberapa butir telurnya saja yang diambil, dan sisanya segaja ditetaskan untuk memperbanyak keturunan. Mungkin Mbah adalah orang yang penyayang, meski menurut kebanyakan orang menilainya sebagai pribadi yang galak. Namun, bagi saya Mbah adalah orang memegang teguh sebuah prinsip.

Kenapa saya bisa mengatakan Mbah adalah orang yang penyayang. Tentu hal ini bukan karena saya adalah salah satu cucu kesayangannya. Namun, untuk perkara remeh saja, ia tidak mau melakukannya. Seperti menyembelih ayam-ayam ternaknya. Kebanyakan ayam yang sudah beranjak dewasa ia jual. Kalau pengen makan ayam, mending beli saja yang sudah matang, plus sudah ada sambal mentah plus lalapannya.

Entahlah, karena saking sayangnya dengan hewan-hewan ternaknya, hingga menyembelih dan memakan ayam ternaknya saja ia seakan tidak tega. Karena ayam-ayam itulah yang setiap saat ia beri makan. Dan di beberapa kesempatan saya disuruh membeli bekatul untuk persedian makan ayam-ayamnya.

Selain ayam, masih ada dua burung piaraan, dan kucing tentunya. Untuk dua burung piaraannya, semuanya memiliki sejarahnya masing-masing. Seekor burung kuter yang saya kira Mbah sudah mempercayakan segala perasaannya kepada burung tersebut. Karena pernah suatu hari, ketika burung kuternya tidak mau “manggung” ia pernah berucap kepada saya “Kuter e kok gak manggung, cobo kowe takok kabar podo sehat kabeh opo ora” saya pun hanya mengiyakan perintah dari Mbah saya tersebut.

Burung kuter itu pemberian almarhum Mbah buyut, sengaja diberikan kepada simbah, karena di samping perawatannya mudah, juga bisa digunakan sebagai “rungon-rungon” ketika “manggung”.

Selain burung kuter, ada burung jalak. Burung jalak itu saya beri nama Jali (Jalak Item) karena memang jalak itu berwarna hitam. Jalak itu didapat melalui drama penyelamatan yang heroik. Ketika itu, ada jalak yang terbang rendah, kemudian Ibu saya mampu menangkapnya. Dan oleh Pak Dhe dibelikan kandang dan jadilah sebagai piaraan. Awalnya Jalak itu mengalami luka pada kedua kakinya. Hingga saat ini masih terlihat jelas cacat di salah satu kakinya. Namun tak apa, karena di beberapa kesempatan ia seakan pamer dengan mengeluarkan suara merdunya. Jali sempat ingin dibeli tetangga, namun Mbah langsung menolak penawaran dari tetangga tersebut.

Dan, pernah juga ketika saya masih sibuk kerja, tiba-tiba orang rumah telpon. Karena saya sudah menyarankan agar menelpon saya dalam kondisi penting saja, karena untuk hal yang tidak penting lebih saya sarankan untuk mengirim pesan sms saja. Waktu saya angkat telpon, saya seperti menyiapkan psikologis saya untuk mendengarkan kabar buruk. Tapi ternyata, orang rumah menelpon saya karena makanan si Jali habis. Kemudian saya berpikir, “Sejak kapan urusan makanan si jali menjadi sesuatu yang urgent?”

Dan piaraan yang lain lagi adalah kucing kampung yang pagi-pagi sudah dikomplain oleh tetangga saya. Dulu saya sangat mewanti-wanti agar tidak memlihara kucing. Karena jujur saya agak-gimana- gitu sama kucing. Namun, ketika ada saudara simbah yang kebetulan pindah ke Jambi ikut anak-anaknya, entah kenapa kucing milik saudara simbah itu justru dititipkan dan menjadi bagian dari rumah Mbah. Jadilah rumah Mbah kehadiran anggota baru, yaitu seekor kucing, yang kini sudah kesekian kalinya beranak. Setiap kali beranak, kucing-kucing itu pasti dibuang, kalau tidak itu, tahu-tahu anak-anak kucing itu sudah tidak ada.

Saat ini kucing di rumah Mbah ada dua. Satu kucing sudah tua, yaitu kucing yang dulu dititipkan. Satu kucing merupakan kucing anak yang sudah kesekian kalinya. Dan anak kucing itulah yang menjadi satu-satunya kucing nakal. Kucing itu seakan menjadi seorang anak yang hobi jail dan iseng dengan anak tetangga lain. Karena kucing ini benar-benar suka iseng dengan piaraan tetangga. Seperti memangsa anak ayam tetangga seperti yang dikeluhkan oleh beberapa tetangga saya.

Saya pernah berusaha untuk menangkap dan memasukan ke dalam karung. Namun, kucing itu justru berontak, dan berusaha melawan, dan mempu menyelamatkan diri.

Ketika banyak tetangga yang mengeluhkan kenakalan kucing Mbah saya. Di saat seperti itulah kami juga tidak tahu harus berbuat apa. Karena kami juga turut pasrah ketika kucing nakal itu juga turut memangsa anak ayam milik juragannya sendiri, yaitu Mbah saya.

Dan mbah saya pun juga mengadakan semacam sayembara. Mbah juga jengkel dengan perilaku kucing miliknya. Siapa pun yang jengkel silakan diperkenankan untuk menghakimi kucing tersebut. Meski berkata begitu, siapa yang tahu isi hati Mbah. Tega kah Mbah melakukan penghakiman dengan kucing piaraannya tersebut.

Entah lah, karena yang jelas, hanya menyembelih ayam-ayam piaraannya untuk dijadikan lauk saja, ia seperti tidak tega.
Read more ...

Sabtu, 14 Januari 2017

Sepatu Futsal

Sepatu futsal bekas Inug

Sepatu. Saya adalah orang yang bisa dikatakan tidak melek fesyen. Saya juga tidak fanatik terhadap suatu brand atau merk tertentu. Apa yang menurut saya nyaman, itu sudah lebih dari cukup. Termasuk dalam hal memilih sepatu.

Saat ini saya memiliki 5 pasang sepatu; tiga pasang sepatu kets, satu pasang sepatu pantofel, dan satu pasang sepatu futsal.

Untuk sepatu futsal, sebenernya saya memiliki dua pasang sepatu. Sepasang sepatu saya taruh di kosan, karena waktu kuliah saya aktif bermain futsal. Dan sepasang lagi di rumah, karena terkadang ketika akhir pekan biasanya kawan-kawan di rumah akan merayakan malam minggu di lapangan futsal. Iya, kami jomblo semua, jadi malam minggu kami bukan penuh cinta, tapi penuh keringet. Puas?

Sepasang sepatu futsal saya beli dari inug, teman kuliah saya. Diduga dia menjual sepatu futsalnya dikarenakan dalam beberapa pertandingan dia tidak bisa mencetak pundi-pundi goal. Padahal saya sering memberi umpan cantik pada dirinya. Tapi, goal juga tak tercipta. Bahkan ia kami juluki sebagai torres-nya psikologi. Karena saat itu, torres yang memutuskan hijrah ke chelsea, kesulitan untuk menemukan permainan.

Proses negosiasinya pun terbilang unik. Karena kami saling tawar harga di twitter. Setelah itu, prosesi jual-beli atau bahasa kekiniannya COD-anya kami lakukan di lapangan futsal tempat biasa kami latihan. Dan ketika sepatu sudah sah jadi milik saya. Sepatu itu seperti menemukan juragan yang tepat. Terbukti sudah, beberapa goal saya ciptakan dengan sepatu bekas dari inug itu. Padahal saya bukan seorang pemain depan. Saya lebih menikmati berada di posisi belakang. Karena ketika berada di posisi itu, saya lebih leluasa untuk melihat lebar lapangan. Dan dengan sedikit mengatur tempo sambil mencari celah.

Memandang sepatu futsal yang kini sudah penuh debu itu. Saya jadi teringat ketika jaman masih kuliah. Yaitu jaman ketika lemak-lemak belum menggelambir di seluruh badan, dan sebagian terpusat di wilayah perut. Jauh sebelum berat badan yang hampir 75kg ini begitu susah untuk diajak berlari mengejar bola.

Kalau dulu saya mampu bermain 2 jam penuh tanpa diganti saat latihan. Dan 1 jam penuh saat sparing dengan tim lain. Karena bermain latihan sendiri dan berlatih tanding akan jauh berbeda.

Berlatih tanding dengan tim lain, selain menguras energi, juga sangat menguras emosi. Sedangkan saat latihan bersama, kami bermain lebih rileks.

Dan kalau dulu berolahraga ada salah satu cara untuk menjaga kebugaran tubuh. Bahkan ada semacam doktrin untuk kawan-kawan saya, "Karena PES dan Futsal adalah harga diri, kalah rapopo sik penting sombong"

Kini, semua itu sudah berubah. Olahraga bagi kami, adalah semacam agenda untuk menyiksa diri.
Read more ...

Rabu, 04 Januari 2017

Paket Harbolnas

empat buku paket harbolnas dari mojok store

Bahkan, saya sempat mengira bahwa harbolnas adalah hari bola nasional. Dan baru ngeh, ketika saya sedang berselancar di ruang maya.

Ternyata, harbolnas adalah hari belanja online nasional, yang diperingati setiap tanggal 12 Desember. Betapa kuper-nya saya, hal seremeh ini saja saya tidak up to date.

Harbolnas biasanya dirayakan dengan memberikan diskon besar-besaran pada setiap online shop. Dan melalui laman fesbuk saya, mojok store, salah satu lini bisnis dari EA Media Syndicate, juga turut memeriahkan harbolnas dengan diskon lebih dari 70%. Saya pun tertarik untuk membeli buku paket promo harbolnas dari mojok store itu.

Dalam paket promo tersebut, setidaknya ada 4 buah judul buku yang dijual seharga Rp 96.000. Itu sudah termasuk biaya ongkos kirim ke Boyolali.

Setelah saya memesan via wasap, saya segera mentransfer mahar yang harus saya bayar. Setelah itu, saya tinggal menunggu buku itu datang diantar oleh jasa pengiriman barang ke kantor saya. Karena saya mencantumkan alamat kantor sebagai tujuan pengiriman.

Hampir dua minggu paketan saya tak kunjung datang. Beberapa kali saya menanyakan pada penjaga pos security, untuk menanyakan apakah ada paketan untuk saya atau tidak.

Karena paketan tak kunjung datang, saya segera mengontak pihak mojok store, baik melalui email maupun pesan wasap, untuk meminta nomor resinya. Karena sedang cuti natal dan tahun baru, wasap maupun email saya tidak segera dibalas.

Hari senin kemarin, dari pihak mojok store merespon wasap saya. Dan saya diminta untuk sedikit bersabar lagi, dan dari mojok store juga akan memastikan terlebih dahulu. Jika ada kekeliruan, dari pihak mojok store akan segera menyusulkan lagi paket pesanan saya. Selain itu, pihak mojok store juga meminta maaf karena beberapa hari lalu tidak fast respon terhadap keluhan saya.

Sore tadi, paketan yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kemudian saya buka isinya, untuk sekedar memastikan bahwa isinya sesuai dengan yang saya pesan.

Ada 4 buah buku sesuai pesanan saya. Buku tersebut adalah; "Dari twitwar ke twitwar" karya salah satu penulis tirto.id, yaitu Arman Dhani. "Kesentrum Cinta" karya Sigit Susanto. "Tamasya Bola" karya Darmanto Simapea. Dan "Melawat ke Timur" karya Kardono Setyorakhmadi. Semuanya terbitan dari buku mojok.

Adanya buku-buku tersebut, setidaknya saya yang sedang membangkitkan lagi gairah membaca, sudah tahu apa yang akan saya lakukan ketika libur akhir pekan nanti.
Read more ...

Hujan, Sepatu dan Tentang Kedewasaan

Anak : Ayah, ada plastik?
Ayah: Buat apa, adek?
Anak: Di luar sedang hujan, buat tempat sepatu.
Ayah : Nanti adek dianter pakai mobil saja, enggak usah bawa plastik.
Anak: aku mau bawa plastik, nanti sepatu adek basah! *dengan nada sedikit merengek
Ayah : lha adek kan punya sepatu dua.
Anak : Adek pengennya pakai sepatu yang ini terus
.

Percakapan di pagi hari yang gerimis antara ayah dan anaknya yang masih kelas satu SD. Sebagai anak kecil, tentu ia memiliki benda-benda favorit, termasuk sepatu. Ngomong-ngomong soal sepatu favorit, adik keponakan saya, pernah mogok sekolah karena sepatu kesayangannya masih basah. Dan tidak mau memakai sepatu yang lain. Bagi saya, hal itu masih wajar, namanya juga masih anak-anak.

Tokoh kita, si anak ini, sebelumnya memiliki pengalaman kehujanan ketika dijemput ayahnya menggunakan sepeda motor. Sepertinya ia mampu belajar dari pengalaman. Maka, ketika pagi hari itu hujan, ia meminta plastik pada ayahnya. Karena ia tidak ingin sepatu kesukaannya basah, dan tentu hal itu akan membuatnya tidak bisa ia pakai lagi untuk sekolah.

Dalam situasi yang berbeda. Pagi tadi, hujan masih belum reda dari semalam. Saya selalu meyakini, bahwa hujan tidak pernah salah, ia hanya menjalankan syariatNya. Maka saya berangkat kerja dengan jas hujan serta sepatu saya masukan ke dalam jok motor kesayangan saya, si coopy. Dan saya berangkat kerja dengan sedikit menggigil oleh dinginnya pagi, di bawah rintikan hujan. Karena sekali lagi, hujan tidak pernah salah, apalagi dijadikan alasan untuk menoleransi kemalasan, kemudian mbolos kerja.

Ketika saya sampai di kantor, saya melihat kantor masih sepi. Kemudian satu persatu karyawan mulai berdatangan dengan membawa plastik berisi sepatu. Ada yang pergi ke toilet dulu untuk membasuh kaki, kemudian menggunakan sepatu. Ada juga yang menuju ke kantin untuk melepas jas hujan, sekaligus memakai sepatu yang ia taruh di plastik.

Namun, ada juga spesies lain yang dengan santai masuk ke tempat kerja dengan menggunakan sandal. Sudah menggunakan sandal, datang terlambat seolah tanpa beban. Ketika saya bertanya "Mengapa terlambat dan kenapa juga tidak memakai sepatu?" Jawab mereka, "Karena hujan" dan di saat seperti itu terkadang saya ingin marah. Biasanya saya hanya bertanya "Kamu punya sepatu berapa? Kalau cuma punya satu sepatu, terus biar tidak basah caranya gimana?" Biasanya mereka akan menjawab dengan membawa plastik dan sebagainya. Dan saat seperti saya akan melontarkan kalimat sedikit sinis, "Itulah bedanya orang yang mau berpikir sama yang tidak"

Saya mencoba untuk menghindari yang namanya amarah. Karena saya tahu betul, yang saya hadapi adalah orang yang lebih tua dari saya. Sengaja saya menggunakan istilah "tua" dan bukan "dewasa". Karena "tua" dan "dewasa" adalah dua istilah yang berbeda.

Istilah tua lebih merujuk umur secara harfiah atau fisik. Sedangkan dewasa merujuk pada perkembangan secara mental. Maka dalam psikologi perkembangan ada istilah tumbuh - kembang. Tumbuh itu merujuk pada fisik, namun (per)kembang(an) lebih merujuk ke mental atau kedewasaan. *mohon dikoreksi jika saya keliru.

Kemudian, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SD saja tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan, kemudian ada seseorang yang jauh lebih tua (tua ya, bukan dewasa) tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan. Setiap orang memiliki cara untuk melakukan defence mechanism. Salah satunya dengan cara berargumentasi, meski pada kenyataannya lebih mengarah pada alasan. Kemudian, dengan cara menjadikan hujan sebagai alasan. Padahal hujan akan tetap turun kalau memang sudah saatnya turun, dan ia tidak peduli banyak orang yang tidak menghendakinya.
Tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan umur seseorang. 

Di pertemanan fesbuk, saya berteman dengan seseorang yang jauh lebih muda dengan saya. Masih kelas tiga SMA, namun nampak jauh lebih dewasa dari usianya. Hal tersebut nampak dari tulisan-tulisan yang diposting di laman fesbuk miliknya. Ia juga seorang aktivis media sosial, yang terlibat dalam sebuah grup yang membongkar berita-berita hoax. Sebuah grup yang muncul karena keprihatinan tentang banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial.

Jadi sekali lagi, menjadi tua itu adalah sebuah kepastian, menjadi dewasa itu adalah pilihan.


*Ketika menulis catatan ini, saya berusaha untuk melepas "kaca mata" HRD saya. Hal itu saya lakukan untuk mencoba melihat dari sudut pandang lain. Permasalahan kedisiplinan karyawan adalah tanggung jawab saya, selaku HRD. Jika ditanya siapa yang paling bersalah. Tentu saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap hal itu. Namun, kali ini saya mencoba menulis kejadian tadi pagi dengan sudut pandang yang berbeda. Ya, meskipun saya gagal dan terkesan menghakimi.
Read more ...

Cinta

Cinta. Cinta seperti halnya dengan benih yang baru tumbuh. Ia akan hidup, tumbuh dan berakar kuat karena kita sirami dan rawat dengan baik benih yang baru tumbuh itu. Dan benih yang baru tumbuh itu bisa jadi justru mati, karena kita membiarkan begitu saja, atau bahkan malah mencabutnya hingga mati.

Mungkin, apa yang kebanyakan orang menyebutnya dengan cinta pada pandangan pertama. Itu seperti halnya dengan tanaman yang baru tumbuh itu. 

Ketika kita melihat senyum dan parasnya, kemudian kita merasa jatuh hati kepada seseorang. Kemudian cinta yang seperti benih yang baru tumbuh itu, kita rawat dengan baik hingga tumbuh dan berakar kuat. Jadilah itu cinta yang mengantarkan kepada apa yang kita sebut dengan jodoh.

Kemudian bagaimana merawat cinta yang baru tumbuh itu. Menurut Panjul, teman yang menawarkan dirinya sebagai konsultan asmara saya. Karena dirinya merasa pantas, berbekal pengalaman masa lalunya sebagai play boy, dan kini sudah insyaf, serta sedang menperbaiki diri untuk taaruf-an. Menurut Panjul, cinta bisa kita rawat dengan segala bentuk perhatian kita kepada seseorang dengan segala perlakuan romantisme lainnya.

Dan ketika Panjul sudah ngomong soal cinta, saya hanya bisa mangguk-mangguk saja. Maklum, saya masih kalah jam terbang.

Saya percaya bahwa cinta bagian dari emosi. Dan logika lah yang merawatnya hingga tumbuh dan berakar kuat. Ketika kita berjumpa dengan seseorang dan tumbuh benih-benih asmara. Di saat seperti itulah logika kita mulai mengambil alih. 

Apakah kita akan merawat benih-benih cinta itu. Atau justru membiarkan begitu saja, atau justru secara sadar melakukan segala upaya untuk mencabut benih-benih asmara tersebut.

Sebagai manusia kita punya norma dan etika. Kita punya agama, yang di dalamnya juga ada aturan yang mengikat. Kemudian kita bertemu dengan seseorang yang kebetulan sudah menjadi "milik" orang lain. Kemudian tertarik dengan parasnya hingga tumbuh benih-benih asmara. Maka di saat seperti itu, tentu dengan segala upaya kita akan membiarkan atau bahkan mencabut agar tidak menjadi besar benih-benih asmara itu, apalagi hingga terus tumbuh dan berakar kuat.

Singkatnya, mencintai dan dicintai memang sudah menjadi fitrah manusia. Cinta itu bisa tumbuh, karena kita berupaya menjadikan cinta itu semakin tumbuh dan berakar kuat. Dan cinta itu akan mati dengan sendirinya karena kita berupaya untuk membiarkan dan mencabut benih-benih asmara yang baru tumbuh itu.
Selain itu, ada juga yang karena sering melakukan aktifitas bersama baru kemudian tumbuh benih-benih asmara. Istilah jawanya, wit ing tresno jalaran soko kulino. Dalam hal itu, cinta akan dapat dengan mudah tumbuh, karena sudah saling mengerti satu sama lain.

Meskipun terkesan men-dewa-kan logika. Saya juga menyadari, bahwa ada juga tanaman yang ketika dibiarkan saja ia tetap tumbuh subur. Bahkan berkali-kali mencoba untuk mencabut benih-benih yang mulai tumbun itu, namun lagi-lagi benih itu tetap tumbuh lagi dan lagi. 

Berkali-kali logika terus mengelak, namun benih-benih asmara itu tetap tumbuh. Seperti apa yang aku rasakan terhadap kamu. Iya, kamu.  . . .

Dan sepertinya saya sedang overdosis kopi, hingga nulis kaya gini.

Okey abaikan saja.
Read more ...