Senin, 04 September 2017

Biar Keliatan Bijak

Pengalaman membuat NPWP

Orang bijak, taat bayar pajak. Itulah alasan mengapa beberapa hari yang lalu saya memutuskan untuk membuat NPWP. Atas saran dari seseorang yang baru saya kenal, saya pun membuat NPWP secara online. Dan ternyata membuat NPWP tidak seribet yang saya bayangkan. Hanya butuh waktu 2 hari saja, kartu NPWP sudah berada di tangan saya.

Yang dibutuhkan hanya file foto KTP, udah itu saja. Dan pastikan besar file foto KTP Anda tidak boleh lebih dari 1MB agar kita mudah meng-upload ketika melakukan pendaftaran secara online.

Ohiya, sebelum mendaftar online, pastikan anda memiliki akun email aktif. Bagi Anda yang sering gonta-ganti alamat email karena alasan klasik, seperti lupa password. Mulai sekarang Anda harus lebih bersikap profesional lagi dengan menggunakan satu alamat email untuk segala hal. Baik dalam aktifasi akun google hape android, aktifasi bbm, fesbuk maupun jejaring sosial lainnya. Meski kini kebanyakan media sosial sekarang lebih simpel dalam melakukan aktifasi, karena alamat email sudah bisa diganti dengan nomor hape. Percayalah alamat email akan ada gunanya di jaman serba internet ini.

Mendaftarkan NPWP cukup dengan membuat akun di ereg.pajak.go.id kemudian Anda bisa mendaftar NPWP secara online. Cukup mengisi apa yang perlu diisi, kemudian jika sudah dirasa lengkap, Anda bisa mengirim token, dan mengajukan permohonan NPWP.

Jika permohonan Anda disetujui, Anda tinggal menunggu kartu NPWP dikirim ke alamat Anda.

Biasanya NPWP akan dibuat oleh KPP sesuai tempat tinggal di KTP. Dan perlu dicatat, KPP kini memberikan pelayanan yang maksimal, yaitu ketika Kartu NPWP sudah jadi, Kartu tersebut akan dikirimkan ke alamat sesui alamat KTP pemohon. Dan karena saya adalah tipe orang yang tidak suka merepotkan, ketika permohonan NPWP sudah disetujui, saya langsung ke KPP Sukoharjo untuk mengambil kartu NPWP saya yang sudah jadi. Selain itu saya juga bukan tipe orang yang suka menunggu tanpa kepastian, halah malah curhat, hehehe

Bagaimana? gampang kan bikin NPWP?

Meski tahun ini adalah tahun ketiga saya bekerja, namun kenapa baru tahun ini saya membuat NPWP? Tentu saja saya bukanlah seorang pengemplang pajak kelas gurem. Karena secara regulasi penghasilan bulanan saya masih dibawah batas minimal penghasilan kena pajak. Penghasilan saya dikit? Bukan! Lebih tepatnya cukup, bahkan masih sisa dengan kebutuhan saya saat ini. Saya menyakini bahwa gaji yang saya peroleh itu adalah sudah menjadi rejeki saya. Tidak ada gunanya mengeluh, kemudian kerja asal-asalan. Dan saya tidak akan merendahkan diri saya dengan melakukan hal itu.

Lantas kenapa saya membuat NPWP? Nggak papa kok, biar keliatan jadi orang bijak aja.

 Udah gitu aja.
Read more ...

Sabtu, 22 Juli 2017

Membuka Hati untuk Orang Lain

Sumber Gambar

 Jika patah hati mampu menempa orang menjadi pribadi yang lebih dewasa, jatuh cinta justru sebaliknya, ia tumbuh dalam jiwa-jiwa yang kekanak-kanakan.

Aku hampir saja lupa bagaimana caranya memulai sebuah tulisan. Beberapa teman dekat bahkan sampai bertanya kepadaku, mengapa akhir-akhir ini aku tak pernah lagi menulis. Aku sendiri juga bingung dengan diriku. Kenapa aku seperti tak lagi memiliki sisa energi untuk sekedar membuka laptop, kemudian mulai menulis apapun yang sedang ingin aku tulis.

Laptop mungil yang kubeli dari jerih payahku di sela-sela aku mengerjakan skripsi itu, justru seperti sedang marah kepadaku. Mungkin karena terlalu lama tak kujamah. Karena ada garis-garis kecil di layar laptop mungil itu.  Beruntung aku menyimpan  password akun gmail dan blogger di aplikasi google chrome. Jadi, aku tak perlu khawatir jika aku lupa password masuk akun gmail ataupun blogger.

Tiga blog yang aku kelola, yaitu blog pribadi ini, blogriki.com, blog bersama dengan teman-teman di psikologi, yaitu lobimesen.com, serta blog yang sedang aku rintis namun kini justru aku cuti panjang untuk mengunggah tulisan baru, yaitu hrfile.net.

Beberapa hari ini, ada yang aneh dengan kehidupan yang aku jalani. Aku tidak tahu apa penyebabnya. Mungkin aku sudah terlalu lama meninggalkan segala kebiasaan baik yang pernah aku jalani selama bulan ramadhan kemarin. Seperti selalu mandi pagi, meski malam harinya mata ini baru bisa terpenjam ketika waktu menunjukan pukul satu dini hari. Kemudian baru sebentar tidur, aku harus bangun untuk makan sahur.

Kebiasaan baik, sepertinya memang harus dipertahankan. Bagaimana pun caranya. Karena jika kita meninggalkan sebentar saja, aku tidak yakin dengan mudah kita akan bisa memulai kebiasaan baik itu. Seperti halnya dengan mengerjakan skripsi, ketika semangat sudah mulai kendor, jangankan pergi ke perpustakaan untuk mencari bahan referensi, membuka folder skripsi saja, butuh niat dan kemauan yang kuat.

Aku seperti sedang mengambil cuti panjang, dengan cara mengasingkan laptop mungilku. Kemudian berusaha memulai sesuatu yang sebelumnya tidak pernah aku pikirkan. Jujur, aku seperti sedang mengingkari sesuatu yang sudah menjadi prinsip.

Luka hati ini sebenarnya sudah lama sembuh. Karena aku bukan saja telah mampu melupakan segala luka itu, tapi aku sudah mampu memaafkan segala hal yang kini menjadi kenangan. Dan aku juga sudah bahagia dengan diriku yang sekarang.

Hingga sebuah pertanyaan dari seorang teman tiba-tiba ia lontarkan kepadaku. “Kapan kamu akan mulai membuka hati untuk orang lain?”

Dan kala itu, sambil melempar senyum aku berkata, mungkin dalam waktu dekat, mungkin akan ada sosok yang mampu menarik perhatianku. Padahal waktu itu aku masih terus berikhtiar untuk mendapatkan pekerjaan lain. Kebetulan aku mendapatkan tawaran dari seorang teman lamaku. Aku menyanggupi, dan sepertinya ia tertarik untuk mempekerjakanku. Namun nasib berkata lain. Ada kandidat lain yang lebih baik dariku. Dan aku urung untuk pindah ke luar kota.

Aku selalu berprasangka baik, apa yang terjadi pada hidupku itu, adalah sesutau yang harus aku jalani. Tentu aku harus berusaha ikhlas dalam menjalaninya. Dan benar, ketika aku tetap bertahan di tempat pekerjaanku yang sekarang. Justru ada seseorang yang mampu menarik perhatianku.

Awalnya aku menganggap pertemuan dengannya adalah sesuatu yang biasa, dan semuanya hanya terjadi begitu saja, dan tidak akan terjadi apa-apa. Seperti halnya pertemuan sekilas dan tidak pernah akan berulang.

Namun, yang terjadi justru sebaliknya, pertemuan itu terjadi berulang-ulang. Dan aku mulai menjalin komunikasi dengannya. Dalam hati, aku selalu mengharapkan pertemuan demi pertemuan.

Di jaman media social seperti saat ini, ternyata masih ada juga orang yang tidak tergantung dengan koneksi internet. Dan aku sudah putus asa untuk mengenalnya lewat media sosial miliknya. Karena aku tidak menemukan baik kaun fesbuk maupun instagram miliknya.

Aku justru semakin penasaran dengannya, pesan wasap dariku tak pernah tersampaikan. Awalnya aku mengira bahwa ia sedang tidak mempunyai data internet. Namun, ketika aku mulai mengenalnya, aku baru menyadari bahwa ia bukan orang yang tergantung dengan media social.

Ada kalanya ia lebih memilih mematikan data internet hingga ia tidak bisa dihubungi baik via wasap maupun bbm. Dan ketika aku bertanya kepadanya, ia menjawab seperti orang cuek, “Jika penting pasti mereka juga akan sms kan?”

Dia sendiri baru benar-benar bermain fesbuk dan instagram ketika ia baru saja berganti smartphone, itu pun aku yang membuatkannya. Dan ia juga bukanlah orang yang ingin eksis di dunia maya. Semenjak aku membuatkan akun fesbuk dan instagram, ia tidak pernah memposting apapun, kecuali menggangti gambar profilnya. Itu pun hanya sekali. Hampir sama denganku, ia sangat menikmati perannya sebagai silent reader.


Dan kini, aku tidak tahu, apakah ini yang dinamakan dengan cinta atau apalah itu namanya. Entah lah, yang jelas aku selalu bahagia ketika di sampingnya. Dan benar kata teman saya, jika patah hati mampu menempa orang menjadi pribadi yang lebih dewasa, jatuh cinta justru sebaliknya, ia tumbuh dalam jiwa-jiwa yang kekanak-kanakan.
Read more ...

Selasa, 21 Februari 2017

Soundtrack Suasana Hati


Seperti halnya sebuah film, akan selalu ada soundtrack yang mengiringi dengan lantunan lagu sepanjang film tersebut diputar.

Dalam kehidupan seseorang, hal itu bisa saja terjadi. Setiap orang seakan memiliki sebuah lagu, baik lagu lawas ataupun lagu baru sebagai soundtrack atas suasana hatinya.

Tidak percaya? Saya akan menceritakan beberapa sahabat saya, yang dalam suasana hati tertentu, ia memiliki lagu favorit yang akan terus diputar berulang-ulang dan dijadikan playlist tunggal di aplikasi pemutar musiknya.

Panjul, teman saya yang sedikit bajingan itu, pernah meminta saya untuk mencari judul lagu dengan mengirim pesan rekaman suara yang ia dengar, kemudian ia rekam di saat ia berada di sebuah kafe dengan konsep wedangan. Lagu yang berjudul mantan terindah yang dinyanyikan oleh Raisa dijadikan soundtrack untuk mengiringi suasana hatinya yang sedang gundah, kala tau mantannya mengirim undangan pernikahannya.

Lain Panjul, lain pula dengan Sahabat saya yang sedikit gapleki itu. Sahabat saya juga pernah dirundung derita karena asmara. Derita asmara bukan hanya mampu menyelesaikan skripsinya, tapi juga mampu melemparkan hatinya pada pelabuhan terakhirnya.

Ketika ia sedang kasmaran dengan seseorang yang kini menjadi istrinya. Sebuah lagu yang abege yang lagi ngehitz pakai "z" pada saat itu, yang dinyanyikan oleh putra Ahmad Dhani, berjudul Kurayu Bidadari. Lagu itu ia dengarkan berulang-ulang sebagai playlist tunggal baik di laptop maupun handphone-nya. Bahkan, menjelang tidur pun, ia sumpal di telinganya dengan headset dan menjadikan lagu tersebut sebagai pengantar tidur.

Ketika melihat sikap sahabat saya itu, saya lega, karena ia sedang dirundung cinta. Artinya dia akan baik-baik saja.

Dan baru-baru ini, sebuah lagu yang berjudul Dia yang dinyanyikan oleh Anji, menjadi sebuah lagu favorit tokoh kita kali ini. Mungkin tokoh kita kali ini sedang jatuh cinta. Jatuh cinta pada siapa? Jatuh cinta pada embuh :-)
Read more ...

Senin, 30 Januari 2017

Denda

Ilustrasi

Ada sesuatu yang menempel di pintu kulkas. Waktu saya amati baik-baik, secarik kertas itu berisi semacam aturan-aturan dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan yang tidak asing lagi bagi saya. Tuisan yang ditulis oleh seorang bocah kelas 3 SD. Iya, dia adalah adik keponakan saya.

Saya tidak membaca hingga habis kertas yang berisi aturan-aturan itu. Sekilas saya membaca, ada sebuah aturan yang jika dilanggar maka akan didenda 10rb. Misalnya, jika makan tidak di meja makan, maka akan diberlakukan denda 10rb. Jika sudah bersalah tapi malah protes, maka didenda lagi 20rb.

Aturan denda tersebut justru menjadi semacam alat untuk saling mengingatkan satu sama lain. Karena aturan tersebut dibuat atas dasar kesepakatan bersama, dan berlaku untuk semua anggota yang berada di bawah atap rumah tersebut. ”Hey, nanti kena denda lho” begitulah kira-kira satu sama lain ketika saling mengingatkan.

Dan konon semua harus sportif, karena hasil uang denda ketika sudah berkumpul banyak, bisa digunakan untuk makan-makan di luar, atau piknik mungkin.

Di dalam pertemanan saya, system denda-denda gitu juga pernah saya coba berlakukan ketika sedang bersama teman-teman saya. Misalnya ketika sedang berkumpul di luar, maka kami akan membuat semacam kesepakatan. “Barang siapa yang membahas masalah pekerjaan, hukumnya bayarin makan hari itu”

Alasan teman-teman saya, menyepakati hal itu, karena dalam sehari kita sudah bekerja selama 8 jam. Masak iya, harus kita tambahi lagi untuk membicarakan hal itu. Biasanya panjul akan nyeletuk, “Lebih baik membicarakan masalah wanita daripada membicarakan masalah gawean, 8jam sehari sudah membicarakan masalah target, kapan aku mbahas target nikah?”

Mungkin awal-awalnya akan terasa sulit, namun lama-kelamaan hal itu akan berjalan dengan sendirinya. Apalagi sudah ada yang menjadi korban, meski hanya mbayari di tempat wedangan.

Di lingkungan teman-teman kerja saya, saya kesulitan untuk menerapkan aturan denda jika membahas masalah pekerjaan. Alasan mereka, “Ora gayeng nek nongkrong ora mbahas gawean”

Setiap orang memiliki tipikal sendiri-sendiri. Saya tidak bisa memaksakan untuk menerapkan aturan tersebut. Karena ketika mereka membahas pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan masalahnya sendiri. Di saat seperti itulah, saya merasa aman, karena mereka tahu bagaimana caranya agar tetap dalam kondisi waras, di tengah tuntutan pekerjaan. Caranya ya itu tadi, membicarakan segala masalah pekerjaan dengan cengengesan seolah sedang menertawakan segala masalah mereka.

Dan semalam, saya lupa bahwa aturan denda ketika membahas pekerjaan, juga kami berlakukan di dalam segala percakapan di media sosial. Karena saya khilaf dan malah mbahas masalah pekerjaan di percakapan wasap. Dan saya harus menerima dengan legowo, ketika harus di denda. Bahkan saya keceplosan dua kali ketika bertanya atau memancing masalah pekerjaan. Jadi saya punya hutang 20rb, hanya karena masalah sepele. Mbahas masalah pekerjaan.


Dalam hati, “Ini aturan yang buat aku sendiri kok, malah aku yang kena denda”
Read more ...

Minggu, 15 Januari 2017

Kucing Yang Nakal


Pagi-pagi, rumah Mbah sudah kedatangan tamu. Saya yang masih njingkrung di atas kasur, karena malamnya saya pulang jam satu pagi, sehabis sholat shubuh saya memutuskan untuk bersembunyi di belakang selimut lagi.

Tamu tersebut adalah tetangga saya. Dan untuk kesekian kalinya, tetangga saya mengeluhkan kenakalan kucing kampung piaraan Mbah saya. Sebenarnya Mbah memiliki beberapa hewan piaraan. Dan semua piaraan Mbah memiliki sejarah yang berbeda-beda. Sudah sejak saya masih kecil Mbah sudah berternak ayam. Dan sempat tidak berternak lagi karena adanya wabah flu burung. Kemudian beberapa tahun ini mulai Mbah mulai berternak ayam lagi.

Meski kami memiliki banyak ayam kampung, namun Mbah sangat jarang menyembelih ayam-ayamnya hanya sekedar untuk dijadikan lauk. Paling cuma beberapa butir telurnya saja yang diambil, dan sisanya segaja ditetaskan untuk memperbanyak keturunan. Mungkin Mbah adalah orang yang penyayang, meski menurut kebanyakan orang menilainya sebagai pribadi yang galak. Namun, bagi saya Mbah adalah orang memegang teguh sebuah prinsip.

Kenapa saya bisa mengatakan Mbah adalah orang yang penyayang. Tentu hal ini bukan karena saya adalah salah satu cucu kesayangannya. Namun, untuk perkara remeh saja, ia tidak mau melakukannya. Seperti menyembelih ayam-ayam ternaknya. Kebanyakan ayam yang sudah beranjak dewasa ia jual. Kalau pengen makan ayam, mending beli saja yang sudah matang, plus sudah ada sambal mentah plus lalapannya.

Entahlah, karena saking sayangnya dengan hewan-hewan ternaknya, hingga menyembelih dan memakan ayam ternaknya saja ia seakan tidak tega. Karena ayam-ayam itulah yang setiap saat ia beri makan. Dan di beberapa kesempatan saya disuruh membeli bekatul untuk persedian makan ayam-ayamnya.

Selain ayam, masih ada dua burung piaraan, dan kucing tentunya. Untuk dua burung piaraannya, semuanya memiliki sejarahnya masing-masing. Seekor burung kuter yang saya kira Mbah sudah mempercayakan segala perasaannya kepada burung tersebut. Karena pernah suatu hari, ketika burung kuternya tidak mau “manggung” ia pernah berucap kepada saya “Kuter e kok gak manggung, cobo kowe takok kabar podo sehat kabeh opo ora” saya pun hanya mengiyakan perintah dari Mbah saya tersebut.

Burung kuter itu pemberian almarhum Mbah buyut, sengaja diberikan kepada simbah, karena di samping perawatannya mudah, juga bisa digunakan sebagai “rungon-rungon” ketika “manggung”.

Selain burung kuter, ada burung jalak. Burung jalak itu saya beri nama Jali (Jalak Item) karena memang jalak itu berwarna hitam. Jalak itu didapat melalui drama penyelamatan yang heroik. Ketika itu, ada jalak yang terbang rendah, kemudian Ibu saya mampu menangkapnya. Dan oleh Pak Dhe dibelikan kandang dan jadilah sebagai piaraan. Awalnya Jalak itu mengalami luka pada kedua kakinya. Hingga saat ini masih terlihat jelas cacat di salah satu kakinya. Namun tak apa, karena di beberapa kesempatan ia seakan pamer dengan mengeluarkan suara merdunya. Jali sempat ingin dibeli tetangga, namun Mbah langsung menolak penawaran dari tetangga tersebut.

Dan, pernah juga ketika saya masih sibuk kerja, tiba-tiba orang rumah telpon. Karena saya sudah menyarankan agar menelpon saya dalam kondisi penting saja, karena untuk hal yang tidak penting lebih saya sarankan untuk mengirim pesan sms saja. Waktu saya angkat telpon, saya seperti menyiapkan psikologis saya untuk mendengarkan kabar buruk. Tapi ternyata, orang rumah menelpon saya karena makanan si Jali habis. Kemudian saya berpikir, “Sejak kapan urusan makanan si jali menjadi sesuatu yang urgent?”

Dan piaraan yang lain lagi adalah kucing kampung yang pagi-pagi sudah dikomplain oleh tetangga saya. Dulu saya sangat mewanti-wanti agar tidak memlihara kucing. Karena jujur saya agak-gimana- gitu sama kucing. Namun, ketika ada saudara simbah yang kebetulan pindah ke Jambi ikut anak-anaknya, entah kenapa kucing milik saudara simbah itu justru dititipkan dan menjadi bagian dari rumah Mbah. Jadilah rumah Mbah kehadiran anggota baru, yaitu seekor kucing, yang kini sudah kesekian kalinya beranak. Setiap kali beranak, kucing-kucing itu pasti dibuang, kalau tidak itu, tahu-tahu anak-anak kucing itu sudah tidak ada.

Saat ini kucing di rumah Mbah ada dua. Satu kucing sudah tua, yaitu kucing yang dulu dititipkan. Satu kucing merupakan kucing anak yang sudah kesekian kalinya. Dan anak kucing itulah yang menjadi satu-satunya kucing nakal. Kucing itu seakan menjadi seorang anak yang hobi jail dan iseng dengan anak tetangga lain. Karena kucing ini benar-benar suka iseng dengan piaraan tetangga. Seperti memangsa anak ayam tetangga seperti yang dikeluhkan oleh beberapa tetangga saya.

Saya pernah berusaha untuk menangkap dan memasukan ke dalam karung. Namun, kucing itu justru berontak, dan berusaha melawan, dan mempu menyelamatkan diri.

Ketika banyak tetangga yang mengeluhkan kenakalan kucing Mbah saya. Di saat seperti itulah kami juga tidak tahu harus berbuat apa. Karena kami juga turut pasrah ketika kucing nakal itu juga turut memangsa anak ayam milik juragannya sendiri, yaitu Mbah saya.

Dan mbah saya pun juga mengadakan semacam sayembara. Mbah juga jengkel dengan perilaku kucing miliknya. Siapa pun yang jengkel silakan diperkenankan untuk menghakimi kucing tersebut. Meski berkata begitu, siapa yang tahu isi hati Mbah. Tega kah Mbah melakukan penghakiman dengan kucing piaraannya tersebut.

Entah lah, karena yang jelas, hanya menyembelih ayam-ayam piaraannya untuk dijadikan lauk saja, ia seperti tidak tega.
Read more ...

Sabtu, 14 Januari 2017

Sepatu Futsal

Sepatu futsal bekas Inug

Sepatu. Saya adalah orang yang bisa dikatakan tidak melek fesyen. Saya juga tidak fanatik terhadap suatu brand atau merk tertentu. Apa yang menurut saya nyaman, itu sudah lebih dari cukup. Termasuk dalam hal memilih sepatu.

Saat ini saya memiliki 5 pasang sepatu; tiga pasang sepatu kets, satu pasang sepatu pantofel, dan satu pasang sepatu futsal.

Untuk sepatu futsal, sebenernya saya memiliki dua pasang sepatu. Sepasang sepatu saya taruh di kosan, karena waktu kuliah saya aktif bermain futsal. Dan sepasang lagi di rumah, karena terkadang ketika akhir pekan biasanya kawan-kawan di rumah akan merayakan malam minggu di lapangan futsal. Iya, kami jomblo semua, jadi malam minggu kami bukan penuh cinta, tapi penuh keringet. Puas?

Sepasang sepatu futsal saya beli dari inug, teman kuliah saya. Diduga dia menjual sepatu futsalnya dikarenakan dalam beberapa pertandingan dia tidak bisa mencetak pundi-pundi goal. Padahal saya sering memberi umpan cantik pada dirinya. Tapi, goal juga tak tercipta. Bahkan ia kami juluki sebagai torres-nya psikologi. Karena saat itu, torres yang memutuskan hijrah ke chelsea, kesulitan untuk menemukan permainan.

Proses negosiasinya pun terbilang unik. Karena kami saling tawar harga di twitter. Setelah itu, prosesi jual-beli atau bahasa kekiniannya COD-anya kami lakukan di lapangan futsal tempat biasa kami latihan. Dan ketika sepatu sudah sah jadi milik saya. Sepatu itu seperti menemukan juragan yang tepat. Terbukti sudah, beberapa goal saya ciptakan dengan sepatu bekas dari inug itu. Padahal saya bukan seorang pemain depan. Saya lebih menikmati berada di posisi belakang. Karena ketika berada di posisi itu, saya lebih leluasa untuk melihat lebar lapangan. Dan dengan sedikit mengatur tempo sambil mencari celah.

Memandang sepatu futsal yang kini sudah penuh debu itu. Saya jadi teringat ketika jaman masih kuliah. Yaitu jaman ketika lemak-lemak belum menggelambir di seluruh badan, dan sebagian terpusat di wilayah perut. Jauh sebelum berat badan yang hampir 75kg ini begitu susah untuk diajak berlari mengejar bola.

Kalau dulu saya mampu bermain 2 jam penuh tanpa diganti saat latihan. Dan 1 jam penuh saat sparing dengan tim lain. Karena bermain latihan sendiri dan berlatih tanding akan jauh berbeda.

Berlatih tanding dengan tim lain, selain menguras energi, juga sangat menguras emosi. Sedangkan saat latihan bersama, kami bermain lebih rileks.

Dan kalau dulu berolahraga ada salah satu cara untuk menjaga kebugaran tubuh. Bahkan ada semacam doktrin untuk kawan-kawan saya, "Karena PES dan Futsal adalah harga diri, kalah rapopo sik penting sombong"

Kini, semua itu sudah berubah. Olahraga bagi kami, adalah semacam agenda untuk menyiksa diri.
Read more ...

Rabu, 04 Januari 2017

Paket Harbolnas

empat buku paket harbolnas dari mojok store

Bahkan, saya sempat mengira bahwa harbolnas adalah hari bola nasional. Dan baru ngeh, ketika saya sedang berselancar di ruang maya.

Ternyata, harbolnas adalah hari belanja online nasional, yang diperingati setiap tanggal 12 Desember. Betapa kuper-nya saya, hal seremeh ini saja saya tidak up to date.

Harbolnas biasanya dirayakan dengan memberikan diskon besar-besaran pada setiap online shop. Dan melalui laman fesbuk saya, mojok store, salah satu lini bisnis dari EA Media Syndicate, juga turut memeriahkan harbolnas dengan diskon lebih dari 70%. Saya pun tertarik untuk membeli buku paket promo harbolnas dari mojok store itu.

Dalam paket promo tersebut, setidaknya ada 4 buah judul buku yang dijual seharga Rp 96.000. Itu sudah termasuk biaya ongkos kirim ke Boyolali.

Setelah saya memesan via wasap, saya segera mentransfer mahar yang harus saya bayar. Setelah itu, saya tinggal menunggu buku itu datang diantar oleh jasa pengiriman barang ke kantor saya. Karena saya mencantumkan alamat kantor sebagai tujuan pengiriman.

Hampir dua minggu paketan saya tak kunjung datang. Beberapa kali saya menanyakan pada penjaga pos security, untuk menanyakan apakah ada paketan untuk saya atau tidak.

Karena paketan tak kunjung datang, saya segera mengontak pihak mojok store, baik melalui email maupun pesan wasap, untuk meminta nomor resinya. Karena sedang cuti natal dan tahun baru, wasap maupun email saya tidak segera dibalas.

Hari senin kemarin, dari pihak mojok store merespon wasap saya. Dan saya diminta untuk sedikit bersabar lagi, dan dari mojok store juga akan memastikan terlebih dahulu. Jika ada kekeliruan, dari pihak mojok store akan segera menyusulkan lagi paket pesanan saya. Selain itu, pihak mojok store juga meminta maaf karena beberapa hari lalu tidak fast respon terhadap keluhan saya.

Sore tadi, paketan yang saya tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kemudian saya buka isinya, untuk sekedar memastikan bahwa isinya sesuai dengan yang saya pesan.

Ada 4 buah buku sesuai pesanan saya. Buku tersebut adalah; "Dari twitwar ke twitwar" karya salah satu penulis tirto.id, yaitu Arman Dhani. "Kesentrum Cinta" karya Sigit Susanto. "Tamasya Bola" karya Darmanto Simapea. Dan "Melawat ke Timur" karya Kardono Setyorakhmadi. Semuanya terbitan dari buku mojok.

Adanya buku-buku tersebut, setidaknya saya yang sedang membangkitkan lagi gairah membaca, sudah tahu apa yang akan saya lakukan ketika libur akhir pekan nanti.
Read more ...

Hujan, Sepatu dan Tentang Kedewasaan

Anak : Ayah, ada plastik?
Ayah: Buat apa, adek?
Anak: Di luar sedang hujan, buat tempat sepatu.
Ayah : Nanti adek dianter pakai mobil saja, enggak usah bawa plastik.
Anak: aku mau bawa plastik, nanti sepatu adek basah! *dengan nada sedikit merengek
Ayah : lha adek kan punya sepatu dua.
Anak : Adek pengennya pakai sepatu yang ini terus
.

Percakapan di pagi hari yang gerimis antara ayah dan anaknya yang masih kelas satu SD. Sebagai anak kecil, tentu ia memiliki benda-benda favorit, termasuk sepatu. Ngomong-ngomong soal sepatu favorit, adik keponakan saya, pernah mogok sekolah karena sepatu kesayangannya masih basah. Dan tidak mau memakai sepatu yang lain. Bagi saya, hal itu masih wajar, namanya juga masih anak-anak.

Tokoh kita, si anak ini, sebelumnya memiliki pengalaman kehujanan ketika dijemput ayahnya menggunakan sepeda motor. Sepertinya ia mampu belajar dari pengalaman. Maka, ketika pagi hari itu hujan, ia meminta plastik pada ayahnya. Karena ia tidak ingin sepatu kesukaannya basah, dan tentu hal itu akan membuatnya tidak bisa ia pakai lagi untuk sekolah.

Dalam situasi yang berbeda. Pagi tadi, hujan masih belum reda dari semalam. Saya selalu meyakini, bahwa hujan tidak pernah salah, ia hanya menjalankan syariatNya. Maka saya berangkat kerja dengan jas hujan serta sepatu saya masukan ke dalam jok motor kesayangan saya, si coopy. Dan saya berangkat kerja dengan sedikit menggigil oleh dinginnya pagi, di bawah rintikan hujan. Karena sekali lagi, hujan tidak pernah salah, apalagi dijadikan alasan untuk menoleransi kemalasan, kemudian mbolos kerja.

Ketika saya sampai di kantor, saya melihat kantor masih sepi. Kemudian satu persatu karyawan mulai berdatangan dengan membawa plastik berisi sepatu. Ada yang pergi ke toilet dulu untuk membasuh kaki, kemudian menggunakan sepatu. Ada juga yang menuju ke kantin untuk melepas jas hujan, sekaligus memakai sepatu yang ia taruh di plastik.

Namun, ada juga spesies lain yang dengan santai masuk ke tempat kerja dengan menggunakan sandal. Sudah menggunakan sandal, datang terlambat seolah tanpa beban. Ketika saya bertanya "Mengapa terlambat dan kenapa juga tidak memakai sepatu?" Jawab mereka, "Karena hujan" dan di saat seperti itu terkadang saya ingin marah. Biasanya saya hanya bertanya "Kamu punya sepatu berapa? Kalau cuma punya satu sepatu, terus biar tidak basah caranya gimana?" Biasanya mereka akan menjawab dengan membawa plastik dan sebagainya. Dan saat seperti saya akan melontarkan kalimat sedikit sinis, "Itulah bedanya orang yang mau berpikir sama yang tidak"

Saya mencoba untuk menghindari yang namanya amarah. Karena saya tahu betul, yang saya hadapi adalah orang yang lebih tua dari saya. Sengaja saya menggunakan istilah "tua" dan bukan "dewasa". Karena "tua" dan "dewasa" adalah dua istilah yang berbeda.

Istilah tua lebih merujuk umur secara harfiah atau fisik. Sedangkan dewasa merujuk pada perkembangan secara mental. Maka dalam psikologi perkembangan ada istilah tumbuh - kembang. Tumbuh itu merujuk pada fisik, namun (per)kembang(an) lebih merujuk ke mental atau kedewasaan. *mohon dikoreksi jika saya keliru.

Kemudian, bagaimana bisa seorang anak kelas satu SD saja tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan, kemudian ada seseorang yang jauh lebih tua (tua ya, bukan dewasa) tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan sepatunya ketika hujan. Setiap orang memiliki cara untuk melakukan defence mechanism. Salah satunya dengan cara berargumentasi, meski pada kenyataannya lebih mengarah pada alasan. Kemudian, dengan cara menjadikan hujan sebagai alasan. Padahal hujan akan tetap turun kalau memang sudah saatnya turun, dan ia tidak peduli banyak orang yang tidak menghendakinya.
Tingkat kedewasaan seseorang tidak selalu berbanding lurus dengan umur seseorang. 

Di pertemanan fesbuk, saya berteman dengan seseorang yang jauh lebih muda dengan saya. Masih kelas tiga SMA, namun nampak jauh lebih dewasa dari usianya. Hal tersebut nampak dari tulisan-tulisan yang diposting di laman fesbuk miliknya. Ia juga seorang aktivis media sosial, yang terlibat dalam sebuah grup yang membongkar berita-berita hoax. Sebuah grup yang muncul karena keprihatinan tentang banyaknya berita hoax yang beredar di media sosial.

Jadi sekali lagi, menjadi tua itu adalah sebuah kepastian, menjadi dewasa itu adalah pilihan.


*Ketika menulis catatan ini, saya berusaha untuk melepas "kaca mata" HRD saya. Hal itu saya lakukan untuk mencoba melihat dari sudut pandang lain. Permasalahan kedisiplinan karyawan adalah tanggung jawab saya, selaku HRD. Jika ditanya siapa yang paling bersalah. Tentu saya adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap hal itu. Namun, kali ini saya mencoba menulis kejadian tadi pagi dengan sudut pandang yang berbeda. Ya, meskipun saya gagal dan terkesan menghakimi.
Read more ...

Cinta

Cinta. Cinta seperti halnya dengan benih yang baru tumbuh. Ia akan hidup, tumbuh dan berakar kuat karena kita sirami dan rawat dengan baik benih yang baru tumbuh itu. Dan benih yang baru tumbuh itu bisa jadi justru mati, karena kita membiarkan begitu saja, atau bahkan malah mencabutnya hingga mati.

Mungkin, apa yang kebanyakan orang menyebutnya dengan cinta pada pandangan pertama. Itu seperti halnya dengan tanaman yang baru tumbuh itu. 

Ketika kita melihat senyum dan parasnya, kemudian kita merasa jatuh hati kepada seseorang. Kemudian cinta yang seperti benih yang baru tumbuh itu, kita rawat dengan baik hingga tumbuh dan berakar kuat. Jadilah itu cinta yang mengantarkan kepada apa yang kita sebut dengan jodoh.

Kemudian bagaimana merawat cinta yang baru tumbuh itu. Menurut Panjul, teman yang menawarkan dirinya sebagai konsultan asmara saya. Karena dirinya merasa pantas, berbekal pengalaman masa lalunya sebagai play boy, dan kini sudah insyaf, serta sedang menperbaiki diri untuk taaruf-an. Menurut Panjul, cinta bisa kita rawat dengan segala bentuk perhatian kita kepada seseorang dengan segala perlakuan romantisme lainnya.

Dan ketika Panjul sudah ngomong soal cinta, saya hanya bisa mangguk-mangguk saja. Maklum, saya masih kalah jam terbang.

Saya percaya bahwa cinta bagian dari emosi. Dan logika lah yang merawatnya hingga tumbuh dan berakar kuat. Ketika kita berjumpa dengan seseorang dan tumbuh benih-benih asmara. Di saat seperti itulah logika kita mulai mengambil alih. 

Apakah kita akan merawat benih-benih cinta itu. Atau justru membiarkan begitu saja, atau justru secara sadar melakukan segala upaya untuk mencabut benih-benih asmara tersebut.

Sebagai manusia kita punya norma dan etika. Kita punya agama, yang di dalamnya juga ada aturan yang mengikat. Kemudian kita bertemu dengan seseorang yang kebetulan sudah menjadi "milik" orang lain. Kemudian tertarik dengan parasnya hingga tumbuh benih-benih asmara. Maka di saat seperti itu, tentu dengan segala upaya kita akan membiarkan atau bahkan mencabut agar tidak menjadi besar benih-benih asmara itu, apalagi hingga terus tumbuh dan berakar kuat.

Singkatnya, mencintai dan dicintai memang sudah menjadi fitrah manusia. Cinta itu bisa tumbuh, karena kita berupaya menjadikan cinta itu semakin tumbuh dan berakar kuat. Dan cinta itu akan mati dengan sendirinya karena kita berupaya untuk membiarkan dan mencabut benih-benih asmara yang baru tumbuh itu.
Selain itu, ada juga yang karena sering melakukan aktifitas bersama baru kemudian tumbuh benih-benih asmara. Istilah jawanya, wit ing tresno jalaran soko kulino. Dalam hal itu, cinta akan dapat dengan mudah tumbuh, karena sudah saling mengerti satu sama lain.

Meskipun terkesan men-dewa-kan logika. Saya juga menyadari, bahwa ada juga tanaman yang ketika dibiarkan saja ia tetap tumbuh subur. Bahkan berkali-kali mencoba untuk mencabut benih-benih yang mulai tumbun itu, namun lagi-lagi benih itu tetap tumbuh lagi dan lagi. 

Berkali-kali logika terus mengelak, namun benih-benih asmara itu tetap tumbuh. Seperti apa yang aku rasakan terhadap kamu. Iya, kamu.  . . .

Dan sepertinya saya sedang overdosis kopi, hingga nulis kaya gini.

Okey abaikan saja.
Read more ...

Kamar Sunyi

Adalah dia yang kini sedang menjalani hidup dalam sunyi. Karena kata sendiri masih terlalu merujuk pada sifat duniawi.

Kini dia sudah bekerja di sebuah perusahaan swasta. Sebuah pekerjaan yang tak pernah terbayangkan di masa kecilnya. Meski ia mampu untuk menyewa sebuah rumah kecil. Namun, ia enggan melakukan hal itu.

Pernah saya bertanya, kenapa ia tidak menyewa rumah saja, dengan penghasilannya saat ini, saya yakin ia masih bisa menyisikan penghasilannya untuk ditabung setiap bulannya hanya sekedar untuk membayar uang sewa rumah. Alasannya pun sangat sederhana, "aku tidak ingin menghabiskan banyak waktuku hanya sekedar beres-beres rumah, karena rumah akan terus menuntut kehadiranku agar terus terawat dan menghadirkan energi positif"

Ia lebih memilih untuk menyewa kamar kecil. Atau lebih dikenal dengan sebutan kamar kos. Banyak orang yang bertanya-tanya kenapa ia menyewa kamar kos yang sangat sederhana itu. Dengan luas yang tidak begitu besar.

Ketika saya bermain ke tempat kosnya, saya sempat bertanya, kenapa ia justru menyewa kamar kos yang sederhana itu? Tidak kah dia lebih baik menyewa kamar kos yang sedikit lebih luas dan lebih bagus dari kamar itu.

Ia justru menatap saya, kemudian sambil tersenyum ia menjawab pertanyaan saya, "Karena kamar ini, yang saat ini sedang aku butuhkan" jawabnya. "Kamar ini memang kecil, karena itu jelas tidak akan menyita banyak waktuku hanya sekedar untuk membersihkan ruangan yang luasnya tak seberapa ini" lanjutnya

Memang benar, di dalam kamar kosnya itu, hanya terdapat hal-hal yang ia butuhkan saja. Seperti lemari pakaian, meja kecil tempat ia menaruh laptop dan buku-buku bacaannya, serta sebuah dispenser untuk menaruh galon air minum.

Sebelum saya bertanya lebih lanjut, apa yang mendasarinya dalam memilih kamar kos itu. Dia justru menjelaskan pada saya, bahwa sebelumnya ia sudah berkeliling mencari kamar kos. Setelah mengumpulkan beberapa referensi kamar kos. Ia menyerahkan kepada hatinya dalam memilih kamar kos mana yang akan ia gunakan melewati malam. Dan hatinya lah yang memfatwakan pada dirinya untuk memilih kamar kos itu. Baginya, apa yang membuat hatinya nyaman, di situlah tempat terbaik bagi dirinya untuk mengistirahatkan badan.

"Apa masjid di seberang tempat kamu menyewa kamar itu juga menjadi pertimbangan kamu?" Tanya saya, mencoba menyela penjelasan darinya. "Iya, karena suara adzan dari masjid itulah yang setiap hari mengingatkanku kepada Sang Pencipta"

Saya semakin paham, kenapa ia melibatkan hatinya ketika ia memilih sebuah kamar kos yang sangat sederhana itu. Artinya, ia menyakini bahwa adanya bangunan masjid tepat di seberang jalan rumah kosnya adalah tanda bahwa dirinya berada di lingkungan yang tepat. Sesederhana itu, katanya.

Saya tahu betul dengan dia. Meski dia adalah seorang muslim. Ia justru pernah mengirim pesan wasap berupa link sebuah artikel. Waktu saya baca, artikel tersebut berisi tentang masyarakat Jepang yang menerapkan gaya hidup minimalis. Sebuah gaya hidup yang berasal dari ajaran estetika Buddhisme Zen. Dan setelah membaca itu, saya langsung membalas pesan wasapnya dengan bertanya, "Jadi, selama ini kamu sedang menjalani gaya hidup minimalis?" Tanyaku.

"May be" jawabnya dengan singkat dengan di akhiri emoticon senyum. Kemudian ia menjelaskan. Bisa jadi dia justru baru menyadari bahwa apa yang sedang ia jalani adalah sebuah gaya hidup minimalis. Namun, dari kaca mata agama yang ia anut, dalam hal ini adalah islam. Islam juga mengajarkan bagaimana kita hidup. Seperti makan lah sebelum lapar dan berhenti  lah makan sebelum kenyang. Menurutnya ajaran itu, bukan hanya bisa diterapkan dalam urusan perut saja. Namun juga dalam hal apapun. Karena menurutnya sudah semestinya untuk hidup itu secukupnya saja. Tidak boleh berlebihan. Karena segala sesuatu yang berlebihan itu jelas tidak baik.

"Bagaimana caranya agar merasa cukup?" Tanyaku kepadanya. Kemudian dia menjawabnya bahwa dengan mensyukuri apa yang kita punyai lah kita akan merasa cukup. Hidup sesuai apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Karena keinginan adalah nafsu yang tak pernah bisa puas untuk dituruti. Dan setelah itu, kita akan tahu apa yang namanya bahagia.

Siapakah "dia" yang saya maksud? Yang jelas bukan panjul, karena panjul masih kesulitan untuk keluar dari lingkaran hedonisme.

Read more ...

Om Toilet Om

Jam kerja saya memang sedikit "wagu" untuk seorang staff HR. Karena harus meng-cover satu shift, jam kerja saya juga harus ikut shift. Meski awalnya ragu, namun saya sangat menikmati bekerja secara shift.

Bekerja secara shift, membuat saya memiliki banyak waktu longgar. Seperti tidur siang misalnya. Karena sangat tidak memungkinkan ada orang kantoran yang masih memiliki waktu luang untuk sekedar tidur siang. Okelah, ada yang bisa memanfaatkan waktu istirahat setelah jam makan siang. Tapi, yakin bisa tidur dengan nyenyak seperti saat saya tidur siang di atas kasur empuk dengan semilir angin dari kipas angin. Saya rasa tidak.

Jadi, bisa dibilang saya merasa beruntung bekerja secara shift.

Ketika masuk shift pagi, ada sebuah momen di saat saya tidak boleh diganggu gugat. Karena berangkat pagi-pagi, biasanya saya sekitar pukul 5 pagi sudah "mancal" si coopy, motor matic kesayangan saya. Jadi, aktivitas sakral, yaitu boker di pagi hari, mau tidak mau, harus saya tunaikan di toilet kantor. Mengingat jam biologis saya sekitar pukul 6 pagi. Dan di saat di toilet itulah, saya akan jadi orang yang paling dicari hanya sekedar meminta tanda tangan.

Saya memiliki kebiasaan berlama-lama di toilet untuk sekedar buang hajat. Hal itu dikarenakan saya terlalu khusyuk dalam melakukan aktifitas boker. Terkadang juga, saya justru membawa handphone untuk melakukan aktivitas lainnya. Aktivitas apa? Yap, baca berita di media sosial.

Bagi saya toilet adalah salah satu ruang sunyi yang menyimpan banyak ketenangan. Saking tenangnya, tetesan air kran yang menetes pun bisa saya rasakan.

Di sebuah video di youtube, ada musisi jazz yang pernah mengatakan, bahwa hal yang paling disuka adalah ketika di dalam toilet. Di toilet ia membawa gitar kecil sambil rokokan, kemudian membuat lagu. Dan ketika di dalam toilet, ia tidak boleh diganggu. Dan fyi aja, beberapa tulisan saya, saya buat ketika saya sedang di dalam toilet sambil boker. Jadi wajar kalau tulisan saya sedikit bau pesing, hahaha

Seperti yang saya katakan tadi, di toilet itu menyimpan ketenangan. Di saat seperti itulah segala endapan-endapan dalam pikiran kita justru muncul ketika sedang khusyuk melakukan aktivitas boker. Bahkan, juga mampu menghasilkan inspirasi. Dan momen-momen tertentu, saya justru merenung ketika berada di dalam toilet. Saya merenungi tentang diri saya. Dan tentang hal-hal yang saya rasakan.

Selain itu, toilet juga bisa kita jadikan dasar dalam menilai sesuatu. Kebersihan, misalnya. Pak Gik, Guru bahasa Indonesia SMP saya pernah berkata, "jika ingin melihat kebersihan suatu rumah, gedung atau sekolahan, yang harus pertama kali dilihat adalah toiletnya. Jika toiletnya bersih, bisa dipastikan gedung, rumah atau bangunan tersebut selalu menjaga kebersihan"

Termasuk dalam memilih kos, saya selalu menyempatkan untuk melihat toiletnya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk ngekos di sana.

Namun, segala hal tentang toilet dirusak oleh orang-orang yang tidak manusiawi. Kejadian di pulomas, di mana satu keluarga berjumlah 11 orang di sekap di dalam toilet yang berukuran sekitar 1,5 x 1,5 meter. Dari 11 korban, hanya 5 korban yang selamat, sedangkan yang lainnya meninggal karena lemas kekurangan oksigen. Betapa tidak manusiawinya si pelaku. Toilet yang menjadi ruang-ruang sunyi yang menyimpan ketenangan justru digunakan untuk membunuh manusia. Sungguh biadab! Ketika boker dengan sedikit ngeden saja sudah membuat saya keluar keringat dingin, bagaimana rasanya harus bertahan dalam ruangan sempit yang penuh sesak dengan orang itu. Semoga korban perampokan di pulomas diterima di sisiNya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran. Serta korban yang selamat segera diberi kesehatan, dan segera pulih kondisi psikologisnya. Karena bagaimana pun juga, kejadian itu akan menimbulkan trauma yang mendalam.

Read more ...

Teman Fesbuk

Semenjak dua tahun lalu, saya memutuskan hanya menggunakan jejaring sosial fesbuk. Semenjak itu pula saya tidak aktif lagi di twitter, path, maupun media sosial yang lagi ngehitz, seperti instagram. Di media sosial youtube saya lebih sebagai penikmat saja. Sedangkan untuk fitur chatting wasap dan bbm masih menjadi pilihan utama.

Saya berusaha untuk berteman dari semua kalangan. Tidak harus kenal satu sama lain.  Bagi saya, berteman itu artinya saya bisa mengikuti status atau postingannya, tanpa perlu dikonfirmasi pertemanannya. Kalau dalam bahasa twitternya, saya tidak butuh folbek, atau sampai ngemis minta di-folbek. Karena saya bisa belajar dari postingan-postingan yang positif dari idola-idola saya.

Di fesbuk, saya berkuasa atas apa saja yang beredar di laman dinding fesbuk saya. Artinya, saya berkuasa atas apa-apa yang ada di fesbuk milik saya. Termasuk dalam memilih teman fesbuk.

Bahkan, saya pernah memblokir teman fesbuk saya karena ia sering membagikan sebuah link dengan umpatan, dan ketika saya baca artikel di link tersebut. Ternyata isi artikel dan umpatannya tidak sesuai dengan isi artikel. Atau dengan kata lain, ia tidak mengendalikan diri, atau bersabar untuk membaca hingga tuntas terlebih dahulu sebelum berkomentar. Dan orang seperti itu, cukup berteman di dunia nyata saja. Hal itu saya lakukan untuk menjaga diri saya sendiri agar tetap dalam kondisi waras. Beberapa lagi saya blokir karena terlalu sering klik "like", "Share" atau ketik "amin" agar masuk surga. *Surgane mbahne po piye.

Beberapa hari yang lalu, saya dinasehati oleh teman lama saya, gara-garanya adalah teman fesbuk. Hal itu bermula ketika teman saya mengetahui bahwa di fesbuk saya menjalin pertemanan dengan seseorang yang ia anggap "bahaya".

Bahaya karena menurut teman saya, jika dilihat dari postingan di fesbuk, lebih mengarah ke liberal, serta penganut syiah. Selain itu juga, orang tersebut adalah orang yang berada di barisan pro Ahok. Dan baru-baru ini mencetak dan menerbitkan sendiri bukunya, buku tentang Ahok. Karena penerbitnya kemungkinan besar tidak berani mengambil risiko jika harus menerbitkan buku tentang seseorang yang sedang tersandung kasus dugaan penistaan agama.

Meski teman saya tidak bertanya, kenapa saya berteman dengan orang itu. Saya merasa harus menjelaskan kenapa saya berteman dengan orang yang dianggap "bahaya" itu di pertemanan fesbuk.

Padahal, di fesbuk saya berteman dengan dua kubu yang sedang berselisih pendapat. Karena perdebatan di media sosial, akan bermuara pada perdebatan antara dua kubu, baik yang pro dan kontra. Hal tersebut saya lakukan karena saya sedang belajar untuk bersikap adil, yaitu dengan mencoba melihat dari dua sudut pandang yang berbeda.

Melihat hanya dari satu sudut pandang, hanya akan membuat kita lebih mudah untuk menghakimi. Dan menurut saya itu tidak adil. Bukankah kata Mbah Pram kita harus adil sejak dari pikiran?

Mengamati perdebatan di media sosial seperti halnya melihat pertandingan futsal. Cara termudah bagaimana memahami dua kubu saling menyerang dan bertahan, adalah dengan menjadi penonton, dan bukan pemain. Dan saya mencoba menempatkan diri sebagai penonton.

Namun demikian, saya tahu betul dengan teman yang mengingatkan saya itu. Niat dia baik. Dalam hal ilmu agama, saya juga masih seperti "remukan roti". Artinya saya masih perlu belajar banyak. Dan mungkin, itu juga menjadi kekhawatiran teman saya, jika saya belajar pada orang yang salah.

Suwun lho wes dielingke babagan kabecikan. *salim

Read more ...

Senin, 12 Desember 2016

Meracik Teh Sendiri


Setelah kemarin saya seperti tidak benar-benar menikmati libur. Pagi ini, meski semalam saya baru benar-benar tertidur pulas sekitar jam 2 pagi. Namun entah kenapa saya masih teges untuk bangun pagi, dan tidak klipuk lagi sehabis sholat shubuh.

Bahkan, setelah beberes rumah, saya seperti sedang memecahkan rekor pribadi. Yaitu dengan melakukan ritual mandi pagi, meski hari ini adalah hari libur. Bagi saya, ini adalah sebuah pencapaian. 

Karena bagi saya, pencapaian tidak harus dengan bisa menulis status fesbuk sambil berenang atau salto.

Pagi yang dingin dengan langit yang sedikit mendung ini. Membuat saya ingin membuat teh panas untuk menghangatkan badan yang mulai kedinginan. Dan teh pagi ini saya meraciknya sendiri.

Sebagai orang yang sederhana lagi pas-pasan. Saya bukanlah sejenis manusia yang hobi membeli kemewahan dengan nongkrong di kafe. Kemudian, menikmati secangkir kopi yang harganya tidak masuk kriteria murah bagi kantong saya, yaitu 50rb untuk secangkir kopi. 

Saya hanyalah buruh di balik meja, jadi sudah cukup bagi saya nongkrong di tempat-tempat wedangan. Bagi saya, 50rb itu bisa buat beli kopi kapal api beserta gula, dan itu cukup buat ngopi selama satu bulan.

Meski kini kasta wedangan sedikit terangkat dengan hadirnya kafe-kafe dengan konsep wedangan modern. Namun, ada hal yang berbeda dari tempat-tempat wedangan konvensional. Yang hadir di wedangan konvensional adalah, mereka hadir tanpa sekat. Situasi keakraban bisa terjadi, hanya karena berbagi korek api, kemudian ududan atau rokokan.

Sebagai cah wedangan yang kaffah, saya bahkan sudah memiliki tempat wedangan favorit. Meski tangan dingin Mas hik (sebutan bagi si penjual di angkringan langganan saya) dalam membuat indomie tidak senikmat mamang-mamang burjo, namun dalam hal meracik teh, ia sudah di atas rata-rata. 

Cita rasa teh lah yang membedakan antara tempat wedangan satu dengan tempat wedangan yang lain. Dalam hal ini, tempat wedangan yang asli dari mBayat dan Cawas (keduanya merupakan nama daerah di Klaten, yang konon sebagai tempat asal muasal angkringan) belum ada yang mengalahkan.

Hampir di tempat-tempat wedangan di daerah Cawas, menyajikan teh dengan menggunakan poci yang terbuat dari tanah liat, dengan gula batu sebagai pemanis. Sebagai salah satu pionir wedangan, tempat-tempat wedangan di Cawas seperti tahu betul bagaimana menyajikan teh yang nikmat.

Saya bahkan pernah melakukan research sederhana (halah, nggaya tenan nganggo istilah research, hehehe). Yaitu dengan melakukan perjalanan untuk menikmati teh di setiap tempat-tempat wedangan. Dan hasilnya, setiap tempat wedangan memiliki cita rasa yang khas pada teh yang disajikan. 

Dan tau kah Anda, bahwa dalam menemukan resep teh yang pas, seorang penjual juga melakukan research, yaitu dengan melakukan berbagai percobaan. Seperti halnya seorang barista, di tempat wedangan juga dilakukan percobaan-percobaan dengan mencampur beberapa varian teh dari berbagai merk, hingga menemukan cita rasa yang sesuai. Setelah sesuai menurut penjual, baru ia meminta pelanggan untuk menjajalnya, serta meminta masukan dari pelanggannya.

Menurut Mas hik, setiap varian atau merk teh, memiliki ciri khas masing-masing, ada yang warnanya pekat, tapi rasanya kurang. Ada yang warnanya bening, tapi rasanya kuat. Ada juga yang rasanya ada sepet-sepetnya. Dan ada juga yang menghasilkan aroma yang wangi. Maka dari itu, untuk mendapatkan rasa yang sesuai, maka perlu di-blend dan menghasilkan cita rasa baru yang nikmat.

Dalam sebuah kesempatan, sebagai langganan saya pernah diminta untuk menikmati teh hasil racikan terbaru. "Gimana, Pak bro, masuk nggak rasane?" Begitu kata Mas hik, ketika meminta pendapat mengenai hasil racikan barunya.

Ketika di rumah, saya yang menganut paham, simpel. Biasanya hanya menyediakan teh celup gopek atau tong tji, yang akan saya buat ketika perut saya sudah mulai kembung ketika terlalu banyak ngopi.

Namun, untuk pagi ini. Adalah teh yang saya racik sendiri. Saya mencampur beberapa varian teh, seperti teh gopek, gardu, dan pecut. Dan semua teh tersebut saya campur dengan perbandingan 1:1:1. Atau masing-masing teh saya jimpit kira-kira dengan takaran sama, kemudian saya taruh ke dalam gelas yang sudah saya beri sedikit gula. Kemudian saya seduh dengan air panas yang baru saja mendidih. Hasilnya, saya gagal menciptakan cita rasa ala tempat wedangan. 

Meski tidak senikmat di tempat wedangan langganan saya. Tapi setidaknya rasa random yang dihasilkan teh buatan saya pagi ini. Mampu menyadarkan saya, bahkan membuat teh ternyata juga butuh sentuhan dari tangan seorang feminis. 

Eh tapi kalau kamu ndak bisa bikin teh juga ndak apa-apa. Karena yang saya cari itu pendamping hidup, bukan partner bakul wedang.
Read more ...

Kamis, 08 Desember 2016

Belum Rejeki Saya Untuk Bekerja di Sana

Ruang tunggu BPJS Ketenagakerjaan Klaten

Kalau jodoh pasti bertemu. Kalau bukan jodoh, ya setidaknya masih bisa bertamu. Hal itulah yang kira-kira saya rasakan. Namun, yang saya maksud "bertemu" dan "bertamu" di sini bukan soal seseorang yang saya cintai kemudian luput. Bukan! Namun soal rejeki.

Kemarin siang, bersama rekan kerja saya. Untuk kesekian kalinya saya harus mengunjungi BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Agenda saya ke kantor BPJS Ketenagakerjaan dalam rangka melengkapi kekurangan berkas klaim kecelakaan kerja.

Perlu kalian ketahui, bahwa saya dulu pernah melamar, bahkan sempat mengikuti tahap seleksi atau rekruitmen karyawan untuk bagian SDM di kantor BPJS Ketenagakerjaan. Dan sepertinya memang bukan rejeki saya di sana. Karena dua kali mengikuti tahap seleksi dan dua kali pula saya harus menerima kenyataan, bahwa saya gagal dalam seleksi tahap 2, yaitu tes online.

Ada sesuatu yang lucu ketika saya mengikuti tahap seleksi, tes online. Tes pertama bisa saya kerjakan tanpa gangguan apapun, meski pada akhirnya saya gagal. Di tes online kali kedua. Ketika saya akan meksanakan tes online. Saya kesulitan untuk login. Dan di saat saya sudah sedikit frustrasi, saya baru menyadari bahwa saya melakukan kesalahan dalam memasukan nomer tes. 

Setelah saya sudah mempersiapkan diri untuk mengerjakan. Ada orang gila, yaitu orang yang benar-benar gila dalam arti yang sesungguhnya. Atau bahasa psikologinya, orang dengan gangguan kejiwaan. 

Orang gila tersebut langsung nyelonong masuk rumah. Dan saya kesulitan untuk mengusirnya. Saya pun segera mengusir dengan mengatakan bahwa saya akan pergi. Entah kenapa ia langsung keluar rumah. Dan dengan sigap pintu rumah langsung saya kunci, kemudian sedikit kemrungsung saya mengerjakan tes online tersebut.

Meski pada akhirnya saya tetap gagal untuk kedua kalinya. Saya hanya bisa berpikir positif saja, bahwa itu bukan rejeki saya. Mungkin saya masih diminta untuk terus belajar dan bekerja di tempat kerja saya saat ini.

Meskipun saya gagal dalam seleksi karyawan BPJS Ketenagakerjaan, bukan berarti juga saya harus menolak, jika harus berurusan dengan BPJS Ketenagakerjan. Karena BPJS Ketenagakerjaan itu penjamin sosial, bukan mantan atau seseorang yang telah melukai hati kita karena telah menolak kita. Bukan!

Semenjak saya dilimpahi tugas untuk mengurusi klaim jika terjadi kecelakaan kerja. Saya jadi sering berurusan dengan BPJS Ketenagakerjaan. Terkadang saya juga diminta oleh atasan saya untuk mengikuti segala kegiatan yang diadakan oleh BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Seperti yang sudah pernah saya tulis sebelumnya, ketika saya ikut nimbrung dalam acara talk show sinergi antar instansi dalam rangka peningkatan pelayanan BPJS Ketegakerjaan. Meski saya di sana cuma ikut nimbrung dan nunut ngopi.

Terakhir, saya juga diminta untuk mewakili perusahaan dalam acara gathering yang diadakan di Kaliurang, dan juga diprakarsai oleh BPJS Ketenagakerjaan Klaten. Dan pernah juga saya tulis dalam blog pribadi saya; blogriki.com, dengan judul "Acara "hore" Bareng BPJS TK Klaten"
***

Sesampai di Kantor BPJS Klaten, saya langsung disambut seorang secuirity, kemudian saya menyampaikan maksud kedatangan saya, bahwa saya ingin bertemu dengan pegawai BPJS Ketenagakerjaan yang sebelumnya telah janjian dengan saya untuk bertemu.

Sambil menunggu saya melihat ruangan sekitar sambil celingak-celinguk, saya mbatin, "Belum rejeki saya bekerja di tempat ini"
Read more ...

Senin, 05 Desember 2016

Potong Rambut di Arfa Barbershop

sesaat setelah potong rambut di arfa barbershop
Bukan Sebuah Testimoni. . .


Melalui grup wasap yang saya ikuti, yaitu grup "Hip Hop '09" yang berisi begundal-begundal psikologi UNS angkatan 2009. Saya bertanya kepada mereka, untuk memberikan informasi tentang tukang cukur rambut atau barbershop yang ada paket potong rambut sekaligus keramas. Saya sedang membutuhkan fasilitas tersebut, karena saya baru saja selesai jagong di tempat teman kuliah. Selain itu, saya juga sedang tidak ingin merepotkan orang lain, dengan potong rambut di tempat pangkas rambut madura atau lainnya, itu artinya saya harus numpang mandi, setidaknya keramas di kos teman kuliah saya yang masih di solo.

Sebenarnya ada pilihan lain, yaitu di salon. Tapi saya bukanlah laki-laki metroseksual yang hobi pergi ke salon. Jadi, salon sudah saya black list.

Ditya, teman kuliah yang sering saya ceritakan dalam tulisan saya sebelumnya, yang merupakan CEO sebuah online shop @gildansoc, yang menjual produk impor berupa kaos polos, baik berkerah maupun tanpa kerah. Ia memberikan beberapa alternatif barbershop, salah satu diantaranya di dekat pasar nongko, Solo.

Ketika saya akan pergi ke sana. Saya baru menyadari bahwa di deket kampus psikologi Mesen (Psikologi UNS) juga ada barbershopBarbershop tersebut bernama "Arfa Barbershop" letaknya sebelah barat hotel Asia. Tak jauh dari panggung motor.

Kemudian saya memutuskan untuk potong rambut di sana saja. Karena saya lihat, tidak ada yang ngantri. Dan itu artinya, saya bisa segera di-treatment. Dan karena hal itulah kenapa saya memutuskan untuk potong rambut di sana. Selain itu, juga cepat, karena langsung dilayani, dan bisa langsung dikeramasi tentunya.

Baru datang, tanpa mengambil nomor antrian terlebih dahulu, saya langsung dipersilakan duduk di kursi treatment. Si mas-mas potong rambut langsung bertanya kepada saya, "Mau potong rambut model apa?" Saya yang buta terhadap model-model rambut kekinian hanya menjawab sekenanya saja "Di rapiin aja, Mas"

Ketika sedang mencukur rambut saya, ia nampak mencoba mencairkan suasana dengan mengajak saya ngobrol. Tak lama kemudian, kami justru terlibat salam sebuah obrolan, di saat si mas-mas potong rambut sedang fokus mencukur rambut saya. 

Ia ternyata asli dari Wonogiri. Setelah beberapa bulan bekerja di cabang Jogja, ia meminta untuk dipindahkan di cabang solo. Dalam hati, saya kenapa enggak milih jualan bakso atau mie ayam saja? Kan mie ayam-bakso wonogiri sudah terkenal seantero negeri.

Sebelum rambut saya dikeramasi, ia memastikan bahwa rambut saya sudah dipotong sesuai dengan keinginan saya sebagai pelanggan. Mungkin ini bagian dari SOP. Jadi, ya harus ya harus begitu.

Saya kemudian diminta untuk menuju ruang tempat keramas yang lokasinya tak jauh dari tempat cukur rambut. Dan mungkin ini kali pertama saya dikeramasin orang lain, setelah orangtua saya yang mengeramasi saya waktu masih bocah.

Dan di ruang keramas itulah, si mas-mas potong rambut seperti ngajak ribut. Karena kepala saya diunyel-unyel. Iya, saya tahu itu adalah bagian dari SOP. Tapi mbok ya yang ngeramasi jangan cowok, gitu bisa? Siapa tahu jodoh. *iki uopo meneh:-D

Selesai dikeramas, masih ada satu treatment lagi, yaitu pijat. Dan ini yang membuat saya kecewa dengan pelayanan di sana. Pijatnya cuma bentar banget, jadi jelas kurang lama, mengingat kondisi badan saya sedikit gregesi ini. Tanda-tanda badan saya sedang butuh asupan soto segeer mbok giyem dan jeruk panasnya.

Dan untuk segala treatmen yang dilakukan di arfa barbershop, dari cukur rambut, bonus air mineral, keramas, pijat, meski cuma sebentar, dan ruangan yang nyaman dan ber-ac. Saya kira, 20rb adalah mahar yang wajar atas semua itu.
Read more ...